Sepuluh Langkah Menuju Surga #2# Ittiba’ (Meneladani) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

29 Pembaca


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

Dalam mengarungi kehidupan ini, kita seringkali merasa bingung mencari arah mana yang benar-benar menjamin keselamatan kita di akhirat kelak. Ternyata, kunci utamanya sangat sederhana namun mendalam: Mempelajari dan mengamalkan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Mengikuti sunnah bukan sekadar menjalankan rutinitas ibadah, tapi tentang bagaimana kita menghidupkan cara berpikir, cara bertindak, dan cara berakhlak sang teladan mulia dalam keseharian kita.

Terkait hal ini, ada sebuah perkataan yang sangat indah dan penuh hikmah dari Imam Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu (seorang ulama besar dari Madinah). Beliau memberikan sebuah perumpamaan yang sangat mudah diingat oleh kita semua:

مَنْ أَرَادَ النَّجَاةَ فَعَلَيْهِ بِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mengharapkan keselamatan, maka ia wajib menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ sebagai pegangan hidupnya.” (Dzammul Hawa wa Ahlihi karya Abu Ismail Al-Harawi: 4/118).

السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ؛ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Sunnah adalah bagaikan perahu Nuh, barangsiapa yang naik ke atasnya maka akan selamat. Barangsiapa yang tertinggal darinya maka akan tenggelam.” (At-Tarikh karya Khatibul Baghdadi: 8/308).

فَإِنَّ الدُّنْيَا مِثْلُهَا مِثْلُ الْبَحْرِ الَّذِي لَا بُدَّ لِلْخَلْقِ كُلِّهِمْ مِنْ رُكُوبِهِ لِيَقْطَعُوهُ إِلَى السَّاحِلِ الَّذِي فِيهِ دُورُهُمْ وَأَوْطَانُهُمْ وَمُسْتَقَرُّهُمْ، وَلَا يُمْكِنُ قَطْعُهُ إِلَّا فِي سَفِينَةِ النَّجَاةِ؛ فَأَرْسَلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رُسُلَهُ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ تُعَرِّفُ الْأُمَمَ اتِّخَاذَ سُفُنِ النَّجَاةِ، وَتَأْمُرُهُمْ بِعَمَلِهَا وَرُكُوبِهَا؛ وَهِيَ: طَاعَتُهُ، وَطَاعَةُ رُسُلِهِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، وَعِبَادَتُهُ وَحْدَهُ، وَإِخْلَاصُ الْعَمَلِ لَهُ، وَالتَّشْمِيرُ لِلْآخِرَةِ، وَإِرَادَتُهَا، وَالسَّعْيُ لَهَا سَعْيَهَا؛ فَنَهَضَ الْمُوَفَّقُونَ وَرَكِبُوا السَّفِينَةَ، وَرَغِبُوا عَنْ خَوْضِ الْبَحْرِ؛ لِمَا عَلِمُوا أَنَّهُ لَا يُقْطَعُ خَوْضًا وَلَا سِبَاحَةً

وَأَمَّا الْحَمْقَى فَاسْتَصْعَبُوا عَمَلَ السَّفِينَةِ وَآلَاتِهَا وَالرُّكُوبَ فِيهَا، وَقَالُوا: نَخُوضُ الْبَحْرَ، فَإِذَا عَجَزْنَا قَطَعْنَاهُ سِبَاحَةً، وَهُمْ أَكْثَرُ أَهْلِ الدُّنْيَا؛ فَخَاضُوهُ، فَلَمَّا عَجَزُوا عَنِ الْخَوْضِ أَخَذُوا فِي السِّبَاحَةِ حَتَّى أَدْرَكَهُمُ الْغَرَقُ، وَنَجَا أَصْحَابُ السَّفِينَةِ كَمَا نَجَوْا مَعَ نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَغَرِقَ أَهْلُ الْأَرْضِ؛ فَتَأَمَّلْ هَذَا الْمَثَلَ وَحَالَ أَهْلِ الدُّنْيَا يَتَبَيَّنْ لَكَ مُطَابَقَتُهُ لِلْوَاقِعِ

“Sesungguhnya dunia ini ibarat lautan yang harus dilalui oleh seluruh manusia untuk sampai ke pantai, tempat tinggal, dan negeri mereka yang abadi. Tidak ada seorang pun yang bisa menyeberanginya kecuali dengan bahtera keselamatan. Karena itu, Allah l mengutus para Rasul-Nya untuk mengenalkan kepada umat bagaimana cara membuat dan menaiki bahtera tersebut, serta memerintahkan mereka agar segera mengendarainya. Bahtera itu adalah ketaatan kepada Allah l, ketaatan kepada para Rasul-Nya, beribadah hanya kepada Allah l, memurnikan amal untuk-Nya, bersungguh-sungguh mengejar akhirat, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya. Maka orang-orang yang mendapat taufik akan bangkit dan menaiki bahtera itu, serta enggan menyelam ke dalam lautan, karena mereka tahu bahwa lautan itu tidak mungkin bisa diseberangi dengan hanya menyelam atau berenang di dalamnya.

