Tafsir Surat Al-Ikhlas 1-4

30 Pembaca

(سُورَةُ الْإِخْلَاصِ، (مَكِّيَّةٌ وَآيَاتُهَا أَرْبَعُ آيَاتٍ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

:شَرْحُ الْكَلِمَاتِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ: أَيْ قُلْ لِمَنْ سَأَلَكَ يَا نَبِيَّنَا عَنْ رَبِّكَ: هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

اللَّهُ الصَّمَدُ: أَيِ اللَّهُ الَّذِي لَا تَنْبَغِي (الْأُلُوهِيَّةُ) إِلَّا لَهُ. وَالصَّمَدُ: السَّيِّدُ الَّذِي يُصْمَدُ إِلَيْهِ فِي الْحَوَائِجِ، فَهُوَ الْمَقْصُودُ فِي قَضَاءِ الْحَوَائِجِ عَلَى الدَّوَامِ

لَمْ يَلِدْ: أَيْ لَا يَفْنَى، إِذْ لَا شَيْءَ يَلِدُ إِلَّا وَهُوَ فَانٍ بَائِدٌ لَا مَحَالَةَ

وَلَمْ يُولَدْ: أَيْ لَيْسَ بِمُحْدَثٍ بِأَنْ لَمْ يَكُنْ فَكَانَ، هُوَ كَائِنٌ أَوَّلًا وَأَبَدًا

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ: أَيْ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ شَبِيهًا لَهُ أَوْ مَثِيلًا، إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

مَعْنَى الْآيَاتِ

قَوْلُهُ تَعَالَى: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1)} الْآيَاتُ الْأَرْبَعُ الْمُبَارَكَاتُ نَزَلَتْ جَوَابًا لِمَنْ قَالُوا لِلرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ: “انْسُبْ (2) لَنَا رَبَّكَ” أَوْ “صِفْهُ لَنَا”. فَقَالَ تَعَالَى لِرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُلْ -أَيْ لِمَنْ سَأَلُوكَ ذَلِكَ-: هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (3)، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَيْ: رَبِّي هُوَ اللَّهُ، أَيِ الْإِلَهُ الَّذِي لَا تَنْبَغِي الْأُلُوهِيَّةُ إِلَّا لَهُ، وَلَا تَصْلُحُ الْعِبَادَةُ إِلَّا لَهُ. أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، فَلَيْسَ لَهُ نَظِيرٌ وَلَا مَثِيلٌ فِي ذَلِكَ، إِذْ هُوَ خَالِقُ الْكُلِّ وَمَالِكُ الْجَمِيعِ، فَلَنْ تَكُونَ الْمُحْدَثَاتُ الْمَخْلُوقَاتُ كَخَالِقِهَا وَمُحْدِثِهَا اللَّهُ، أَيِ الْمَعْبُودُ الَّذِي لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا هُوَ. الصَّمَدُ، أَيِ السَّيِّدُ الْمَقْصُودُ فِي قَضَاءِ الْحَوَائِجِ، الَّذِي اسْتَغْنَى عَنْ كُلِّ خَلْقِهِ وَافْتَقَرَ الْكُلُّ إِلَيْهِ. لَمْ يَلِدْ، أَيْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ لِانْتِفَاءِ مَنْ يُجَانِسُهُ، إِذِ الْوَلَدُ يُجَانِسُ وَالِدَهُ، وَالْمُجَانَسَةُ مَنْفِيَّةٌ عَنْهُ تَعَالَى إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ. وَلَمْ يُولَدْ لِانْتِفَاءِ الْحُدُوثِ عَنْهُ تَعَالَى

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَيْ وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ كُفُوًا لَهُ، وَلَا مَثِيلًا، وَلَا نَظِيرًا، وَلَا شَبِيهًا، إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

فَلِذَا هُوَ يُعْرَفُ بِالْأَحَدِيَّةِ وَالصَّمَدِيَّةِ؛ فَالْأَحَدِيَّةُ هُوَ أَنَّهُ وَاحِدٌ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفْوٌ وَلَا شَبِيهٌ وَلَا نَظِيرٌ. وَالصَّمَدِيَّةُ هِيَ أَنَّهُ الْمُسْتَغْنِي عَنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ، وَالْمُفْتَقِرُ إِلَيْهِ فِي وُجُودِهِ وَبَقَائِهِ كُلُّ مَا عَدَاهُ، كَمَا يُعْرَفُ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَآيَاتِهِ

