إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قال الله تعالى في القرآم الكريم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ
Menjaga ucapan itu terlihat sepele, tapi pengaruhnya besar sekali bagi ketenangan hidup kita. Kalau kita ingin selamat dan sukses dunia-akhirat, kuncinya adalah menjaga lisan agar tidak keluar kata-kata buruk, seperti gosip, fitnah, atau ucapan yang menyakiti perasaan orang lain.
Pentingnya menjaga lisan ini dijelaskan dalam sebuah kisah antara sahabat Nabi bernama Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Suatu hari, Uqbah Radhiyallahu Anhu bertanya langsung kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
يَا رَسُولَ اللهِ، مَا النَّجَاةُ؟ فَقَالَ: امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ ٢٤٠٦، وَصَحَّحَهُ الألبانيُّ فِي الصَّحِيحَة. ٨٩٠
‘Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?” Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Jagalah lisanmu, hendaknya engkau suka menetap di rumahmu, dan tangisilah dosa-dosamu.” (Dikeluarkan At-Tirmidzi rahimahullah dalam Jami‘-nya: 2406, dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Ash Shohihah:890).
Nasihat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berbunyi, “Jagalah lisanmu,” sebenarnya adalah pengingat sederhana namun sangat kuat bagi kita.
Maksudnya, kita diajak untuk selalu “mengerem” sebelum berbicara. Caranya dengan memikirkan nya terlebih dahulu, Jika apa yang akan kita katakan itu baik dan bermanfaat, maka kita sampaikan. Tetapi jika ucapan itu kira-kira akan menyakiti orang lain, berisi kebohongan, atau tidak ada gunanya, lebih baik kita diam saja.
Singkatnya, menjaga lisan adalah tentang menjadi pribadi yang bijak dalam berkomunikasi. Sebab, kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali, dan keselamatan kita sangat bergantung pada apa yang kita ucapkan. Terkait hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. أَخْرَجَهُ البُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ. ٦٠١٨، وَمُسْلِم فِي صَحِيحِهِ. ٤٧
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau dia diam.” (Dikeluarkan Al Bukhari rahimahullah: 6018 dan Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya: 47).
Jangan sepelekan mulut kita. Meski tidak bertulang, lisan bisa jauh lebih tajam daripada pedang. Bahaya dari ucapan yang tidak dijaga itu dampaknya sangat luar biasa, bukan cuma merugikan diri sendiri, tapi juga bisa merusak nama baik agama, menghancurkan tatanan masyarakat, dan menyakiti hati orang-orang di sekitar kita.
Bayangkan saja, satu ucapan buruk bisa memutus tali persaudaraan yang sudah dijalin puluhan tahun dalam sekejap. Karena ancamannya yang begitu mengerikan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras melalui sabdanya:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. أَخْرَجَهُ البُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ ٦٤٧٧، وَمُسْلِم فِي صَحِيحِهِ ٢٩٨٨.
“Sesungguhnya seorang hamba berucap dengan satu ucapan yang tidak dia pikirkan akibatnya, namun dia dijebloskan ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari timur dan barat.” (Dikeluarkan Al Bukhari rahimahullah: 6477 dan Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya: 2988).
Keselamatan kita sebagai manusia itu ternyata sangat bergantung pada apa yang keluar dari mulut kita. Ibarat sebuah kapal, lisan adalah “kemudi”-nya. Jika kemudinya benar, maka arah kapal akan selamat. Namun jika kemudinya salah, seluruh bagian kapal bisa ikut karam.
Begitu pentingnya lisan, sampai-sampai seluruh anggota tubuh kita yang lain —seperti tangan, kaki, dan mata — seolah-olah “menitipkan” nasib mereka pada ucapan lisan. Mereka ikut terkena imbas dari setiap kata yang kita lontarkan. Tentang hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam memberikan gambaran yang sangat menarik dalam sabdanya:
إذا أصبح ابْنُ آدمَ فَإِنَّ الأعضاء كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ؛ فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فينا، فإِنَّما نحنُ بكَ؛ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنا. أخرجه الترمذي في جامعه. ٢٤٠٧، وصححه الألباني في صحيح الجامع ٣٤٤.
