Kaidah Yang Empat (Al-Qaqa’idul Arba’

226 Pembaca

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb Arsy yang Agung, agar Ia senantiasa melindungimu di dunia maupun akhirat. Semoga Ia menjadikanmu pribadi yang diberkahi di mana pun berada, serta sosok yang pandai bersyukur saat diberi nikmat, bersabar ketika diuji, dan beristighfar jika terjatuh dalam dosa. Sebab, sejatinya ketiga perkara itulah tanda kebahagiaan yang hakiki.

Ketahuilah—semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbingmu untuk taat kepada-Nya—bahwa agama yang lurus adalah agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yaitu engkau beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dengan memurnikan ketaatan hanya bagi-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلَاّ لِيَعْبُدُونِسورة الذاريات: 56

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” QS: Adz-Dzariyat: 56.

Jika engkau telah menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakanmu semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah sah tanpa tauhid—sebagaimana shalat tidaklah sah tanpa thaharah (bersuci).

Apabila kesyirikan menyusup ke dalam ibadah, maka rusaklah ibadah tersebut, persis seperti hadas yang membatalkan thaharah. Jika engkau telah memahami bahwa syirik yang mencampuri ibadah akan menghanguskan amal dan menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka, maka engkau tentu menyadari bahwa perkara terpenting bagimu adalah memahami hal ini sedalam-dalamnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanmu dari jeratan kesyirikan ini, sebagaimana firman-Nya:”

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ. سورة النساء: 48

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. QS: An-Nisa: 48.

Hal tersebut dapat engkau pahami dengan mendalami empat kaidah yang telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya:

Kaidah pertama

Engkau perlu mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Sang Pencipta sekaligus Pengatur alam semesta. Namun, pengakuan tersebut tidak serta-merta memasukkan mereka ke dalam Islam.

Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ. سورة يونس: 31

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka, mereka akan menjawab, “Allah.” Maka, katakanlah, “Apakah kamu tidak takut (akan azab Allah)?” QS: Yunus: 31.

Kaidah kedua

Mereka megatakan, “Kami tidaklah berdoa dan menghadapkan diri kepada mereka (sembahan selain Allah), melainkan hanya untuk mencari kedekatan diri kepada Allah serta mengharapkan syafaat.”

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa alasan mereka melakukan hal itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu…

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ. سورة الزمر: ٣

Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar. QS: Az-Zumar: 3.

Dalil untuk mencari syafaat adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ. سورة يونس: ١٨

Mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat. Mereka berkata, “Mereka (sembahan) itu adalah penolong-penolong kami di hadapan Allah.” QS: Yunus: 18.

Syafaat itu terbagi menjadi dua macam: Syafaat Manfiyah (yang diingkari/ditiadakan) dan Syafaat Mutsbattah (yang ditetapkan/dibenarkan).

Syafaat Manfiyah adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara yang tidak ada satu pun yang mampu mengabulkannya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri.

Dalilnya Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌ ۗوَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ. سورة البقرة: 254

Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari (Kiamat) yang tidak ada (lagi) jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim. QS: Al-Baqarah: 254.

Sedangkan Syafaat Mutsbattah (yang ditetapkan) adalah syafaat yang dimohonkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal ini, pemberi syafaat adalah orang yang telah dimuliakan oleh Allah untuk memberikan syafa’at, sementara penerima syafaat adalah orang yang diridhai ucapan maupun perbuatannya oleh Allah, dan itu pun hanya bisa terjadi setelah mendapatkan izin dari-Nya.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ. سورة البقرة: 255

Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. QS: Al-Baqarah: 255.

Kaidah ketiga

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah umat yang memiliki peribadahan beraneka ragam. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para nabi serta orang-orang shalih, hingga ada yang menyembah pepohonan, bebatuan, serta matahari dan bulan. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semua tanpa membeda-bedakan satu sama lain.

Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقَاتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهٗ لِلّٰهِۚ. سورة الأنفال: 39

Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah (penganiayaan atau syirik) dan agama seutuhnya hanya bagi Allah. QS: Al-Anfal: 59.

Dalil tentang matahari dan bulan, firman Allah subhanallah wa ta’ala,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ. سورة فصلت: 37

Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. QS: Fushilat: 37.

Dalil tentang malaikat firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَاباً. سورة ٱل عمران,: 80

Tidak (sepatutnya) pula dia menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. QS: Ali Imran: 80.

Dalil tentang para nabi firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَاّمُ الْغُيُوبِ. سورة المائدة: 116

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” QS: Al-maidah: 116.

Dalil tentang orang-orang shalih, firman Allah subhanahu wa ta’ala

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ. سورة الإسراء: 57

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka (sendiri) mencari jalan kepada Tuhan (masing-masing berharap) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka juga mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” QS: Al-Isra’: 57.

Dalil tentang pohon-pohon dan batu-batu, firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَفَرَأَيْتُمُ اللَاّتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى. سورة النجم: 19-20

Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza, serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)? QS: An-Najm: 19-20.

حديث أبي واقد الليثي رضي الله عنه قال: “خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط، كما لهم ذات أنواط”. الحديث

Hadis Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu anhu, “Kami pernah pergi bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke perang hunain, dan pada waktu itu kami baru lepas dari kekafiran, orang-orang musyrik memiliki pohon bidara yang digunakan untuk beriktikaf (berdiam diri di situ sebagai bentuk ibadah) dan untuk menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon itu disebut Zatu Anwath, kemudian kami melewati sebuah pohon bidara, lalu kami pun berkata, ‘Wahai Rasulullah buatkanlah untuk kami Zatu ANwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Zatu Anwath’.” Hadis

Kaidah Keempat

(Ketahuilah) bahwa kaum musyrik di zaman kita ini memiliki kesyirikan yang lebih parah dibandingkan kaum musyrik di masa terdahulu. (Mengapa demikian?) Karena orang-orang musyrik di zaman dahulu hanya menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala saat dalam keadaan lapang, namun mereka akan memurnikan ibadah kepada-Nya ketika dalam keadaan sulit atau terjepit bahaya. Sementara itu, kaum musyrik di zaman kita melakukan kesyirikan secara terus-menerus, baik dalam keadaan lapang maupun saat sulit sekalipun.

Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ. سورة العنكبوت: 65

Apabila naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya. Akan tetapi, ketika Dia (Allah) menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). QS: AL-Ankabut: 65.

Selesai

وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم

Wa shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa sallam.

Alih bahasa; Turahmin, BA, S.Pd, M.H.

Senin, 22 September 2025. 10.04.

Tinggalkan komentar