Fawaid Daurah: Kesempurnaan Sifat Allah, Posisi Moderat (Wasathiyah) Ahlussunnah, dan Takdir

5 Pembaca

Fawaid Ta’lim

1. Prinsip Kesempurnaan Nama dan Sifat Allah (Asma’ wa Sifat)
  • Kesempurnaan Sifat Allah: Sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih sempurna daripada sifat makhluk, meskipun secara sebutan kata memiliki kesamaan (misalnya: Melihat, Mendengar).
  • Menetapkannya Tanpa Tamtsil: Wajib menetapkan sifat-sifat Allah bagi diri-Nya tanpa menyamarkannya (tamtsil/tasybih) dengan sifat makhluk.
  • Tidak Ada yang Setara: Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada yang sepadan, sebanding, setara, maupun menandingi-Nya.
  • Informasi Paling Valid: Allah lebih tahu tentang diri-Nya daripada makhluk-Nya. Oleh karena itu, informasi dari Allah dan Rasul-Nya mengenai diri-Nya merupakan informasi yang paling valid dan terpercaya.
  • Kejujuran Perkataan Allah: Ucapan Allah adalah paling benar dan paling baik perkataan-Nya, serta sifat-sifat-Nya tidak bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan sifat makhluk-Nya.
  • Penyucian Diri Allah: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyucikan diri-Nya dari sifat-sifat kekurangan dan sifat-sifat yang dituduhkan oleh kelompok-kelompok yang menyelisihinya.
  • Bentuk Larangan Utama:
    • Tidak boleh membagaimanakan (takyif) wujud hakiki sifat Allah.
    • Tidak boleh menyamakan (tamtsil) sifat Allah dengan sifat makhluk.
    • Tidak boleh menafikan atau menolak (ta’thil) sifat-sifat Allah.
    • Tidak boleh memalingkan maknanya (tahrif/ta’wil yang batil) dari makna yang seharusnya.
  • Landasan Moderat dalam Asma’ wa Sifat: Menetapkan Nama dan Sifat Allah tanpa menyelewengkannya ke makna lain, serta menyucikan Allah dari sifat kekurangan tanpa menolak (menafikan) sifat-sifat-Nya.
2. Makna Firqatun Najiyah dan Wasathiyah (Sikap Moderat)
  • Hakikat Moderat (Wasath): Firqatun Najiyah (golongan yang selamat/Ahlussunnah) adalah golongan yang berada di pertengahan (wasath) secara benar, adil, dan baik (al-‘adl wal-khair), bukan sekadar asal mengambil posisi tengah.
3. Posisi Moderat Ahlussunnah dalam Berbagai Isu Akidah
A. Sikap Pertengahan dalam Isu Takdir dan Perbuatan Hamba

Ahlussunnah berada di tengah-tengah antara kelompok Qadariyah (yang didukung Mu’tazilah) dan Jabriyah (serta Asy’ariyah dalam konsep kasb):

Unsur PembahasanKelompok Qadariyah / Mu’tazilahKelompok Jabriyah / Asy’ariyahKelompok Ahlussunnah wal Jama’ah
Pelaku PerbuatanHamba (secara mandiri)Tuhan (Hamba dianggap terpaksa)Hamba (Pilihan & kehendak milik hamba)
Pencipta PerbuatanHamba sendiri (Bukan Allah)TuhanAllah (Menciptakan hamba & perbuatannya)
  • Prinsip Utama: Perbuatan hamba adalah makhluk ciptaan Allah. Berarti yang berbuat dan memikul tanggung jawab adalah hamba, sedangkan yang menciptakan hamba beserta perbuatannya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Tanggung Jawab: Tanggung jawab moral dan pembalasan pahala/dosa sepenuhnya dipikul oleh hamba sebagai pelaku perbuatan.
B. Sikap Pertengahan dalam Masalah Ancaman Allah (Wa’id)

Ahlussunnah berada di antara kelompok Murji’ah dan Wa’idiyah (Khawarij & Mu’tazilah):