Adapun orang-orang yang bodoh, mereka merasa berat untuk membuat bahtera keselamatan, menyiapkan perlengkapannya, dan menaikinya. Mereka berkata, “Kami akan menyeberangi lautan ini. Jika tidak mampu, kami akan berenang.” Orang-orang seperti ini adalah mayoritas penghuni dunia. Maka mereka pun mencoba menyeberanginya, tetapi ketika tidak sanggup, mereka berusaha berenang hingga akhirnya tenggelam. Sedangkan orang-orang yang menaiki bahtera keselamatan akan selamat, sebagaimana orang-orang dahulu yang bersama Nabi Nuh p yang selamat, sementara seluruh penduduk bumi tenggelam. Renungkanlah perumpamaan ini, maka akan jelas bagimu bahwa keadaan manusia di dunia benar-benar sesuai dengan kenyataan yang digambarkan.” (Perkataan Imam Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatush Shabirin wa Dzakiratush Syakirin hlm. 456).

Salah satu cara terbaik agar kita benar-benar selamat adalah dengan menggenggam erat Sunnah Rasulullah ﷺ dan berusaha untuk tetap istiqamah (konsisten) di jalan yang lurus. Prinsip ini bukan sekadar saran, melainkan arahan langsung dari Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an.

Allah dengan penuh kasih sayang memerintahkan kita untuk senantiasa taat kepada-Nya dan juga taat kepada Rasul-Nya sebagai panduan hidup. Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Al-Qur’an Surat Al-Ahzab: 21)

Allah l juga berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Al-Qur’an Surat An-Nur: 63)

Sebenarnya, pesan-pesan indah yang mengajak kita pada jalan keselamatan ini bisa kita temukan di banyak sekali tempat dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat yang memiliki makna serupa tersebar luas, bagaikan bintang-bintang yang menerangi kegelapan malam.

Untuk membantu kita menyelami maknanya lebih dalam, mari kita simak penjelasan yang sangat menyentuh dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini:

أَنَّهُ بِحَسَبِ مُتَابَعَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ الْعِزَّةُ وَالْكِفَايَةُ وَالنُّصْرَةُ، كَمَا أَنَّهُ بِحَسَبِ مُتَابَعَتِهِ تَكُونُ الْهِدَايَةُ وَالْفَلَاحُ وَالنَّجَاةُ؛ فَجَعَلَ اللَّهُ سَعَادَةَ الدَّارَيْنِ فِي مُتَابَعَتِهِ، وَجَعَلَ شَقَاوَةَ الدَّارَيْنِ فِي مُخَالَفَتِهِ؛ فَلِأَتْبَاعِهِ الْهُدَى وَالْأَمْنُ، وَالْفَلَاحُ وَالْعِزَّةُ، وَالْكِفَايَةُ وَالنُّصْرَةُ، وَالْوِلَايَةُ وَالتَّأْيِيدُ، وَطِيبُ الْعَيْشِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَلِلْمُخَالِفِينَ لَهُ الذُّلَّةُ وَالصَّغَارُ، وَالْخَوْفُ وَالضَّلَالُ، وَالْخِذْلَانُ وَالشَّقَاءُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

“Sesuai dengan kadar mengikuti Rasulullah ﷺ, akan diperoleh kemuliaan, kecukupan, dan pertolongan. Sebagaimana sesuai dengan kadar mengikutinya pula akan diperoleh petunjuk, keberuntungan, dan keselamatan. Maka Allah menjadikan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat) dalam mengikuti beliau, dan menjadikan kesengsaraan di dua negeri dalam menyelisihi beliau. Karena itu, bagi orang-orang yang mengikuti beliau terdapat petunjuk dan keamanan, keberuntungan dan kemuliaan, kecukupan dan pertolongan, perlindungan dan penguatan, serta kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi beliau terdapat kehinaan dan kerendahan, rasa takut dan kesesatan, penelantaran dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.” (Zadul Ma’ad juz 1 hal 39).

Siapa pun yang beramal namun tidak mengikuti petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, mustahil baginya untuk meraih keselamatan yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Karena amal tersebut tidak akan dianggap, alias tertolak.

Sebab, satu-satunya kunci agar ibadah kita diterima dan mampu menjadi penolong di Hari Kiamat nanti adalah dengan memastikan bahwa apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Tanpa panduan beliau, amal sehebat apa pun akan kehilangan maknanya di hadapan Allah.

Mengenai hal ini, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat jelas dalam sabdanya:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka amalannya tertolak.” (Hadits Riwayat Imam Imam Muslim dalam Shahihnya).

Bagi siapa pun yang merindukan keselamatan di akhirat, kunci utamanya adalah setia mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dan menggenggam erat jalan hidup yang telah beliau gariskan. Di sisi lain, kita juga perlu ekstra hati-hati terhadap apa yang disebut dengan bid’ah.

