Ringkasan Matan Qawaidul Arba’
Ilmu paling utama dan paling penting untuk dipelajari adalah ilmu tauhid. Salah satu fungsi tauhid adalah untuk membantah dan membendung syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang yang menyimpang.
Kitab Qawaidul Arba’ terdiri dari empat kaidah yang membahas tentang tauhid. Kitab ini disebut Matan Qawaidul Arba’ yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Tema pembahasan kitab Qawaidul Arba’ adalah tentang ilmu tauhid. Kitab ini dimulai dengan doa untuk para pembaca kitab tersebut.
Hendaknya seseorang berbahagia jika dijadikan sebagai wali Allah, hidupnya diberkahi, dan memberikan berkah kebaikan kepada orang lain dengan ilmunya.
Seorang muslim jika diberi nikmat hendaknya bersyukur, jika diuji bersabar, serta jika berbuat dosa segera bertaubat. Ketiga perkara itu akan membawa ketenangan dan ketentraman dalam hatinya.
Sikap seorang muslim saat tertimpa musibah hendaknya bersabar dan yakin bahwa itu merupakan takdir dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Sikap orang yang bertauhid ketika berbuat dosa adalah segera bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha.
Sikap seorang mukmin jika mendapat nikmat dunia maupun nikmat agama adalah bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Ibadah adalah merendah dan menghambakan diri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala didasari rasa cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Ibadah adalah puncak cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan totalitas dalam menghambakan diri kepada-Nya.
Tidak boleh hukumnya beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.
Agama Nabi Ibrahim alaihiasallam adalah menyembah Allah subhanahu wa ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun (mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala).
Termasuk ibadah adalah merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dan mencintai-Nya secara totalitas.
Ibadah tidak sah tanpa tauhid. Tauhid adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan kekhususan yang menjadi milik-Nya, yang tidak dimiliki makhluk ciptaan-Nya. Dalam masalah rububiyah, Allah adalah satu-satunya Pencipta, tidak ada yang mampu menciptakan selain Allah subhanahu wa ta’ala.
Kita wajib mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya.
Kita juga wajib mengesakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, bahwa nama dan sifat tersebut hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala, seperti tidak ada yang mengetahui ilmu ghaib selain-Nya.
Kita juga wajib mengesakan Allah dalam hal ibadah, tidak boleh menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala.
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya.
Syirik adalah memalingkan atau memberikan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah subhanahu wa ta’ala kepada selain Allah; sesuatu yang khusus milik Allah subhanahu wa ta’ala tetapi disekutukan dengan selain Allah.
Allah mengkhususkan ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya, jika kita menujukannya atau memberikannya kepada selain Allah berarti kita telah menyekutukan-Nya.
Syirik adalah memalingkan segala sesuatu yang menjadi hak mutlak milik Allah kepada selain-Nya, seperti kepada nabi atau malaikat.
Bahaya syirik adalah tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Wajib bertaubat dari kesyirikan. Orang yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah, maka tidak akan diampuni.
Syirik akan menghapuskan dan menghanguskan seluruh amal ibadah yang kita lakukan. Orang yang terjatuh dalam syirik akbar kelak akan kekal di dalam api neraka dan tidak akan pernah keluar dari neraka tersebut (jika tidak sempat bertaubat sampai matinya).
Kaidah Pertama
Makna kaidah pertama adalah orang-orang musyrik Arab dahulu mengetahui dan meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Pencipta yang memberikan rezeki dan yang mengatur alam semesta ini, tetapi mereka mengingkari kewajiban hanya beribadah kepada-Nya.
Kaidah pertama ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa hanya dengan tauhid rububiyah seseorang sudah masuk Islam.
Jika orang-orang musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi, dan siapa yang mengorbitkan matahari dan bulan di tempat orbitnya, maka mereka akan menjawab Allah.
Orang-orang musyrik Arab di zaman dahulu ada juga yang terjatuh dalam syirik rububiyah, seperti keyakinan bahwa para dukun bisa memberi manfaat kepada mereka dan juga bisa memberi mudarat.
Orang yang meyakini tauhid rububiyah bahwa Allah sebagai Pencipta dan pemberi rezeki, ia juga wajib meyakini tauhid uluhiyah Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.
Kesimpulan Kaidah Pertama: Orang-orang musyrik Arab zaman dahulu meyakini rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi mereka menyekutukan Allah dalam tauhid uluhiyah. Mereka menyembah, menyeru, dan berdoa kepada Allah dan juga kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga mereka tidak termasuk orang Islam berdasarkan hukum yang ditetapkan Al-Qur’an.
