قال: (باب الإعراب الإِعْرَابُ هُوَ : تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ لاخْتِلَافِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظاً أَوْ تَقْدِيراً
Mushannif (Penulis Matan) berkata:
Bab I’rab. I’rab adalah perubahan akhir/ujung-ujung kata karena perbedaan faktor penyebab (amil) yang masuk padanya, baik secara diucapkan (lafidzan) maupun dikira-kira (taqdiran).
Dan aku (Syekh Muhammad Muhyiddin selaku pensyarah) berkata: I’rab memiliki dua makna: pertama makna secara bahasa (etimologi), dan kedua makna secara istilah (terminologi).
Adapun maknanya secara bahasa adalah: Menampakkan dan menjelaskan. Contohnya, Anda mengatakan: “A’rabtu ‘amma fii nafsi” (Aku telah meng-i’rab-kan apa yang ada di dalam hatiku), artinya jika Anda telah menjelaskan dan menampakkannya.
Adapun maknanya secara istilah adalah: Apa yang disebutkan oleh penulis matan melalui ucapannya: “Taghyiru awakhiril kalimi… dan seterusnya.”
Maksud dari kalimat “perubahan akhir kata” di sini adalah perubahan kondisi/status pada akhir kata tersebut. Sebab, tidak masuk akal jika yang dimaksud adalah mengubah fisik huruf paling belakang, karena huruf terakhir dari suatu kata itu sendiri tidak berubah sama sekali (misalnya huruf Dal pada kata Muhammad tidak akan berganti menjadi huruf lain).
Maka, yang dimaksud dengan “perubahan kondisi akhir kata” adalah peralihannya dari status Rafa’ ke Nashab, atau ke Jar—baik perubahan itu terjadi secara nyata (bisa diucapkan) maupun secara hukum (dikira-kira).
Perubahan status ini terjadi akibat adanya perubahan amil (faktor pengubah/perintah tugas). Yaitu dari amil yang menuntut status Rafa’ karena kata tersebut bertindak sebagai pelaku (Fa’il) atau sejenisnya, berubah menjadi amil lain yang menuntut status Nashab karena ia bertindak sebagai objek (Maful bih) atau sejenisnya, dan begitu seterusnya.
Sebagai contoh: Jika Anda mengatakan: حَضَرَ مُحَمَّدٌ فمحمد “Hadhara Muhammadun” (Muhammad telah hadir), maka kata Muhammad di sini berstatus Rafa’. Mengapa? Karena ia dipengaruhi oleh amil yang menuntutnya untuk Rafa’ sebagai pelaku (Fa’il), dan amil tersebut adalah kata kerja “hadhara”.
Lalu jika Anda mengatakan: رأيت محمداً “Ra-aitu Muhammadan” (Aku melihat Muhammad), maka kondisi akhir pada kata Muhammad langsung berubah menjadi Nashab. Hal ini terjadi karena amil-nya sudah berganti dengan amil baru yang menuntut status Nashab, yaitu kata “ra-aitu”.
Kemudian jika Anda mengatakan: حظيت بمحمد“Hazhaytu bi-Muhammadin” (Aku beruntung/senang bersama Muhammad), maka kondisi akhirnya berubah lagi menjadi menjadi Jar; hal ini karena adanya perubahan amil dengan amil lain yang menuntut status Jar, yaitu huruf Ba’ (بـ).
Jika Anda mengamati contoh-contoh tadi, maka akan jelas bagi Anda bahwa huruf paling akhir dari kata tersebut—yaitu huruf Dal pada kata Muhammad—fisiknya sama sekali tidak berubah. Yang berubah hanyalah kondisi/status di akhir/ujung kata tersebut. Anda bisa melihatnya berstatus Rafa’ (berharakat dhammah) pada contoh pertama, berstatus Nashab (berharakat fathah) pada contoh kedua, dan berstatus Jar (berharakat kasrah) pada contoh ketiga.
Perubahan dari kondisi Rafa’ ke kondisi Nashab lalu ke kondisi Jar inilah yang disebut sebagai I’rab menurut penulis matan (Ibnu Ajurrum) dan orang-orang yang sepadan dengan mazhab beliau. Sedangkan tiga gerakan harakat ini—yaitu Rafa’, Nashab, dan Jar—merupakan tanda dan simbol bukti adanya I’rab tersebut.
