4 Pembaca
Fawaid Daurah
1. Rahmat Allah dan Anjuran Berkasih Sayang
- Rahmat Mengalahkan Murka: Rahmat (kasih sayang) Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahului dan mengalahkan kemurkaan-Nya.
- Saling Menyayangi: Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Zat yang ada di langit (Allah Subhanahu wa Ta’ala) akan menyayangi kita.
2. Kunci Memahami Ilmu dan Adab Belajar
- Membaca Berulang-ulang: Kunci penting agar kita mampu memahami sebuah karya/kitab adalah dengan membacanya secara berulang-ulang. Pengulangan tersebut akan menambah pengetahuan dan memperkuat wawasan.
- Nutrisi Hati: Perbanyaklah membaca Al-Qur’an setiap hari atau sesering mungkin, karena Al-Qur’an merupakan nutrisi utama bagi hati kita.
- Pengorbanan dalam Belajar: Jangan takut lelah karena menuntut ilmu. Meskipun tubuh merasa capek, ilmu yang didapat akan memberikan kepuasan batin. Ilmu hanya bisa diperoleh dengan kerja keras dan kesungguhan, bukan dengan bersantai-santai.
- Kenyamanan Mempelajari Ilmu: Orang yang terbiasa dan konsisten mempelajari ilmu syar’i akan merasakan ketenangan dan kenyamanan selama proses belajarnya.
3. Kitab Al-Aqidah Al-Wajizah dan Anjuran Menghafal
- Penulis Kitab: Risalah Al-Aqidah Al-Wajizah ditulis oleh Syaikh Abu Ali Muhammad bin Sulaiman Al-Musyarrafi. Risalah ini merupakan ringkasan (mukhtashar) dari kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah.
- Anjuran Menghafal: Matan Al-Aqidah Al-Wajizah sangat bagus untuk dihafalkan guna memperkokoh pemahaman akidah.
- Memanfaatkan Waktu: Manfaatkan waktu luang untuk menghafal dan jangan pernah malas dalam prosesnya.
4. Hukum Bertawasul dan Mempersaksikan
- Tawasul yang Disyariatkan: Bertawasul kepada Allah dengan menggunakan Nama-Nama-Nya Yang Mahaindah (Asma’ul Husna) adalah hal yang disyariatkan dalam agama.
- Makna Mempersaksikan: Mempersaksikan artinya menjadikan pihak lain sebagai saksi atas suatu hal.
- Menjadikan Saksi: Menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, maupun orang-orang yang ada di sekitar kita sebagai saksi hukumnya diperbolehkan secara syariat.
5. Pokok-Pokok Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Kita wajib berpegang teguh pada akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dalam mengimani Rukun Iman:
A. Hakikat Iman
- Bukan Sekadar Tahu: Iman adalah meyakini dengan mantap serta menjalankan konsekuensi dari keyakinan tersebut, bukan hanya sekadar tahu atau paham. Jika hanya sekadar tahu, Iblis pun tahu, namun pengetahuan itu tidak bermanfaat baginya karena tidak diamalkan.
- Tiga Unsur Utama Iman:
- Keyakinan di dalam hati (wawasan dan ikrar hati).
- Pengakuan dengan lisan (ucapan).
- Pembuktian dengan anggota badan (amalan perbuatan).
B. Iman kepada Para Malaikat
- Meyakini secara mantap bahwa malaikat itu benar-benar ada.
- Di antara bukti keadaannya adalah hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang malaikat yang merasa terganggu oleh bau tidak sedap yang berasal dari tubuh manusia.
C. Iman kepada Kitab-Kitab Allah
- Mengimani kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah yang berisi informasi dan instruksi:
- Informasi/berita wajib kita percayai/imani.
- Instruksi/perintah dan larangan wajib kita amalkan dan jauhi.
- Kitab-kitab suci yang wajib diimani antara lain: Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an.
D. Iman kepada Para Rasul
- Mengimani bahwa Allah telah mengutus sebagian manusia sebagai nabi dan rasul.
- Kaidah dasar: Setiap rasul pasti seorang nabi, tetapi tidak setiap nabi adalah seorang rasul.
E. Iman kepada Hari Akhir (Hari Kebangkitan)
- Mengimani kehidupan setelah kematian dan hari kiamat.
- Urutan Hari Akhir dimulai sejak manusia memasuki alam barzakh (alam kubur), hingga kelak seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya (al-ba’ts).
F. Iman kepada Takdir (Qadar)
- Mengimani bahwa segala sesuatu telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hari kiamat secara detail dan terperinci.
- Seluruh takdir/ukuran telah ditetapkan oleh Allah, baik berkaitan dengan takdir itu sendiri maupun sebab-sebab terjadinya.
6. Kaidah Penting dalam Mengimani Nama dan Sifat Allah (Asma’ wa Sifat)
- Mencakup Nama dan Sifat: Tergolong dalam bagian iman kepada Allah adalah mengimani apa saja yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa Nama-Nama maupun Sifat-Sifat-Nya.
- Melaksanakan Konsekuensi: Mengimani Nama dan Sifat Allah wajib diiringi dengan mengamalkan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, ketika beriman kepada sifat Allah Al-Ghaffar (Maha Pengampun), maka saat bermunajat memohon ampun, hati kita harus benar-benar menghayati sifat pengampunan-Nya.
- Membedakan Sifat dan Dampaknya: Harus dipahami perbedaan antara Sifat Allah dengan bekas/dampak (atsar) yang dihasilkan dari Sifat tersebut.
- Prinsip Mengimani Sifat Allah (Tanpa Menyimpang): Mengimani Sifat Allah dilakukan dengan mengimani apa adanya sesuai tekstual dan makna lahiriahnya, dengan menjauhi penyimpangan berikut:
- Tanpa Ta’thil (Mengenolkan/Menolak): Tidak boleh menolak atau mengenolkan Sifat Allah, baik dengan cara menolak dalil-dalilnya maupun memalingkan maknanya.
- Tanpa Tahrif (Menyelewengkan): Wajib menetapkan Sifat sesuai dengan yang disifatkan oleh Allah bagi diri-Nya tanpa memalingkan atau mengubah ayat/hadis dari pengertian zhahir-nya.
- Tanpa Takyif (Membagaimanakan): Tidak boleh berusaha menjelaskan bentuk, keadaan, atau wujud nyata (kaifiyyah) dari Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Tanpa Tamtsil/Tasybih (Menyerupakan): Tidak boleh menyamakan Sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, karena Sifat Allah Mahasempurna dan tidak mungkin serupa dengan sifat makhluk yang penuh keterbatasan.
- Bentuk Penyimpangan Asma’ wa Sifat: Termasuk bentuk penyimpangan adalah menganggap bahwa nama Allah sekadar nama tanpa mengandung makna/sifat, atau mengganti makna sifat tersebut dengan makna lain yang tidak diinginkan oleh dalil (ta’wil yang batil).
- Tadabur: Kita hendaknya senantiasa mentadaburi dan menghayati makna dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah agar iman semakin kuat.
Disarikan dari risalah Al-Aqidah Al-Wajizah karya Syaikh Abu ‘Ali Muhammad bin Sulaiman Al-Musyarrafi rahimahullah.
Lokasi Daurah: Masjid Pusat Islamic Center Bin Baz, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, DIY, Rabu, 30 September 2026, 07.45 an-Menjelang Dhuhur.