Ringkasan Penjelasan Akidah Lamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

28 Pembaca
Ringkasan Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Orang yang bertanya dengan tujuan untuk mencari tahu, maka Allah akan memberi petunjuk kepadanya.

Akidah adalah hukum yang bersumber dari akal yang pasti.

Dengarkan, pahami, yakini, dan amalkan apa yang disampaikan oleh orang yang menyampaikan kebenaran.

Syarat akidah adalah keyakinan tersebut diyakini secara pasti tanpa keraguan sedikit pun.

Profil Ulama dan Metodologi

Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah (wafat tahun 728 H), beliau yang menulis Manzhumah Lamiyah yang berisi tentang akidah.

Beliau termasuk ulama senior yang memiliki banyak sekali tulisan. Di antaranya, beliau menulis tentang akidah yang bersumber dari dalil Al-Qur’an dan akal.

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam berakidah adalah mengambil akidah dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih sebagaimana yang ditunjukkan oleh zhahir nash-nash tersebut.

Kedudukan Sahabat dan Ahlul Bait

Wajib mencintai para sahabat. Sahabat adalah orang-orang yang bertemu dengan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, beriman kepada beliau, dan mati dalam keadaan beriman.

Wajib mencintai seluruh keluarga dan karib kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ahlul Bait), tentu yang beriman.

Mencintai mereka sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ini merupakan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap para sahabat adalah mencintai para sahabat dan Ahlul Bait, memuji mereka, dan meneladaninya.

Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.” (QS. At-Tawbah: 100)

Mencintai para sahabat dan Ahlul Bait serta meneladani mereka akan mendatangkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Setiap sahabat memiliki kedudukan dan keutamaan yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi petunjuk bagi orang-orang setelahnya. Sahabat yang paling utama adalah Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Amir At-Taimi radhiyallahu ‘anhu.

Sikap Ahlussunnah dalam menyikapi perbedaan keutamaan di antara para sahabat adalah mereka meyakini bahwa sahabat paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan kemudian Ali bin Abi Thalib.

Allah telah menjelaskan keutamaan Abu Bakar:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى

“Dan kelak akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Layl: 17)

Al-Qur’an Kalamullah

Wajib mengikrarkan dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah, membacanya termasuk ibadah, dan Al-Qur’an adalah sempurna dari segala sisinya.

Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap Al-Qur’an adalah mereka meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan dan bukan makhluk.

Dalil bahwa Al-Qur’an bukan makhluk adalah ayat yang menjelaskan jika ada orang musyrik yang meminta perlindungan, maka lindungilah sampai mereka mendengar kalam Allah:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah.” (QS. At-Tawbah: 6)

Keimanan Terhadap Sifat-Sifat Allah

Wajib meyakini dan mengimani semua apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mentakwil/menyelewengkannya kepada makna lain selain yang terdapat dalam lafazh tersebut.

Semua ayat yang menetapkan sifat bagi Allah subhanahu wa ta’ala adalah sifat yang mulia dan sempurna, dan sifat yang dinafikan adalah sifat yang kurang, maka wajib diyakini dan diimani.

Semua sifat Allah yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah wajib diimani dan diyakini dengan keyakinan pasti, serta wajib ditetapkan sebagaimana yang ditetapkan ayat atau hadis tersebut.

Demikian juga sifat yang dinafikan oleh hadis wajib dinafikan dan tidak boleh ditetapkan bagi-Nya.

Wajib mengimani sifat-sifat yang ditetapkan sebagaimana yang dicantumkan dalam ayat maupun hadis tanpa mentakwilnya.

Manhaj Ahlussunnah terhadap sifat Allah ta’ala adalah menetapkan apa yang ditetapkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, dan juga menafikan apa yang dinafikan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa takwil.

Wajib mengembalikan makna sebenarnya dari sifat dan nama yang ditetapkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wajib mengimani dan menjaga sifat-sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam nash tanpa takwil.

Akidah Ahlussunnah terhadap asma dan sifat adalah menetapkan asma dan sifat itu sebagaimana yang ditetapkan dalam Kitab dan Sunnah tanpa takwil, tamsil, dan tanpa ta’thil.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Menetapkan sifat tanpa ta’thil, tamsil, dan takyif.

Orang-orang yang menolak dan meninggalkan dalil tentang asma dan sifat sangat tercela dan sangat buruk.

Salah satu orang yang tidak mau beristidlal dengan asma dan sifat tetapi malah berdalil dengan bahasa, filsafat, dan mantiq adalah Ahlu Kalam (seperti kaum Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyah/Maturidiyah dalam sebagian sifat).

Manhaj Ahlussunnah dalam beristidlal dalam masalah akidah adalah mereka meyakini bahwa akidah adalah tauqifiyah (berdasarkan wahyu), tidak boleh berdalil tentang akidah kecuali dengan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan dengan selain keduanya.

Akidah Ahlussunnah tentang rukyatullah (melihat Allah) adalah mereka meyakini bahwa orang-orang mukmin kelak pada hari kiamat benar-benar akan melihat dan memandang Allah subhanahu wa ta’ala dengan mata mereka, bukan dengan khayalan.

Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah tentang turunnya Allah subhanahu wa ta’ala adalah mereka meyakini bahwa Allah benar-benar turun ke langit dunia di setiap sepertiga malam terakhir.

Dalam menetapkan sifat rukyatullah dan turunnya Allah ke langit dunia, mereka menetapkan bahwa orang-orang mukmin kelak pada hari kiamat akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri dan Allah benar-benar turun ke langit dunia di setiap sepertiga malam terakhir. Artinya, Allah sendiri yang benar-benar turun, bukan selainnya.