Sama halnya dengan Isim (kata benda), Fi’il Mudhari’ (kata kerja) juga mengalami hal yang serupa. Jika Anda mengatakan: يُسَافِرُ إبراهيم “Yusaafiru Ibraahiimu” (Ibrahim sedang/akan bepergian), maka kata Yusaafiru adalah Fi’il Mudhari’ yang berstatus Rafa’. Mengapa? Karena kata tersebut bersih (bebas) dari amil yang bisa membuat-nya Nashab ataupun amil yang bisa membuat-nya Jazm.
Namun, jika Anda mengatakan: لَنْ يُسَافِرَ إبراهيم “Lan yusaafira Ibraahiimu” (Ibrahim tidak akan bepergian), maka kondisi kata Yusaafiru langsung berubah dari Rafa’ menjadi Nashab (menjadi Yusaafira). Hal ini terjadi karena amilnya telah berganti dengan amil lain yang menuntut status Nashab, yaitu kata “Lan”.
Lalu jika Anda mengatakan: لَمْ يُسَافِرُ إبراهيمُ “Lam yusaafir Ibraahiimu” (Ibrahim belum/tidak bepergian), maka kondisi kata Yusaafiru berubah lagi dari yang tadinya Rafa’ atau Nashab menjadi Jazm (Sukun/Mati). Hal ini disebabkan karena amilnya berganti dengan amil lain yang menuntut status Jazm, yaitu kata “Lam”.
Ketahuilah, bahwa perubahan (I’rab) ini terbagi menjadi dua macam: Lafidzi (nyata/terucap) dan Taqdiri (tersembunyi/dikira-kira).
- Adapun yang Lafidzi adalah: Perubahan yang tidak terhalang oleh apa pun untuk diucapkan oleh lidah kita, seperti yang sudah Anda lihat pada harakat huruf Dal pada kata Muhammad, serta harakat huruf Ra’ pada kata Yusaafiru.*
- Adapun yang Taqdiri adalah: Perubahan yang terhalang untuk diucapkan oleh lidah karena adanya faktor penghalang, baik berupa Ta’addzur (mustahil muncul harakat), Istitsqal (terlalu berat di lidah), ataupun Munasabah (penyesuaian harakat huruf sebelum Ya’ Mutakallim).*
Sebagai contoh, Anda mengatakan: يَدْعُو الفتى والقاضي وغلامي “Yad’ul fataa wal qaadhii wa ghulaamii” (Pemuda, hakim, dan pembantuku itu sedang berdoa). Pada kalimat ini, harakat Dhammah-nya disembunyikan (dikira-kira) di akhir kata karena terhalang oleh faktor mustahil (Ta’addzur) atau berat (Tsiqal).
Penjelasannya: Kata Yad’u berstatus Rafa’ karena ia bersih dari amil penashab maupun penjazm. Kata Al-Fata berstatus Rafa’ karena posisinya sebagai pelaku (Fa’il). Begitu pula dengan kata Al-Qaadhi dan Ghulaami keduanya juga berstatus Rafa’ karena dihubungkan (Ma’thuf) kepada pelaku (Fa’il) yang berstatus Rafa’ tersebut. Akan tetapi, harakat Dhammah tidak dapat muncul di ujung kata-kata ini. Alasannya: karena mustahil (Ta’addzur) pada kata Al-Fata, terlalu berat (Tsiqal) pada kata Yad’u dan Al-Qaadhi, serta demi menyesuaikan huruf Ya’ Mutakallim (Ya kepunyaan) pada kata Ghulaamii.
Oleh karena itu, harakat Dhammah-nya dikira-kira (disembunyikan) di akhir kata tersebut karena ada faktor yang mencegah kemunculannya, yaitu: Ta’addzur (mustahil), Tsiqal (berat), atau Isytighalul Mahalli bi Harakatil Munasabah (tempatnya sudah terisi oleh harakat penyesuaian).
