Nikmat Aman

29 Pembaca

Pemateri: Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafidhahullah

Fawaid Ta’lim

Berterimakasih kepada pemerintah Indonesia yang telah memudahkan terselengaranya daurah/pengajian ini. Dan juga berterimakasih kepada para ustadz, pengurus pesantren Jamilurrahman dan panitia daurah sehingga daurah ini bisa terlaksana dengan baik.

Nikmat aman dalam sebuah negeri merupakan nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, karena keamanan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman.

Keamanan di sebuah negeri akan tercapai jika masyarakatnya taat kepada para pemimpinnya. Jika masyarakat tidak taat kepada pemimpin maka akan timbul kekacauan. Apalagi jika banyak terjadi demontrasi maka keamanan akan hilang dan akan muncul berbagai macam kekacauan yang sulit dipadamkan.

Jika kita berada di negeri yang aman hendaknya kita menjaga keamanan tersebut dengan baik agar kita bisa melakukan berbagai macam kegiatan yang bermanfaat tanpa rasa was-was.

Keamanan akan memudahkan penduduk suatu negeri mudah untuk mendapatkan rizki yang banyak.

keamanan akan menjadikan para penduduknya tenang dalam mencari ma’isyah tanpa rasa cemas dan khawatir.

Keamanan suatu negeri akan menjadikan negeri tersebut mendapat rizki yang melimpah ruah, bahkan rizki itu akan datang dari berbagai macam arah.

Untuk menjaga keamanan suatu negeri penduduknya wajib bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat tersebut.

Keamanan sangat penting bahkan Nabi Ibrahim alaihissalam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjadikan Mekah sebagai negeri yang aman, kemudian baru berdoa agar Allah memberikan limpahan rizki kepada negeri Mekah tersebut. Keamanan dan limpahan rizki saling berkaitan.

Kemanan suatu negeri bisa diraih dengan hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan menjauhkan diri dari kesyirikan (menyembah berhala).

Negara wajib mewujudkan keamanan dengan cara mengangkat tentara dan polisi (pasukan) agar mereka membantu pemerintah menjaga keamanan di negeri tersebut.

Kekuatan sebuah negeri akan menjadikan negeri tersebut menjadi aman, karena keamanan sangat tergantung pada kekuatan yang ada di sebuah negeri tanpa kekuatan sebuah negeri akan lemah dan mudah diganggu oleh negeri-negeri lain yang lebih kuat.

Allah menggabungkan keamanan dan rizki dalam surat yang pendek yaitu surat al-Quraisy.

Orang yang mendapat keamanan, sehat dan memiliki makanan pokok di hari tersebut seolah-olah ia telah mendapat dunia seisinya.

Orang yang di pagi hari mendapat keamanan pada dirinya, maksudnya adalah aman di perjalanan, aman di rumah, istri dan anaknya mendapat ketenangan di rumah, mendapat makanan dan bisa tidur nyenyak.

Orang yang di pagi hari mendapat kesehatan fisik artinya badan sehat tanpa ada masalah, badan segar bugar tanpa penyakit sedikitpun (itu merupakan nikmat yang sangat agung, besar dan tentu sangat mahal).

Orang yang di pagi hari mendapat makanan pokok untuk hari tersebut artinya orang tersebut hanya mendapat makanan pokok pada hari itu saja itu merupakan nikmat yang sangat besar. Kadang kita yang sudah memiliki stok makanan pokok untuk satu bulan bahkan mungkin satu tahun sering merasa kurang dan tidak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, padahal jika kita memiliki makanan untuk satu hari saja itu merupakan nikmat yang sangat besar.

Mayoritas manusia hidup di dunia ini mencari dua perkara kebutuhan pokok yaitu keamanan dan rizki. Dan hakikatnya kedua kebutuhan pokok itu ada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Cara mendapat keamanan:

Pertama: mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan hak Allah.

Dalil:

الذين ٱمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون

Tauhid merupakan langkah paling penting dan wajib dilakukan oleh penduduk sebuah negeri jika mereka ingin mendapat keamanan dari Allah subhanahu wa ta’ala jangan sampai menyekutukan-Nya.