هِدَايَةُ الْآيَاتِ

مِنْ هِدَايَةِ الْآيَاتِ

مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

تَقْرِيرُ التَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ

بُطْلَانُ نِسْبَةِ الْوَلَدِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

وُجُوبُ عِبَادَتِهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فِيهَا، إِذْ هُوَ اللَّهُ ذُو الْأُلُوهِيَّةِ عَلَى خَلْقِهِ دُونَ سِوَاهُ

Catatan kaki:

وَرَدَ فِي فَضْلِ السُّورَةِ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وَرَوَى مُسْلِمٌ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِـ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: “سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟” فَسَأَلُوهُ، فَقَالَ: لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ”.

رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ”، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ

أَحَدٌ أَصْلُهَا “وَحَدٌ”، قُلِبَتِ الْوَاوُ فِيهَا هَمْزَةً. قَالَ النَّابِغَةُ

كَانَ رَحْلِي وَقَدْ زَالَ النَّهَارُ بِنَا

بِذِي الْجَلِيلِ عَلَى مُسْتَأْنِسٍ وَحَدِ

وَأَحَدٌ مَرْفُوعٌ عَلَى أَنَّهُ خَبَرٌ لِمُبْتَدَأٍ تَقْدِيرُهُ: هُوَ أَحَدٌ. وَ(هُوَ) ضَمِيرُ شَأْنٍ، أَيِ: الْمَسْؤُولُ عَنْهُ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Tarjamah:

Surah Al-Ikhlas (Surah ini) turun di Mekkah dan terdiri dari empat ayat.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  1. Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
  2. “Allah tempat meminta segala sesuatu.”
  3. “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”
  4. “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”
Penjelasan Kata demi Kata:
  • Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa: Maksudnya, katakanlah wahai Nabi kami kepada orang yang bertanya tentang Tuhanmu: “Dialah Allah Yang Maha Esa.”
  • Allah as-Samad: Maksudnya, Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah. As-Samad artinya Penguasa Tertinggi yang menjadi tumpuan segala kebutuhan. Dialah yang selalu dituju oleh makhluk untuk mengabulkan semua keperluan mereka.
  • Tidak beranak: Maksudnya, Allah tidak akan punah. Sebab, segala sesuatu yang beranak pasti akan mati dan hancur, sedangkan Allah tidak demikian.
  • Dan tidak pula diperanakkan: Maksudnya, Allah bukan sesuatu yang baru ada (yang tadinya tidak ada lalu menjadi ada). Dia sudah ada sejak awal (tanpa awal) dan ada selama-lamanya.
  • Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia: Maksudnya, tidak ada satupun yang serupa atau mirip dengan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.
Makna Ayat secara Keseluruhan:

Firman Allah Ta’ala: (Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa (1)) sampai akhir. Keempat ayat yang berkah ini turun sebagai jawaban bagi orang-orang musyrik yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Sebutkanlah silsilah (2) Tuhanmu kepada kami!” atau “Gambarkanlah sifat Tuhanmu kepada kami!”

Maka Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ: “Katakanlah kepada mereka yang bertanya itu: Dialah Allah Yang Maha Esa (3), Allah tempat meminta, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”

Maknanya adalah: Tuhanku adalah Allah, yaitu Tuhan yang tidak ada yang berhak disembah selain Dia, dan ibadah tidak sah kecuali hanya diberikan kepada-Nya. Dia Maha Esa dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada yang menandingi-Nya dan tidak ada yang serupa dengan-Nya dalam hal itu. Sebab, Dialah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu. Maka, semua makhluk yang diciptakan tidak akan pernah sama dengan Penciptanya.

Allah, artinya satu-satunya sesembahan yang benar, tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain DIa. As-Samad, artinya Penguasa yang dituju untuk memenuhi segala hajat, yang tidak butuh kepada seluruh makhluk-Nya, sedangkan semua makhluk justru butuh kepada-Nya. Tidak beranak, artinya Dia tidak memiliki anak, untuk meniadakan (sesuatu) yang sejenis dengan-Nya. Karena biasanya, seorang anak pasti memiliki jenis atau sifat yang sama dengan orang tuanya. Sementara sifat kesamaan jenis ini mustahil bagi Allah Ta’ala, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan karena mustahil bagi Allah bersifat “baru ada” (tadinya tidak ada lalu menjadi ada).

(Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia) Maksudnya, tidak ada satupun yang setara, sebanding, senilai, atau serupa dengan-Nya. Karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Oleh karena itu, Allah dikenali dengan sifat Ahadiah (Maha Esa) dan Samadiah (Maha Dibutuhkan):

  • Ahadiah (Maha Esa): Artinya Allah itu Satu/Tunggal dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada yang setara, serupa, ataupun sebanding dengan-Nya.
  • Samadiah (Maha Dibutuhkan/Tumpuan): Artinya Allah Maha Kaya (tidak butuh) kepada segala sesuatu selain diri-Nya. Sebaliknya, segala sesuatu selain Allah justru sangat butuh kepada-Nya agar bisa ada dan tetap bertahan hidup. Allah juga dikenali melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Pelajaran dan Petunjuk Ayat:

Di antara pelajaran yang dapat diambil dari ayat-ayat ini adalah:

  1. Mengenal Allah Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
  2. Penegasan tentang keesaan Allah (Tauhid) dan kebenaran risalah Nabi Muhammad (Nubuwwah).
  3. Batilnya (salahnya) anggapan atau tuduhan bahwa Allah memiliki anak.
  4. Wajib hukumnya menyembah Allah Ta’ala saja tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Karena Dialah Allah, satu-satunya Pemilik hak ketuhanan atas seluruh makhluk-Nya, bukan yang lain.

Catatan Kaki:

1. Disebutkan dalam dalil tentang keutamaan surah ini bahwa ia setara dengan sepertiga Al-Qur’an (HR. Bukhari).

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus seorang sahabat memimpin pasukan perang kecil. Ketika mengimami salat untuk teman-temannya, ia selalu mengakhiri bacaannya dengan surah Qul Huwallahu Ahad (Surah Al-Ikhlas).

Saat pasukan itu pulang, mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi ﷺ. Nabi lalu bersabda: “Tanyakan kepadanya, mengapa dia melakukan itu?” Mereka pun bertanya kepadanya, dan sahabat itu menjawab: “Karena surah ini berisi sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman), dan aku sangat suka membacanya.” Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sampaikan kepadanya bahwa Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Agung juga mencintainya.”

2. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari sahabat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, bahwa orang-orang musyrik pernah menantang Rasulullah ﷺ dengan berkata: “Sebutkan silsilah/asal-usul Tuhanmu kepada kami!” Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat: (Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta).

3. Kata Ahad (أَحَدٌ) pada asalnya adalah Wahad (وَحَدٌ), di mana huruf ‘Wau’ di depannya diubah menjadi ‘Hamzah’ (menurut kaidah bahasa Arab). Penyair klasik Arab bernama An-Nabighah pernah berkata dalam syairnya:“Dahulu pelana tungganganku—ketika siang mulai bergeser meninggalkan kami—berada di daerah Dzul Jalil, berada di atas punggung hewan liar yang sendirian (Wahad).”

    Secara tata bahasa (i’rab), kata Ahad berposisi sebagai khabar (pelengkap kalimat) yang dibaca rafa’ (dhommah), yang takdir kalimatnya adalah: “Dia-lah Yang Maha Esa.” Sedangkan kata Huwa (هُو) di sini adalah dhamir syan (kata ganti penegas), yang maksudnya: “Zat yang kalian tanyakan itu adalah Allah Yang Maha Esa.”

    Terjamahan dari kitab:

    أيسر التفاسير لكلام العلي الكبير (ومعه حاشية نهر الخير)
    المؤلف: جابر بن موسى بن عبد القادر بن جابر أبو بكر الجزائري
    الناشر: مكتبة العلوم والحكم، المدينة المنورة، المملكة العربية السعودية
    الطبعة: الخامسة، 1424هـ/2003م
    عدد الأجزاء: 5
    [ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
    تاريخ النشر بالشاملة: 8 ذو الحجة

    Halaman: 5/628-629.

    Tinggalkan komentar