Contoh lainnya, Anda mengatakan: لَنْ يَرْضَى الْفَتَى وَالْقَاضِي وَغُلَامِي “Lan yardhal fataa wal qaadhii wa ghulaamii” (Pemuda, hakim, dan pembantuku tidak akan rela). Anda juga mengatakan: “Innal fataa wa ghulaamii lafaa-izaani” (Sesungguhnya pemuda dan pembantuku benar-benar dua orang yang menang). Dan Anda mengatakan: “Marartu bil fataa wa ghulaamii wal qaadhii” (Aku berpapasan dengan pemuda, pembantuku, dan hakim itu).
Dari contoh-contoh di atas, kita bisa membuat tiga kesimpulan besar:
1. Kelompok Kata yang Berakhiran Huruf Alif Mati (Isim Maqshur)
Setiap kata yang ujungnya berupa huruf Alif Lazimah (Alif paten/mati), maka semua jenis harakat (Dhammah, Fathah, maupun Kasrah) harus disembunyikan/dikira-kira karena alasan Ta’addzur (mustahil muncul harakat). Isim yang berakhiran Alif ini disebut dengan Isim Maqshur.
Contohnya: الْفَتَى (Al-Fata / Pemuda), الْعَصَا (Al-’Asha / Tongkat), الْحِجَى (Al-Hija / Akal), الرَّحَى (Ar-Raha / Alat giling), dan الرِّضَا (Ar-Ridha / Kerelaan).
2. Kelompok Kata yang Berakhiran Huruf Ya Mati (Isim Manqush)
Setiap kata yang ujungnya berupa huruf Ya Lazimah (Ya paten/mati dan huruf sebelumnya kasrah), maka hanya harakat Dhammah dan Kasrah saja yang disembunyikan karena alasan Tsiqal (terlalu berat di lidah). Isim jenis ini disebut dengan Isim Manqush.
Namun perlu dicatat, khusus untuk harakat Fathah, ia tetap wajib dimunculkan (tampak jelas) karena sifat harakat Fathah itu sangat ringan diucapkan di atas huruf Ya.
Contohnya: الْقَاضِي (Al-Qaadhii / Hakim), الدَّاعِي (Ad-Daa’ii / Penyeru), الْغَازِي (Al-Ghaazii / Pejuang), السَّاعِي (As-Saa’ii / Orang yang berusaha), الْآتِي (Al-Aatii / Yang akan datang), dan الرَّامِي (Ar-Raamii / Pemanah).
Catatan Pelajar: Saat Rafa’ dibaca Al-Qaadhii (Dhammah sembunyi), saat Jar dibaca Bil-Qaadhii (Kasrah sembunyi), tapi saat Nashab wajib dibaca jelas: Al-Qaadhiya! (Fathah tampak).
3. Kelompok Kata yang Ditempeli “Ya Kepunyaanku” (Mudhaf ila Ya’il Mutakallim)
Setiap kata yang disambungkan dengan Ya’ Mutakallim (huruf Ya yang berarti “milikku”), maka semua jenis harakat harus disembunyikan karena alasan Munasabah (penyesuaian). Lidah terpaksa membaca kasrah di semua kondisi agar serasi dengan huruf Ya setelahnya.
Contohnya: غُلَامِي (Ghulaamii/Pembantuku), كِتَابِي (Kitaabii/Kitabku), صَدِيقِي (Shadiiqii/Temanku), اِبْنِي (Ibnii/Anak lak-lakiku), dan أُسْتَاذِي (Ustaadzii/Guruku).
Rangkuman Visual untuk Mempermudah Belajar (I’rab Taqdiri)
| Jenis Kata | Contoh Kata | Harakat yang Disembunyikan | Alasan Logisnya |
| Isim Maqshur (Akhir Alif) | الْفَتَى ، الْعَصَا | Semua Harakat ( ُ َ ِ ) | Ta’addzur (Lidah mustahil membunyikan harakat di atas Alif mati). |
| Isim Manqush (Akhir Ya) | الْقَاضِي ، الدَّاعِي | Dhammah & Kasrah saja (Fathah tetap muncul) | Tsiqal (Bisa diucapkan tapi rasanya aneh dan berat bagi orang Arab). |
| Idhafah ke Ya Mutakallim | كِتَابِي ، أُسْتَاذِي | Semua Harakat ( ُ َ ِ ) | Munasabah (Harakat asli mengalah demi kenyamanan huruf Ya). |