Tidak mencampur iman dengan kedzaliman maksudnya adalah tidak mencampur imannya dengan kesyirikan. Menjauhi kesyirikan sejauh-jauhnya akan mendatangkan keamanan dari Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dan di akhirat kelak.

Suatu negeri akan menjadi negeri yang kacau dan tidak tenteram jika penduduknya menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk mengamankan sebuah negeri jika negeri tersebut kacau atau tidak aman adalah dengan mendakwahkan tauhid dan memberi peringatan dari kesyirikan, agar penduduknya mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi kesyirikan.

Menyeru nama seseorang di samping kuburnya atau di tempat lain agar mendapat kesuksesan (kelulusan) dalam menempuh pendidikan, keamanan diperjalanan, kemudahan rizki dan kelancaran kelahiran dan lain-lain termasuk bentuk kesyirikan yang wajib dihindari sejauh-jauhnya.

Jika diperhatikan secara jujur masih banyak kaum muslimin yang melakukan hal tersebut.

Bentuk kesyirikan yang lain adalah dengan menggunakan jimat dan meyakini bahwa jimat itu bermanfaat baginya, bisa melariskan dagangan, bisa mendatangakann rizki, kecintaan orang lain dan lain sebagainya. Contoh jimat penglaris yang digantung di toko, atau disembunyikan di toko tersebut, pesugihan atau datang ke dukun agar usahanya lancar dan sukses. Bahkan kadang di hotel ada kebiasaan menjauhi nomer tertentu seperti nomer 13 atau angka lainnya.

Kemanan dan kesyirikan tidak akan pernah bersatu, artinya jika sebuah negeri penduduknya menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala maka negeri tersebut tidak akan mendapat keamanan. Selain itu keayirikan akan mendatangkan murka Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalil hadis dalam riwayat Imam Bukhari yang menjelaskan bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, ketika beliau sedang beriistirahat diacungkan pedang kepadanya, padahal beliau tidak memegang pedang, lalu orang itu bertanya siapa yang akan melindungimu sekarang? Dengan mantap dan yakin beliau menjawab: “Allah” lalu orang itu takut dan pedangnya jatuh. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambilnya dan mengacungkan kepada orang tersebut, orang itupun tidak visa berbiat apa-apa dan hanya pasrah lalu meminta kepada Rasulullah untuk berbuat baik dan tidak menyakitinya.

Kedua: mempraktekkan akhlak-akhlak Islam.

Wajib mempraktekkan akhlak-akhlak Islam terutama dalam maslaah harta, jiwa dan kehirmatan kaum muslimin.

Wajib menjaga harta, darah dan kehormatan orang mukmin, tidak merampas hartanya, tidak menumpahkan darahnya dan tidak menjatuhkan kehormatannya.

Demontrasi menentang pemerintah karena dianggap pemerintah sudah tidak berpihak kepada rakyat, pernah dilakukan oleh orang-orang khawarij di zaman para sahabat dulu. Bahkan mereka mencela salah satu sahabat yang tidak ikut melakukan demontrasi yaitu sahabat Imran bin Husain. Lalu Imran bin Husain menjelaskan bahwa perbuatan mereka itu justru mendatangkan fitnah (kekacauan).

Dahulu pernah ada seorang sahabat yang berperang lalu membunuh orang musyrik yang ketika hendak dibunuh mengucapakn syahadat dan mengaku muslim, lalu perbuatan itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau memarahi sahabat tersebut meskipun sahabat itu beralasan bahwa orang musyrik yang dibunuh itu mengucapkan syahadat hanya karena takut, beliau tidak menerima alasan itu bahkan kemudian mengatakan: “Apakah kamu sudah membelah dadanya sehingga tahu isi hatinya?” Artinya tidak boleh membunuh orang yang telah bersyahadat meskipun dalam peperangan

Dalam menilai seseorang hanya berdasarkan dhahirnya tidak perlu mengorek-orek hatinya. Jika seseorang sudah mengucapkan kalimat syahadat maka orang itu dinilai sebagai orang mukmin dan tidak perlu mengorek hatinya, apakah ucapan syahadat itu dari hatinya atau hanya sekedar dsri lisannya.

Ketiga: menjaga lisan

Tidak boleh mendzalimi orang mukmin atau orang lain dengan lisannya. Tidak boleh mencela, memaki atau menjatuhkan kehormatan orang lain dalam bentuk apapun dengan lisannya.