Secara sederhana, bid’ah adalah menambah-nambah perkara baru dalam urusan ibadah atau mengubah-ubah ajaran murni yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Mengapa kita harus waspada? Karena ibadah adalah hak Allah, maka tata caranya pun harus sesuai dengan apa yang Allah perintahkan melalui lisan Rasul-Nya.

Itulah alasan mengapa Rasulullah ﷺ hampir selalu menyisipkan nasihat penting dalam khutbah-khutbah beliau. Beliau ingin menjaga kita dari bahaya bid’ah, sekaligus terus menyemangati kita agar tetap teguh berada di atas sunnahnya. Beliau ﷺ bersabda:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Seburuk-buruk perkara yakni perkara yang diada-adakan dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya).

Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kabar yang sangat menyejukkan hati bagi para pengikutnya. Beliau menyampaikan bahwa siapa saja yang setia memegang teguh sunnahnya selama di dunia, kelak di Hari Kiamat akan diizinkan mendatangi Telaga Al-Kautsar, sebuah telaga mulia milik beliau, untuk minum darinya. Sekali saja kita minum air itu, kita tidak akan pernah merasa haus lagi selamanya.

Namun, ada peringatan yang sangat menggetarkan jiwa. Sebaliknya, orang-orang yang sengaja mengubah-ubah ajaran agama atau mengganti sunnah beliau dengan perkara-perkara baru (bid’ah), mereka justru akan diusir dan dijauhkan dari telaga yang indah itu.

Melihat pemandangan yang menyedihkan tersebut, Nabi ﷺ merasa iba dan mencoba mengenali mereka, namun kemudian dikatakan kepada beliau:

إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدِي، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي.

Sesungguhnya engkau tidak tau apa yang telah mereka ada-adakan sepeninggalmu, maka beliau berkata: celaka-celaka, bagi orang yang mengubah agama setelahku. (Hadits Riwayat Imam Bukhari dalam Shahihnya).

Oleh karena itu, setiap Muslim yang benar-benar mendambakan kebaikan dan keselamatan bagi dirinya, sudah sepatutnya ia berusaha keras untuk menjauhi dorongan hawa nafsu serta segala bentuk perkara baru dalam agama (bid’ah).

Jalan keselamatan itu hanya satu: berkomitmen penuh untuk menghidupkan Sunnah Nabi ﷺ dalam setiap sisi kehidupan. Namun, agar tidak salah arah, kita perlu mengikuti petunjuk tersebut sebagaimana para Sahabat Nabi yang mulia memahaminya. Merekalah generasi yang paling mengerti bagaimana cara mengamalkan ajaran Nabi dengan benar.

Tentang pentingnya mengikuti jejak para Sahabat ini, Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ، وَأَصْحَابِي.

“Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (Hadits Riwayat Imam Tirmidzi no. 2641 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 203 dan 1492).

Menghidupkan Sunnah Rasulullah ﷺ dalam hidup kita bukan hanya soal kemauan, tapi juga soal kesungguhan dalam menuntut ilmu. Ilmu tersebut haruslah bersumber murni dari Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.

Mengapa ilmu begitu penting? Sebab, dengan bekal pemahaman yang benar, seorang Muslim tidak akan lagi meraba-raba dalam kegelapan. Ia akan mampu beribadah kepada Allah dengan penuh keyakinan, karena ia tahu bahwa apa yang ia lakukan sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ yang kebenarannya telah terjamin. Ilmu inilah yang menjaga amal kita agar tidak sia-sia.

Pentingnya membekali diri dengan ilmu ini pun tertuang indah dalam bait-bait nasihat berikut:

فَبِالْعِلْمِ نَجَاةٌ مِنَ الْمَخَازِي   وَبِالْجَهْلِ الْمَذَلَّةُ وَالرَّغَامُ

هُوَ الْهَادِي الدَّلِيلُ إِلَى الْمَعَالِي وَمِصْبَاحٌ يُضِيءُ بِهِ الظَّلَامُ

كَذَاكَ عَنِ الرَّسُولِ أَتَى عَلَيْهِ     مِنَ اللَّهِ التَّحِيَّةُ وَالسَّلَامُ

Dengan ilmu, seseorang akan selamat dari kehinaan yang memalukan,

Sedangkan dengan kebodohan, hidup akan terasa rendah dan penuh penyesalan.

Ilmulah penunjuk jalan yang menuntun kita menuju kemuliaan,

Bagaikan lampu yang bersinar terang di tengah kegelapan.”

Begitulah pesan mulia yang datang dari sang Rasul,

Semoga limpahan kasih sayang dan salam dari Allah selalu tercurah untuk beliau.

Demikian semoga bermanfaat, Wallāhu a’lam.

Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq (Dan Allah adalah pemberi petunjuk menuju jalan yang paling lurus).


وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Turahmin, BA. S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 29 April 2026.

Rujukan:

عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 16-20.

Tinggalkan komentar