  • Murji’ah: Berpendapat bahwa ancaman azab Allah tidak akan berlaku selama seseorang memiliki iman. Dosa tidak membahayakan keimanan.
  • Wa’idiyah: Berpendapat bahwa ancaman dosa besar pasti terlaksana dan pelakunya kekal di dalam neraka.
  • Ahlussunnah wal Jama’ah: Berpendapat bahwa ancaman Allah bagi pelaku dosa besar di bawah kehendak Allah (tahta masyi’atillah): bisa saja dilaksanakan atau diampuni. Jika azab itu dilaksanakan, pelaku dosa besar dari kalangan tauhid tidak kekal di dalam neraka.
C. Sikap Pertengahan dalam Hakikat Iman

Ahlussunnah berada di antara kelompok Haruriyah (Khawarij)/Mu’tazilah dan Murji’ah:

  • Haruriyah & Mu’tazilah: Menganggap amalan adalah bagian mutlak dari iman; jika seseorang melakukan dosa besar atau meninggalkan ketaatan tertentu, maka imannya hilang sama sekali.
  • Murji’ah: Menganggap iman hanya sebatas keyakinan hati/ucapan; dosa apa pun tidak akan memengaruhi/mengurangi kualitas keimanan.
  • Ahlussunnah wal Jama’ah: Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan lisan, dan perbuatan dengan anggota badan. Iman memiliki tingkatan, dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan.
D. Sikap Pertengahan dalam Masalah Para Sahabat Nabi

(Melengkapi poin yang belum utuh dari naskah asli)

  • Ahlussunnah berada di pertengahan antara kelompok Rafidhah/Syi’ah (yang mengkafirkan atau membenci mayoritas sahabat) dan kelompok Nawashib (yang membenci dan memusuhi Ahlul Bait/keluarga Nabi). Ahlussunnah mencintai dan memuliakan seluruh Sahabat serta Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara adil.
4. Al-Qur’an adalah Kalamullah (Perkataan Allah)
  • Bukan Makhluk: Al-Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah) yang diturunkan dan bukan makhluk. Perkataan itu berasal dari Allah (minhu bada’a) dan akan kembali kepada-Nya kelak (wa ilaihi ya’ūd).
  • Definisi Perkataan: Makhluk berada di luar Zat Pencipta. Sifat dari sesuatu melekat pada pemilik sifat tersebut. Karena Al-Qur’an adalah firman Allah, maka ia adalah sifat Allah (bukan ciptaan/makhluk).
  • Sandaran Hakikat Kalam: Penetapan Al-Qur’an sebagai Kalamullah dinisbatkan kepada kandungan isi dan Siapa yang pertama kali mengucapkannya (yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala), bukan pada media fisik seperti kertas, tinta, atau lidah manusia yang membacanya.
  • Firman secara Hakiki: Allah benar-benar berbicara (takallama) dengan Al-Qur’an secara hakiki, bukan sekadar ilusi atau kiasan.
  • Penyampaian Wahyu: Allah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantara Malaikat Jibril ‘alihissalam.
5. Kehendak Allah (Masyi’ah) dan Takdir di Lauhul Mahfuzh
  • Kehendak Mutlak Allah: Allah Subhanahu wa Ta me Maha Melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya (Fa”ālul limā yurīd).
  • Segala Sesuatu Atas Kehendak-Nya: Segala sesuatu di alam semesta muncul dan terjadi atas kehendak Allah, bukan secara kebetulan atau berdiri sendiri.
  • Cakupan Takdir: Tidak ada satu pun kejadian melainkan telah ditetapkan berdasarkan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Tercatat di Lauhul Mahfuzh: Semua takdir dan takdir perjalanan makhluk telah tertulis dan tercatat secara rinci di Lauhul Mahfuzh sebelum penciptaan alam semesta.

Disarikan dari risalah Al-Aqidah Al-Wajizah karya Syaikh Abu ‘Ali Muhammad bin Sulaiman Al-Musyarrafi rahimahullah.

Lokasi Daurah: Masjid Pusat Islamic Center Bin Baz, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, DIY, Rabu, 30 September 2026, 07.45 an-Menjelang Dhuhur.

Tinggalkan komentar