من كان يؤمن بالله واليوم الٱخر فليقل خيرا أو ليصمت

Lisan sangat berbahaya jika tidak dijaga dengan baik, bisa mengakibatkan kekacauan dan hilangnya keamanan di sebuah negeri.

Sebab terbunuhnya amirul mukminin Usman bin Affan adalah karena perovokasi (demintrasi).

Tidak bileh memprovokasi masyarakat untuk menjatuhkan pemerintah.

Lisan bisa mengantarkan kepada pertumpahan darah.

Menjaga lisan wajib dilakukan oleh setiap muslim.

Keempat: menerapkan sikap yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam bersikap kepada pemerintah.

Ada dua cara dalam bermuamalah dengan pemerintah muslim

Jika pemimpin itu adil dan berhukum dengan hukum Allah subhanahu wa ta’ala maka harus dibantu jangan diganggu sedikitpun.

jika pemimpin itu dzalim dan tidak menunaikan hak-hak rakyat maka harus bermuamalah dengan mereka dengan cara yang lembut dan baik, tidak mencemarkan nama baiknya, tidak melakukan demontrasi dan tidak menjelek-jelekkannya. Jika memberikan nasihat kepada mereka nasihat itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi empat mata dan dengan cara yang lemag lembut.

Dalilnya

إذهبا إلى فرعون إنه طغى فقل له قولا لينا

Dahulu di masa pemerintah Harun Ar-Rasyid di masa Daulah abbasiyah, ada seseorang yang mendekatinya dan mengatakan bahwa ia akan memberikan nasihat kepadanya dengan cara yang kasar, lalu beliau menjawab tidak mau, lalu menjelaskan bahwa dahulu ada pemimpin yang lebih buruk dari dia yaitu Fir’aun tapi Allah memerintahkan kepada orang yang lebih baik dari orang yang ingin memberi nasihat kepadanya yaitu Nabi Musa agar memberi basihat kepada Fir’aun dengan perkataan yang lemah lembut.

Pemimpin terburuk adalah pemimpin yang dibenci rakyat dan rakyatpun membencinya, pemimpin melaknat rakyat dan rakyatpun melaknatnya.

Pemimpin terbaik adalah pemimpin yang dicintai rakyat dan rakyat mencintainya, pemimpin mendoakan kebaikan kepada rakyat dan rakyat juga mendoakan kebaikan kepadanya.

Jika mendapati pemimpin dzalim maka kita harus bersabar dan tetap mentaatinya dalam kebaikan (ketaatan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak boleh melakukan pemberontakan karena perbuatan itu akan mendatangkan fitnah (kekacauan dan hilangnya keamanan).

Banyak sekali hadis yang memerintahkan untuk tetap taat kepada pemerintah meskipun pemerintah itu zalim, dan tidak melakukan pemberontakan kepadanya.

Jika ada pemimpin zalim maka kewajiban rakyat menunaikan hak pemimpin dan meminta seluruh kebutuhan mereka sendiri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Setiap musibah yang dialami seseorang adalah karena dosa yang dilakukannya, demikian juga musibah yang dialami suatu negeri semua terjadi karena dosa-dosa yang dilakukan penduduk negeri tersebut.

Perbuatan zalim mengakibatkan para pemimpin berlaku zalim.

Intinya jika pemimpin zalim maka rakyat harus intropeksi diri, mereka dan berusaha kembali kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala.

Nasehat agar keamanan terwujud:

Mengambil pelajaran dari negeri-negeri lain yang rakyaknya melakukan kudeta atau demontrasi, yang akhirnya negeri merke kacau, terpecah dan tidak aman.

Kita tinggal di negeri yang kaya raya tapi tidak bisa menikmati kekayaannya itu disebabkan karena disa-dosa yang kita lakukan, hendaknya kita koreksi diri dan kembali kepada ajaran Islam.

Turahmin, BA, S.Pd, M.Ha.

Masjid Jamilurrahman, Glondong Wirokwrten, Banguntapan, Bantul, DIY.

Kamis 25 Juni 2026. 09.30-11.32.

Tinggalkan komentar