Dalilnya:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari kiamat kelak sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak silau/berdesakan dalam melihat-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil nuzul:

يَنْزِلُ اللهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Allah turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wajib menetapkan perkara ghaib yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah dan meyakininya, seperti mizan (timbangan) hakiki yang memiliki dua daun timbangan, khaudh (telaga) Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang sangat luas dan orang yang meminumnya tidak akan pernah haus lagi setelah itu selamanya. Semoga kita termasuk orang yang minum dari air telaga itu. Aamiin.

Perkara ghaib lain yang wajib diimani adalah shirath (jembatan) yang membentang di atas neraka Jahannam, dan orang tidak akan masuk surga kecuali setelah melewati shirath tersebut.

Ahlu tauhid kelak akan selamat ketika melewati shirath tersebut lalu masuk surga, sedangkan orang-orang yang tidak bertauhid mereka akan jatuh ke dalam neraka Jahannam.

Manhaj Ahlussunnah dalam menetapkan perkara ghaib adalah mereka mengimani setiap perkara ghaib yang terdapat/ditetapkan dalam Kitab dan Sunnah yang shahih, seperti mizan (timbangan), khaudh (telaga), dan shirath (jembatan yang membentang di atas neraka Jahannam).

Dalil iman kepada timbangan:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qari’ah: 6-7)

Dalil tentang khaudh adalah hadis mutawatir:

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku sejauh perjalanan sebulan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada minyak kesturi, dan gayung-gayungnya sebanyak bintang di langit. Barangsiapa yang minum darinya, maka ia tidak akan haus selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil tentang shirath:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemustahilan yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 71)

Balasan di hari kiamat ada dua macam, yaitu neraka sebagai tempat azab yang kelak dimasuki oleh orang-orang yang celaka, yang ketika di dunia suka melakukan kemaksiatan. Balasan kedua adalah surga yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga sebagai bentuk karunia dan kemuliaan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dalam masalah neraka dan surga adalah orang-orang yang celaka akan masuk neraka disebabkan karena kemaksiatan yang mereka lakukan, dan orang-orang yang bertakwa akan masuk surga karena kasih sayang dan rahmat Allah.

Dalilnya:

يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.” (QS. Al-Insan: 31)

Alam barzakh adalah alam yang ada di antara alam dunia dan hari kiamat.

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam masalah alam barzakh, mereka meyakini bahwa setiap orang yang berakal dan baligh kelak seluruh amal perbuatannya akan menemaninya di alam barzakh tersebut. Jika amalannya baik, maka amalannya yang baik akan menemaninya dan menyenangkannya. Sedangkan jika amalannya buruk, maka ia akan ditemani oleh amal buruk itu dan akan mendapat siksa kubur.

Wajib mengimani adanya fitnah kubur, yaitu tiga pertanyaan dari malaikat kepada ahli kubur: “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu?”

Akidah Ahlussunnah tentang fitnah kubur adalah mereka meyakini bahwa fitnah kubur, nikmat kubur, dan azab kubur itu hak (benar-benar ada).

Dalilnya:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'” (QS. Ghafir: 46)

Dalil dari hadis:

اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Memohon perlindunganlah kalian kepada Allah dari azab kubur.” (HR. Muslim)

Keyakinan-keyakinan di atas merupakan keyakinan Imam yang empat, yaitu:

  1. Imam Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris (wafat 204 H)
  2. Imam Malik bin Anas (wafat 179 H)
  3. Imam Abu Hanifah, Nu’man bin Tsabit (wafat 150 H)
  4. Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal (wafat 241 H)

Dan para Imam setelahnya mengambil akidah tersebut dari Imam Ahmad bin Hambal.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengambil pendapat tersebut dari manhaj Salafush Shalih, yaitu tiga kurun pertama yang memiliki keutamaan luar biasa: zaman Sahabat, Tabi’in, dan Atba’ut Tabi’in. Di antara mereka adalah Imam yang empat tersebut.

Wajib mengambil jalan tersebut dan tidak menyimpang darinya agar selamat di dunia dan akhirat.

Dalil:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Orang yang menyelisihi Rasul maka mereka akan celaka dan akan masuk neraka sebagai siksaan bagi mereka. Maka jangan pernah kita menyelisihi jalan kaum mukminin tersebut dalam masalah akidah agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Akidah yang benar adalah akidah yang diyakini Nabi shallallahu alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in.

Jika kita mengikuti jalan mereka dalam akidah dan hak lain, maka kita telah berjalan di atas petunjuk dan hidayah. Tetapi jika kita membuat bid’ah atau menempuh jalan lain, maka kita telah menempuh jalan lain selain jalan sunnah dan kita akan binasa selamanya, karena keselamatan hanya akan diperoleh oleh orang-orang yang menempuh jalan golongan yang selamat (al-firqatun najiyah).

Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah dalam masalah bid’ah dan perkara baru dalam agama adalah mereka memperingatkan kaum muslimin agar selalu waspada dan hati-hati dari bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama yang bukan merupakan akidah Salafush Shalih rahimahullah, jangan sampai mereka terjatuh ke dalamnya.

Dalil:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i)

Selesai penjelasan Mandhumah Lamiyah Ibnu Taimiyah dalam waktu hanya 90 menit, sama seperti penjelasan Qawa’idul Arba’.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan Ahlussunnah wal Jama’ah dan golongan yang selamat di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Alhamdulillah diberi sanad Qawa’idul arba’ dan lamithiyah Oleh Syaikh Prof. Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah al-Katsiri.

Turahmin, B.A, S.Pd. M.H.

Masjid Pusat Bin Baz, Piyungan, Jumat, 19 Juni 2026. 07.30-09.30an

Tinggalkan komentar