“Jika anak Adam berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh memohon kepada lisan dan berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala pada kami, karena kami tergantung kepada engkau. Jika engkau lurus maka kami pun akan lurus, dan jika engkau bengkok maka kami pun akan bengkok.’” (Dikeluarkan At-Tirmidzi rahimahullah dalam Jami‘-nya: 2408, dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Ash Shohihah: 244).
Kemampuan kita menjaga lisan sebenarnya adalah “keran” utama bagi datangnya kebaikan. Kalau kita hati-hati saat bicara, pintu kebahagiaan di dunia dan akhirat akan terbuka lebar. Sebaliknya, kalau kita asal bicara tanpa dipikir dulu, itu sama saja kita sedang mengundang bencana dan kerugian datang ke hidup kita.
Saking pentingnya hal ini, ada sebuah kisah menarik saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengajar sahabatnya, Mu’adz bin Jabal. Setelah Nabi menjelaskan panjang lebar tentang dasar-dasar agama dan berbagai macam pintu kebaikan (seperti shalat dan sedekah), beliau menutup nasihatnya dengan sebuah “kunci pamungkas”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
َأَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟»، قُلْتُ: «بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ»، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ – أَوْ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ. (أخرجه الترمذي في «جامعه» (٢٦١٦ ) ، وصححه الألباني في «السلسلة الصحيحة» (١١٢٢))
“Maukah aku kabarkan kepada engkau tentang kunci kebaikan dari itu semua?” Maka Muadz Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Tentu, wahai Nabi Allah.” Maka beliau memegang lisannya dan bersabda, “Tahanlah ini.” kemudian aku menjawab, “Wahai Nabi Allah, akankah kita disiksa dengan sebab apa yang kita ucapkan?” Maka beliau menjawab, “Aduh, Mu’adz! Bukankah orang-orang itu diseret dan dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur atau di atas lubang hidung mereka, tidak lain hanyalah karena hasil panen lisan mereka (ucapan mereka sendiri)?” (Dikeluarkan At-Tirmidzi rahimahullah dalam Jami‘-nya: 2616, dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash Shohihah: 1122).
Arti ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ (Tsakilatka Ummuk): Secara bahasa berarti “Ibumu kehilanganmu”. Namun, dalam budaya Arab saat itu, ini adalah ungkapan kasih sayang yang digunakan untuk menegur seseorang agar benar-benar memperhatikan hal penting yang akan disampaikan. Ibarat kita berkata, “Dengar baik-baik ya, ini serius!”
Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk “memegang kendali” atas lisan kita sendiri. Jangan sampai lisan kita dibiarkan lepas begitu saja, hingga tanpa sadar kita sering mengucapkan hal-hal yang tidak berguna, sia-sia, atau bahkan menyakiti orang lain.
Satu hal yang perlu kita ingat: Diam itu sering kali adalah jalan pintas menuju keselamatan dan kesuksesan.
Berbeda ceritanya kalau kita hobi “mengumbar” omongan tanpa penjagaan; itu sama saja kita sedang membuka pintu masalah bagi diri sendiri. Mengenai keutamaan diam ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat indah dalam sabdanya:
مَنْ صَمَتَ نَجَا. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ ٢٥٠١، وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيحَة ٥٣٦
“Barangsiapa yang diam, dia akan selamat.” (Dikeluarkan At-Tirmidzi rahimahullah dalam Jami‘-nya: 2501, dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash Shohihah: 536).
Demikian semoga kita bisa menjaga lisan kita agar kita mendapatkan keselamatan di dunia ini dan semoga bermanfaat, Wallahu a’lam bish-shawab.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq (Dan Allah adalah pemberi petunjuk menuju jalan yang paling lurus).
وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Turahmin, BA. S.Pd, M.H.
Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 29 April 2026.
Rujukan:
عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 25-27.