حُكْمُ الْمُظَاهَرَاتِ فِي الشَّرِيْعَةِ

50 Pembaca

حُكْمُ الْمُظَاهَرَاتِ فِي الشَّرِيْعَةِ

Hukum Demonstrasi dalam Syariat

عُمَر: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا عَبْدَ اللهِ. هَلْ رَأَيْتَ الْأَخْبَارَ الْيَوْمَ؟ هُنَاكَ مُظَاهَرَاتٌ كَبِيرَةٌ فِي الْمَدِينَةِ

Umar: Assalamu’alaikum, wahai Abdullah. Apakah kamu melihat berita hari ini? Ada demonstrasi besar di kota.

عَبْدُ اللهِ: وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ يَا عُمَرُ. نَعَمْ، رَأَيْتُهَا. وَنَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ، فَهَذِهِ الْمُظَاهَرَاتُ لَا تَأْتِي بِخَيْرٍ

Abdullah: Wa’alaikumussalam, wahai Umar. Ya, saya melihatnya. Kita memohon keselamatan kepada Allah, karena demonstrasi ini tidak membawa kebaikan.

عُمَر: مَاذَا تَقْصِدُ؟ أَلَيْسَتِ الْمُظَاهَرَاتُ وَسِيلَةً لِإِنْكَارِ الْمُنْكَرِ وَالْمُطَالَبَةِ بِالْحُقُوقِ؟

Umar: Apa maksudmu? Bukankah demonstrasi itu sarana untuk mengingkari kemungkaran dan menuntut hak-hak?

عَبْدُ اللهِ: فِي الظَّاهِرِ قَدْ تَبْدُو كَذَلِكَ، لَكِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْعُلَمَاءِ الْكِبَارِ يَرَوْنَ أَنَّ الْمُظَاهَرَاتِ حَرَامٌ فِي الْإِسْلَامِ

Abdullah: Secara lahiriah mungkin tampak demikian, tetapi banyak ulama besar berpandangan bahwa demonstrasi itu haram dalam Islam.

عُمَر: حَرَامٌ؟! مَا هِيَ الْأَدِلَّةُ أَوْ الْأَسْبَابُ لِهَذَا التَّحْرِيمِ؟

Umar: Haram?! Apa dalil-dalil atau alasan di balik pengharaman ini?

عَبْدُ اللهِ: أَوَّلًا، لِأَنَّهَا تُؤَدِّي إِلَى مَفَاسِدَ كَبِيرَةٍ، مِثْلِ الْفَوْضَى، وَتَخْرِيبِ الْمُمْتَلَكَاتِ، وَتَعْطِيلِ مَصَالِحِ النَّاسِ. وَقَاعِدَةُ الشَّرِيعَةِ تَقُولُ: “دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Abdullah: Pertama, karena demonstrasi memicu kerusakan yang besar, seperti kekacauan, perusakan fasilitas umum, dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kaidah syariat menyebutkan: “Mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan”.

عُمَر: وَلَكِنْ، كَيْفَ نَنْصَحُ الْحَاكِمَ إِذَا أَخْطَأَ بِدُونِ مُظَاهَرَاتٍ؟

Umar: Tetapi, bagaimana kita menasihati penguasa jika ia berbuat salah tanpa melakukan demonstrasi?

عَبْدُ اللهِ: النَّصِيحَةُ لِوُلَاةِ الْأُمُورِ لَهَا طَرِيقَةٌ شَرْعِيَّةٌ، وَهِيَ النَّصِيحَةُ السِّرِّيَّةُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ دُونَ تَشْهِيرٍ. كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً

Abdullah: Menasihati pemimpin itu ada metode syar’inya, yaitu nasihat secara rahasia antara kamu dan dia tanpa meredam wibawanya di depan publik. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampahkannya secara terang-terangan”.

عُمَر: فَهِمْتُ الآنَ. يَعْنِي أَنَّ الْمُظَاهَرَاتِ فِيهَا خُرُوجٌ عَلَى طَاعَةِ الْحَاكِمِ وَإِثَارَةٌ لِلْفِتْنَةِ؟

Umar: Sekarang aku paham. Artinya, demonstrasi itu mengandung unsur pembangkangan terhadap ketaatan pemimpin dan memicu fitnah/provokasi?

عَبْدُ اللهِ: نَعَمْ، تَمَامًا. الطَّرِيقَةُ السَّلَفِيَّةُ الصَّحِيحَةُ هِيَ الصَّبْرُ، وَالدُّعَاءُ لِلْحَاكِمِ بِالْهِدَايَةِ، وَنَصِيْحَتُهُ بِالْأُسْلُوبِ الْحَسَنِ، لَا بِالتَّجَمُّعَاتِ فِي الشَّوَارِعِ الَّتِي تُشْبِهُ تَقَالِيدَ الْغَرْبِ

Abdullah: Ya, tepat sekali. Manhaj salaf yang benar adalah bersabar, mendoakan hidayah untuk penguasa, dan menasihatinya dengan cara yang baik, bukan dengan berkumpul di jalanan yang menyerupai tradisi Barat.

عُمَر: جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا عَلَى هَذَا التَّوْضِيحِ الْمُفِيدِ. هَذَا فِقْهٌ عَمِيقٌ لِحِمَايَةِ الْأُمَّةِ مِنَ الْفِتَنِ

Umar: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas penjelasan yang bermanfaat ini. Ini adalah fikih yang mendalam untuk menjaga umat dari fitnah.

عَبْدُ اللهِ: وَإِيَّاكَ يَا أَخِي. نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَحْفَظَ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Abdullah: Padamu juga, saudaraku. Kita memohon kepada Allah agar menjaga negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

المُفْرَدَات

Kosakata:

  • الْمُظَاهَرَاتُ (Al-Muzhaharat) = Demonstrasi / Unjuk rasa.
  • تَخْرِيبُ الْمُمْتَلَكَاتِ (Takhribul Mumtalakat) = Perusakan fasilitas/aset.
  • عَلَانِيَةً (‘Alaniyatan) = Terang-terangan / Terbuka.
  • وُلَاةُ الْأُمُورِ (Wulatul Umur) = Para pemimpin / Penguasa.
  • الْفَوْضَى (Al-Fawdha) = Kekacauan / Anarki.

Tinggalkan komentar