Sepuluh Langkah Menuju Surga #5# Menjauhkan Diri Dari Fitnah

17 Pembaca


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ

Ternyata, rahasia hidup tenang di dunia dan selamat di akhirat itu sederhana: belajar menjauh dari keributan yang tidak perlu dan tahu kapan harus “menutup pintu”.

Menjauhi fitnah bukan berarti kita anti-sosial. Ini adalah cara kita menjaga kesehatan mental sekaligus melindungi kualitas iman kita. Terkadang, dengan memilih untuk berada di rumah dan tidak ikut campur dalam kegaduhan di luar sana, kita justru sedang menyelamatkan agama dan masa depan kita sendiri.

Hal ini bukan sekadar saran biasa, tapi sudah menjadi pedoman dari banyak dalil yang kuat. Salah satunya adalah pesan dari sahabat Nabi, Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, yang pernah kita bahas sebelumnya.

Saat itu, Uqbah bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:


يَا رَسُولَ اللهِ، مَا النَّجَاةُ؟ فَقَالَ: امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ ٢٤٠٦، وَصَحَّحَهُ الألبانيُّ فِي الصَّحِيحَة. ٨٩٠

‘Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?” Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Jagalah lisanmu, hendaknya engkau suka menetap di rumahmu, dan tangisilah dosa-dosamu.” (Dikeluarkan At-Tirmidzi rahimahullah dalam Jami‘-nya: 2406, dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Ash Shohihah:890).

Nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita “betah menetap di rumah” sebenarnya mengandung rahasia ketenangan yang luar biasa. Di masa sekarang, di mana berita miring, konflik, dan pengaruh buruk (fitnah) tersebar begitu cepat dan di mana-mana, rumah adalah benteng pertahanan terbaik kita.

Menjaga diri untuk tidak “keluyuran” tanpa tujuan yang jelas bukan berarti kita mengurung diri dari dunia luar. Namun, ini adalah cara agar kita tidak sengaja menceburkan diri ke dalam masalah yang tidak perlu.

Ibarat badai yang sedang mengamuk di luar, mereka yang tetap berada di dalam rumah tentu akan jauh lebih aman daripada mereka yang nekat menerobos badai tanpa perlindungan. Terlalu sering berada di tempat yang penuh drama dan keburukan tanpa alasan yang kuat, perlahan tapi pasti bisa merusak ketenangan hati dan prinsip hidup kita.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dijauhkan dari segala macam pengaruh buruk ini. Persis seperti yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat beliau dalam sebuah pesan yang sangat berharga:

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ (٢٨٦٧).

Berlindunglah kalian kepada Allah dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Dikeluarkan Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya: 2867).

Di era sekarang, hampir mustahil menemukan rumah tanpa “pendamping setia” yang satu ini. Ya, gawai dan internet. Meski memberikan banyak kemudahan, alat ini ibarat pintu yang terbuka lebar bagi segala bentuk pengaruh buruk—mulai dari konten yang memancing hawa nafsu hingga pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.

Banyak dari kita terjebak dalam masalah besar hanya karena menganggap remeh penggunaannya, hingga tanpa sadar tersesat ke sudut-sudut gelap dunia maya yang merusak mental dan spiritual.

Dahulu, keselamatan seseorang sering dikaitkan dengan kebiasaan berdiam diri di rumah agar terhindar dari hiruk-pikuk maksiat di luar. Namun hari ini, “diam di rumah” saja tidak cukup. Keselamatan kita di zaman ini sangat bergantung pada cara kita menjaga jarak dari godaan yang muncul di layar gawai.

Jika tidak waspada, alat ini justru menjadi sumber kekacauan; membuat kita lupa waktu, mengikis akhlak mulia, bahkan melalaikan tanggung jawab kita, baik untuk urusan dunia maupun bekal akhirat. Alih-alih membawa manfaat, ia malah mendatangkan kerugian yang nyata.

Sebenarnya, kunci untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan dari segala kekacauan ini sangatlah sederhana. Sebagaimana yang pernah dipesan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ. (أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ فِي سُنَنِهِ (٤٢٦٣)، وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي «السِّلْسِلَةِ الصَّحِيحَة» (١٩٧٥)).

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah mereka yang dijauhkan dari berbagai fitnah.” (Dikeluarkan Abu Dawud rahimahullah dalam Sunan-nya: 4263, dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Ash Shohihah: 1975).

Demikian semoga kita bisa menjaga diri kita dari fitnah agar kita mendapatkan keselamatan di dunia ini dan semoga apa yang disampaikan di sini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca, Wallahu a’lam bish-shawab.


وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Turahmin, BA. S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 30 April 2026.

Rujukan:

عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 28-29.

Tinggalkan komentar