Sepuluh Langkah Menuju Surga #3 # Khasyyatullah (Menanamkan Rasa Takut yang Berwibawa kepada Allah)

17 Pembaca


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

Setelah kita memahami pentingnya Mentauhidkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dan mengikuti Sunnah sebagai langkah untuk menuju ke surga, kini kita sampai pada langkah ketiga yang tak kalah penting yaitu Khosyyatullah.

Apa itu Khosyyatullah? Secara sederhana, ia adalah rasa takut yang lahir karena kita mengenal betapa agungnya Allah. Bukan takut seperti kita takut kepada singa yang membuat kita lari menjauh, melainkan rasa takut yang membuat kita justru ingin berlari mendekat kepada-Nya, karena kita tidak ingin membuat-Nya murka.

Rasa takut inilah yang menjadi “rem” saat kita ingin berbuat dosa dan menjadi “mesin” saat kita mulai malas beribadah. Ketika rasa takut ini bersatu dengan ketaatan, Allah menjanjikan sebuah hadiah luar biasa: Kemenangan Mutlak.

Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52)

Dalam ayat yang indah tadi (QS. An-Nur: 52), Allah membocorkan kepada kita “rahasia” bagaimana caranya agar kita bisa keluar sebagai pemenang di akhirat kelak. Ternyata, setidaknya ada empat kunci utama yang saling berkaitan:

  1. Taat Sepenuh Hati kepada Allah: Menjadikan perintah Allah sebagai prioritas utama dalam hidup kita.
  2. Setia kepada Rasulullah ﷺ: Yaitu dengan mencontoh cara hidup dan sunnah-sunnah beliau, sebagaimana yang sudah kita bahas sebelumnya.
  3. Khasyyatullah (Takut yang Berlandaskan Cinta): Ini adalah rasa takut yang muncul karena kita sadar akan keagungan Allah. Rasa takut inilah yang akan menjadi pondasi paling kokoh bagi kesuksesan kita di hari kiamat nanti.
  4. Takwa: Menjaga diri agar tetap berada di jalan yang diridhai-Nya.

Menariknya, Allah menceritakan bahwa ciri utama para calon penghuni surga adalah mereka yang di dunia hatinya tidak pernah lepas dari rasa takut kepada Tuhan mereka.

Bagi mereka, rasa takut ini bukanlah beban yang menakutkan, melainkan “penjaga hati” yang membuat mereka selalu waspada agar tidak melangkah ke jalan yang salah. Dengan rasa takut inilah, mereka justru menemukan ketenangan dan jaminan keamanan saat orang lain merasa ketakutan di hari kiamat.

من خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ 

“…bahwasannya mereka karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati.” (Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun: 57).

Ciri utama orang yang benar-benar beriman bukan hanya terlihat dari gerakan fisiknya saat ibadah, melainkan dari apa yang dirasakan oleh hatinya. Allah menggambarkan kualitas hati yang luar biasa ini dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya.” (QS. Al-Anfal: 2)

Hal ini sangat masuk akal; sebab, siapa pun yang di dalam hatinya tersimpan rasa takut (kagum) kepada Allah, ia pasti akan memiliki “rem otomatis” untuk menjauhi perbuatan buruk. Sebaliknya, rasa itu juga akan menjadi mesin penggerak yang membuatnya ringan dalam melangkah melakukan ketaatan dan rajin beribadah.

Singkatnya, rasa takut itulah yang menjaga amal kita tetap di jalan yang benar.

Mengenai hubungan antara iman, amal, dan rasa takut ini, seorang ulama besar dari generasi tabi’in, Imam Hasan al-Bashri rahimahullah, pernah memberikan nasihat yang sangat mendalam:

المؤمنُ جَمَعَ إحسانًا وشَفَقَةً، والمنافقُ جَمَعَ إِساءةً وأمنًا

“Seorang mukmin itu mengumpulkan dua hal: amal kebaikan yang tulus sekaligus rasa khawatir (jangan-jangan amalnya tidak diterima). Sedangkan orang munafik mengumpulkan dua hal yang buruk: perbuatan dosa sekaligus perasaan merasa aman-aman saja dari siksa Allah.”

Setelah berkata demikian, beliau membacakan sebuah ayat dari Al-Qur’an untuk memperkuat nasihatnya:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang karena takut (agung) kepada Tuhannya, mereka sangat berhati-hati (dalam beramal).” (QS. Al-Mu’minun: 57)

Mungkin kita bertanya: “Bagaimana caranya agar hati kita bisa merasakan takut yang penuh pengagungan kepada Allah?” Ternyata, rasa itu tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui pengenalan.

Ada tiga pintu utama untuk mengenal Allah lebih dekat:

  1. Mengenal Nama dan Sifat-Nya: Dengan mempelajari Asmaul Husna, kita akan sadar betapa Allah Maha Kuat, Maha Melihat, namun juga Maha Adil.
  2. Melihat Alam Semesta (Ayat Kauniyah): Saat kita memandang luasnya langit, kokohnya gunung, atau uniknya sel dalam tubuh kita, hati kita akan bergetar menyadari betapa kecilnya kita di hadapan Sang Pencipta yang Maha Hebat.
  3. Mendalami Wahyu (Ayat Syar’iyah): Membaca Al-Qur’an dan hadis Nabi ﷺ adalah cara paling langsung untuk mendengar “pesan” dari Allah tentang siapa Dia sebenarnya.

Prinsipnya sederhana: Tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka tak segan. Semakin dalam seseorang mengenal Allah, maka akan semakin tinggi pula rasa hormat dan takutnya kepada-Nya.

