Kitab Tuhfatussaniyah (syarah atau penjelasan dari kitab Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah) karya Syaikh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid adalah salah satu kitab terbaik untuk belajar ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) bagi pemula karena bahasanya yang sistematis dan jelas.
Di bab atau pelajaran pertama, pembahasan dimulai dengan Definisi Al-Kalam (تَعْرِيفُ الكَلَامِ), Karena dalam tata bahasa Arab, objek utama yang dibahas adalah “kalimat” atau ucapan yang bermakna.
Berikut adalah materi pelajaran pertama Kitab Tuhfatussaniyah secara ringkas dan mudah dipahami:
Definisi Al-Kalam (Kalimat Sempurna)
Dalam ilmu Nahwu, tidak semua ucapan bisa disebut Kalam. Sebuah ucapan baru sah disebut Kalam jika memenuhi 4 syarat mutlak berikut:
Kalam= Lafadz + Murakkab + Mufid + Wadhad’u
1. اللَّفْظُ (Al-Lafadz)
Artinya ucapan tersebut harus berupa suara yang mengandung sebagian huruf hijaiyah (dari Alif sampai Ya).
- Contoh: ِأَحْمَدُ (Ahmadu), كِتَابٌ (Kitabun).
- Bukan Lafadz: Isyarat tangan, tulisan di buku tanpa diucapkan, atau anggukan kepala. Meskipun paham maksudnya, itu bukan lafadz dalam Nahwu.
2. المُرَكَّبُ (Al-Murakkab)
Artinya ucapan tersebut harus tersusun dari dua kata atau lebih.
- Contoh: جَاءَ مُحَمَّدٌ (Ja’a Muhammadu – Muhammad telah datang). Ini tersusun dari kata Ja’a dan Muhammad.
- Bukan Murakkab: Satu kata saja, seperti مُحَمَّدٌ (Muhammad) tanpa ada kata sambungannya.
3. المُفِيدُ (Al-Mufid)
Artinya ucapan tersebut harus memberikan pemahaman yang sempurna kepada pendengar, sehingga pendengar tidak lagi menunggu-nunggu kelanjutan kalimatnya.
- Contoh: القَمَرُ جَمِيلٌ (Al-qamaru jamilun – Bulan itu indah). Kalimat ini sudah jelas dan selesai.
- Bukan Mufid: اِنْ جَاءَ الأُسْتَاذُ (In ja’al ustadzu – Jika guru datang…). Kalimat ini tersusun dari 3 kata (murakkab), tapi menggantung. Pendengar pasti bingung, “Jika guru datang, lalu kenapa?” Maka ini bukan Mufid.
4. الوَضْعُ (Al-Wadh’u)
Syarat ini memiliki dua makna yang saling melengkapi dalam penjelasan Tuhfatussaniyah:
- Dimaksudkan secara sadar oleh pembicara (bukan mengigau, bukan ucapan burung beo).
- Menggunakan kosakata dan kaidah bahasa Arab (bukan bahasa Indonesia, Inggris, atau bahasa ajam lainnya).
Kesimpulan & Contoh
Jika ada sebuah kalimat yang memenuhi keempat syarat di atas, maka ia disebut Kalam.
Contoh Kalam Sempurna:
قَامَ عَلِيٌّ
(Qama ‘Aliyyun) = Ali telah berdiri.
- Lafadz? Ya, diucapkan dengan huruf hijaiyah.
- Murakkab? Ya, terdiri dari 2 kata (Qama dan ‘Ali).
- Mufid? Ya, maknanya jelas (kita tahu Ali berdiri).
- Wadh’u? Ya, ini adalah bahasa Arab dan diucapkan dengan sengaja.
الأَسْئِلَة
(Pertanyaan Teori)
- Apa definisi Al-Kalam menurut istilah para ahli Nahwu?
- Apa yang dimaksud dengan Al-Lafadz? Berikan satu contoh yang termasuk lafadz dan satu contoh yang bukan lafadz!
- Mengapa kalimat إِنْ نَجَحَ الطَّالِبُ (Jika siswa itu lulus) tidak disebut sebagai Kalam padahal sudah tersusun dari 3 kata?
- Apa arti dari syarat Al-Wadh’u?
تَمْرِين مَاتِع: هَلْ هَذَا كَلَامٌ؟
(Latihan Praktis: Apakah ini Kalam?)
Tentukan apakah ungkapan-ungkapan di bawah ini termasuk Kalam atau Bukan Kalam (Ghairu Kalam), beserta alasannya!
| No | Ungkapan (Lafadz) | Status (Kalam / Bukan) | Alasan |
| 1 | كِتَابٌ (Kitabun) | … | … |
| 2 | العِلْمُ نُورٌ (Al-‘Ilmu nuurun) | … | … |
| 3 | إِذَا حَضَرَ الأُسْتَاذُ (Idza hadhara l-ustadzu) | … | … |
| 4 | (Isyarat tangan menyuruh duduk) | … | … |
| 5 | سَافَرَ مُحَمَّدٌ (Syafara Muhammadu) | … | … |
| 6 | أَكَلَ الطِّفْلُ التُّفَّاحَةَ (Akala t-thiflu t-tuffahata) | … | … |
مِفْتَاحُ الأَجْوِبَة (Kunci Jawaban & Pembahasan)
Agar kamu bisa mengoreksi mandiri, berikut adalah kunci jawaban dari latihan praktis di atas:
- كِتَابٌ (Bukan Kalam)
- Alasan: Karena hanya 1 kata tunggal. Tidak memenuhi syarat Murakkab (tersusun) dan tidak Mufid (tidak memberikan informasi yang lengkap, pendengar hanya tahu kata “buku” tanpa tahu ada apa dengan buku itu).
- العِلْمُ نُورٌ – Ilmu adalah cahaya (Kalam)
- Alasan: Memenuhi semua syarat. Diucapkan (Lafadz), terdiri dari 2 kata (Murakkab), maknanya dipahami secara sempurna (Mufid), dan berbahasa Arab (Wadh’u).
- إِذَا حَضَرَ الأُسْتَاذُ – Jika guru telah hadir (Bukan Kalam)
- Alasan: Meskipun sudah Murakkab (3 kata), kalimat ini tidak Mufid (maknanya menggantung). Pendengar akan bertanya-tanya, “Jika guru hadir, lalu apa yang terjadi?”.
- Isyarat Tangan (Bukan Kalam)
- Alasan: Jelas bukan kalam karena tidak menggunakan suara/huruf hijaiyah. Tidak memenuhi syarat Al-Lafadz.
- سَافَرَ مُحَمَّدٌ – Muhammad telah bepergian (Kalam)
- Alasan: Memenuhi semua syarat (Lafadz, Murakkab 2 kata, Mufid karena informasinya sudah jelas, dan Wadh’u).
- أَكَلَ الطِّفْلُ التُّفَّاحَةَ – Anak itu telah memakan apel (Kalam)
- Alasan: Memenuhi semua syarat (Terdiri dari 3 kata yang memberikan pemahaman sempurna kepada pendengar).