Kaidah Kedua
Makna kaidah kedua adalah orang-orang musyrik Arab dahulu menyembah selain Allah dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk mendapat syafaat dari-Nya, atau agar patung-patung itu kelak memberikan syafaat di sisi-Nya. Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat penting yang menjadi bantahan bagi orang yang tidak mengkafirkan perbuatan menyembah kepada selain Allah untuk tujuan mendekatkan diri kepada-Nya dan/atau untuk mendapat syafaat di sisi-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala sendiri membantah perbuatan mereka yang mengaku tidak menyembah berhala dan berdalih bahwa yang mereka lakukan hanya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan untuk mendapat syafaat.
Dalil lain yang mengkafirkan orang-orang musyrik yang melakukan hal-hal di atas adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjelaskan bahwa mereka sejatinya menyembah kepada sesuatu yang tidak mampu memberi manfaat sedikitpun dan tidak pula mampu mendatangkan mudarat kepada mereka.
Syafaat yang diizinkan Allah hukumnya boleh, dan syafaat yang tidak diizinkan oleh Allah maka tidak boleh. Berdoa kepada selain Allah terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah subhanahu wa ta’ala termasuk syirik, seperti meminta syafaat kepada selain Allah, karena yang mampu memberikan dan mengizinkan syafaat hanya Allah semata.
Kesimpulan Kaidah Kedua: Orang musyrik yang menyembah selain Allah sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah atau untuk mendapat syafaat dari Allah, perbuatan itu merupakan perbuatan yang salah dan termasuk perbuatan syirik.
Kaidah Ketiga
Makna kaidah ketiga adalah orang-orang musyrik yang pada waktu itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka, menyembah sesembahan yang beraneka ragam. Ada yang menyembah matahari, bulan, malaikat, orang saleh, batu, dan ada pula yang menyembah pohon. Namun, Allah tetap menghukumi mereka semua sebagai orang-orang musyrik. Kaidah ini sangat penting dan menjadi bantahan bagi orang yang berpemahaman salah, yang mengatakan bahwa ketika meminta kepada selain Allah, mereka hanya menjadikannya sebagai wasilah saja, bukan menyembah mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala melarang umat manusia menyembah matahari dan tidak boleh pula menyembah bulan. Demikian juga Allah melarang mereka menyembah malaikat, para nabi, dan juga orang-orang saleh, meskipun mereka hanya dijadikan sebagai wasilah saja. Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa apa yang mereka jadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, sesembahan itu sendiri sebenarnya mencari cara untuk mendekatkan diri mereka sendiri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrikin menyembah berhala adalah ayat yang menjelaskan bahwa mereka menyembah Latta, Uzza, dan Manat.
- Latta adalah batu besar yang ada di Thaif (yang dahulu digunakan oleh seorang saleh untuk mengaduk adonan roti bagi jamaah haji).
- Uzza adalah pohon (yang dikelilingi bangunan dan tirai di lembah Nakhlah).
- Manat adalah batu besar yang disembah yang ada di antara jalan dari Mekah ke Madinah (di daerah Qudaid).
- Dzatu Anwat adalah pohon besar yang disembah (untuk menggantungkan senjata-senjata mereka).
Kesimpulan Kaidah Ketiga: Orang-orang musyrikin zaman dahulu menyembah pohon, batu, malaikat, matahari, bulan, orang-orang saleh, dan juga para nabi.
Kaidah Keempat
Makna kaidah keempat adalah orang-orang musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibanding orang-orang musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mempersekutukan Allah dalam ibadah maka ia telah musyrik. Orang-orang musyrik zaman dahulu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala hanya ketika mereka dalam keadaan lapang, tetapi ketika dalam keadaan sempit atau mengalami keadaan bahaya, mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalilnya adalah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ketika mereka di tengah lautan dan dalam kondisi terdesak (bahaya)—mereka tidak tahu apakah masih akan bisa hidup atau akan mati—mereka kembali kepada Allah dan hanya memurnikan doa kepada-Nya. Mereka melupakan semua sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala.
Berbeda dengan orang-orang musyrik di zaman sekarang. Sebagian orang yang mengaku Islam, ketika mereka tertimpa kesulitan (atau bahkan saat berhaji), mereka menyeru makhluk dan bukan menyeru Allah subhanahu wa ta’ala. Perbuatan ini termasuk perbuatan syirik. Orang yang telah mengucapkan syahadat Laa ilaha illallah wajib konsisten di atas kalimat ini, yaitu hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Kesimpulan Kaidah Keempat: Orang-orang musyrik di zaman ini kesyirikannya lebih parah daripada orang-orang musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka berbuat syirik baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Turahmin, BA, S.pd. M.H.