Itulah mengapa Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَؤُا

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang memiliki ilmu).” (QS. Fathir: 28)

Jika kita mencari satu kunci yang bisa membuka semua pintu kesuksesan—baik untuk urusan dunia yang melelahkan maupun akhirat yang abadi—maka kunci itu bernama Takwa.

Takwa bukan sekadar istilah agama yang kaku, melainkan sebuah sikap “waspada” dan “setia” dalam menjalankan perintah Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji bahwa orang-orang yang menjaga ketaatannya akan diberikan “fasilitas” keselamatan yang luar biasa. Mereka akan dijauhkan dari penderitaan dan diberikan ketenangan hati yang tidak bisa dibeli dengan apa pun, di dunia maupun di akhirat kelak..

Janji indah ini Allah sebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an sebagai jaminan bagi kita:

وَيُنَجِي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan (ketaatan) mereka. Mereka tidak akan disentuh oleh azab dan tidak pula akan bersedih hati.” (QS. Az-Zumar: 61)

وَنَجَيْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman karena mereka senantiasa menjaga ketakwaannya.” (QS. Fushilat: 18)

وَأَنجَيْنَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu konsisten dalam bertakwa.” (QS. An-Naml: 53)

Secara bahasa, kata Takwa sebenarnya berasal dari istilah Wiqayah, yang artinya adalah tameng atau perisai.

Bayangkan Anda sedang berada di tengah medan perang atau di bawah hujan yang deras; Anda tentu membutuhkan pelindung agar tetap aman. Begitu pula dalam hidup, takwa adalah pelindung yang menjaga kita dari murka Allah dan bahaya dosa.

Secara sederhana, bertakwa berarti: Anda semangat melakukan ketaatan karena bimbingan cahaya-Nya, sambil penuh harap akan kasih sayang dan pahala-Nya dan Anda berani menjauhi kemaksiatan karena bimbingan cahaya-Nya, karena Anda sadar dan takut akan pedihnya azab Allah.

Definisi yang paling indah mengenai hal ini pernah disampaikan oleh seorang ulama bernama Imam Thalq bin Habib rahimahullah. Ketika seseorang bertanya kepada beliau, “Gambarkanlah kepada kami, apa sebenarnya hakikat takwa itu?” Beliau menjawab dengan kalimat yang sangat menyentuh:

التَّقْوَى: عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللَّهِ؛ رَجَاءَ رَحْمَةِ اللَّهِ، عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ، وَالتَّقْوَى: تَرْكُ مَعْصِيَةِ اللَّهِ؛ مَخَافَةُ عِقَابِ اللَّهِ، عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ.

“Takwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah l dengan penuh harapan akan rahmat-Nya, di atas cahaya (ilmu dan petunjuk) dari Allah. Dan takwa juga berarti meninggalkan maksiat kepada Allah l karena takut akan hukuman-Nya, di atas cahaya (ilmu dan petunjuk) dari Allah.” (Riwayat Imam Hanad bin As-Sari dalam Az-Zuhd: 552).

Seorang Muslim yang berupaya sepenuh hati menjalankan kewajiban agamanya—baik itu ibadah yang tampak seperti shalat, maupun ibadah hati seperti ikhlas—serta menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam dosa, ia sebenarnya sudah berada di jalur cepat menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

Kepastian ini terekam indah dalam sebuah percakapan singkat antara Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dengan Baginda Nabi ﷺ. Suatu hari, ia datang dan bertanya langsung kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَةَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَأَحَلَلْتُ الْحَلَالَ؛ أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ.

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku hanya melaksanakan shalat lima waktu (yang wajib), menjauhi apa yang diharamkan, dan menghalalkan yang memang halal; apakah aku akan masuk surga?” Maka Rasulullah ﷺ menjawab dengan singkat dan tegas: “Iya.” (HR. Muslim).

Siapa pun yang mau bersungguh-sungguh dan mau sedikit bersabar—sabar dalam menjaga shalatnya, sabar dalam menahan diri dari godaan maksiat—maka Allah tidak akan membiarkannya sendirian. Allah berjanji akan memberikan keselamatan dan membimbing tangannya menuju jalan yang paling lurus.

Ibarat seseorang yang berusaha mendaki gunung, setiap tetes keringatnya dihargai oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Namun, ada satu hal penting yang perlu diingat: semangat saja tidak cukup. Dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kita butuh “peta”, yaitu cahaya ilmu. Tanpa ilmu, niat baik kita bisa salah arah. Dengan ilmulah, kita jadi tahu mana batas yang harus dijaga dan mana jalan yang harus ditinggalkan.

Tentang pentingnya cahaya ilmu sebagai penentu arah ini, Allah l berfirman:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَبُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا.

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Al-Qur’an Surat Asy-Syura: 52).

Imam Bakar bin Khunais t berkata,

كَيْفَ يَكُونُ مُتَّقِيًّا مَنْ لَا يَدْرِي مَا يَتَّقِي؟! أَخْرَجَهُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي جَامِعِ الْعُلُومِ وَالْحِكَمِ. ١/٤٠٢.

“Bagaimana seorang akan bertakwa sementara dia tidak mengetahui apa yang harus dia jauhi?!” (Jami‘ul Ulum wal Hikam karya Imam Ibnu Rajab: 1/402).

Demikian semoga bermanfaat, Wallāhu a’lam.

Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq (Dan Allah adalah pemberi petunjuk menuju jalan yang paling lurus).


وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Turahmin, BA. S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 29 April 2026.

Rujukan:

عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 21-24.

Tinggalkan komentar