Sepuluh Langkah Menuju Surga #9# Selalu Mengingat Hari Hisab dan Hari Ketika Manusia Berdiri Dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala

2 Pembaca


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ

Salah satu kunci utama agar seseorang meraih keselamatan sejati adalah dengan senantiasa menghadirkan ingatan tentang sebuah hari yang sangat agung—hari yang pasti akan kita hadapi.

Itulah hari di mana seluruh manusia, dari generasi pertama hingga terakhir, dikumpulkan untuk berdiri tegak di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala Untuk dihisab dan diberi balasan atas seluruh amalan yang dilakukannya. Tidak ada lagi sekat jabatan atau harta; semuanya datang untuk mempertanggungjawabkan setiap detik usia dan setiap butir amal yang pernah dilakukan di dunia. Pada saat itu, tidak ada satu pun di antara mereka yang mampu memberikan keselamatan, manfaat, maupun mudarat kepada orang lain:

وَمَا أَدْرَكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ثُمَّ مَا أَدْرَنكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسُ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ  الانفطار : ١٧-١٩

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah (al Infithar: 17-19).

Seorang mukmin yang di hatinya selalu terpatri ingatan akan hari kiamat—dengan segala kengerian dan kedahsyatannya—tidak akan membiarkan dirinya hidup dalam kelalaian. Rasa takut yang muncul dalam dirinya bukanlah ketakutan yang melumpuhkan, melainkan takut yang menggerakkan jiwanya untuk selalu mempersiapkan diri dan berusaha melakukan sesuatu yang bisa menjadi sebab keselamatannya.

Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa rahasia keselamatan di akhirat kelak terletak pada kesadaran mendalam seorang hamba selama di dunia. Mereka yang senantiasa ingat bahwa hidup ini adalah ladang ujian, di mana setiap jengkal perbuatan akan dihisab dan dibalas, merekalah orang-orang yang akan meraih keberuntungan dan kemenangan yang nyata di hadapan-Nya.

Kesadaran inilah yang menjadi motor penggerak bagi mereka untuk terus memperbaiki diri. Mengenai sifat hamba-hamba yang beruntung ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَبَهُ بِيَمِينِهِ، فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَبِيَهُ إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَة. الحاقة : ١٩-٢٠

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.” (al Haqqoh: 19-20).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ فَمَنَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَنَا عَذَابَ السَّمُومِ إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ.  الطور : ٢٥ – ٢٨.

Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (Ath Thuur: 25-28).

Bayangkan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan menuju satu “sidang” paling menentukan di hadapan Allah Subhanau wa Ta’ala, di mana setiap detik yang kita lalui akan diputar kembali untuk dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tidak sekadar menjalani hari dengan biasa saja, melainkan mendorong kita untuk mulai menyusun “bekal” terbaik, untuk merangkai jawaban yang jujur atas setiap tindakan, dan selalu berusaha penuh semangat memperbaiki diri agar kelak saat momen itu tiba, kita mampu memberikan jawaban yang menyelamatkan dan menenangkan di hadapan-Nya.

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ بَشَّارٍ رَحِمَهُ اللهُ ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ: اذْكُرْ مَا أَنْتَ صَائِرٌ إِلَيْهِ حَقَّ ذِكْرِهِ، وَتَفَكَّرْ فِيمَا مَضَى مِنْ عُمُرِكَ؛ هَلْ تَشِقُّ بِهِ وَتَرْجُو النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِ رَبِّكَ؟ فَإِنَّكَ إِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ شَغَلْتَ قَلْبَكَ بِالاِهْتِمَامِ بِطَرِيقِ النَّجَاةِ عَنْ طَرِيقِ الْلَّاهِينَ الْآمِنِينَ الْمُطْمَئِنِّينَ، الَّذِينَ أَتْبَعُوا أَنْفُسَهُمْ هَوَاهَا فَأَوْقَعَتْهُمْ عَلَى طَرِيقِ هَلَكَاتِهِمْ، لَا جَرَمَ سَوْفَ يَعْلَمُونَ، وَسَوْفَ يَتَأَسَّفُونَ، وَسَوْفَ يَنْدَمُونَ، “وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يُنْقَلِبُونَ”. الشعراء: ٢٢٧. (أَخْرَجَهُ فِي حِلْيَةِ الْأَوْلِيَاءِ: (٨/١٨)

Dari Ibrahim bin Basyar rahimahullah, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata:

‘Ingatlah (renungkanlah) dengan sungguh-sungguh ke mana engkau akan kembali kelak. Pikirkanlah masa lalu yang telah engkau lalui dalam umurmu; apakah engkau merasa sengsara karenanya (karena dosa), namun engkau tetap mengharapkan keselamatan dari azab Tuhanmu?

Sesungguhnya jika engkau menyadari hal itu, hatimu akan disibukkan dengan rasa cemas untuk mencari jalan keselamatan, dan berpaling dari jalannya orang-orang yang lalai, yang merasa aman, dan merasa tenang (dengan dunia). Yaitu mereka yang mengikuti hawa nafsu diri mereka sendiri hingga hawa nafsu itu menjerumuskan mereka ke jalan kebinasaan. Tidak diragukan lagi, kelak mereka akan mengetahui, kelak mereka akan menyesal, dan kelak mereka akan meratapi nasibnya; ‘Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.’ (QS. Asy-Syu’ara: 227). Dikeluarkan dalam kitab Hilyatul Auliya’: 7/18.

وَعَنْ مُعَلَّى بْنِ زِيَادٍ، قَالَ: سَأَلَ الْمُغِيرَةُ بْنُ مُخَادِشٍ الْحَسَنَ الْبَصْرِيَّ رَحِمَهُ اللهُ، فَقَالَ: «يَا أَبَا سَعِيدٍ، كَيْفَ نَصْنَعُ بِمُجَالَسَةِ أَقْوَامٍ هَا هُنَا يُحَدِّثُونَنَا حَتَّى تَكَادُ قُلُوبُنَا أَنْ تَطِيرَ؟» فَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: أَيُّهَا الشَّيْخُ، إِنَّكَ وَاللَّهِ لَأَنْ تَصْحَبَ أَقْوَامًا يُخَوِّفُونَكَ حَتَّى تُدْرِكَ أَمْنًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ أَقْوَامًا يُؤَمِّنُونَكَ حَتَّى تَلْحَقَكَ الْمَخَاوِفُ. أَخْرَجَهُ ابْنُ الْمُبَارَكِ فِي الزُّهْد: (٣٠٣)

Dari Mu’alla bin Ziyad, ia bercerita bahwa Al-Mughirah bin Mukhadisy bertanya kepada Hasan al-Bashri:

“Wahai Abu Said (panggilan Hasan al-Bashri), bagaimana pendapatmu tentang kami yang sering duduk bersama orang-orang yang kalau memberi nasihat atau bercerita tentang akhirat, saking takutnya, rasanya jantung kami mau copot?”

Hasan al-Bashri kemudian menjawab:

“Wahai Tuan, demi Allah! Sesungguhnya berteman dengan orang-orang yang menakut-nakutimu (dengan kebenaran) sampai kamu merasa butuh mencari keselamatan, itu jauh lebih baik bagimu, daripada berteman dengan orang-orang yang selalu membuatmu merasa aman dan tenang (meski berbuat dosa) sampai akhirnya rasa takut yang sesungguhnya (azab) benar-benar menjemputmu.” DIkeluarkan oleh Ibnul Mubarok rahimahullah dalam kitab Az-Zuhud: 303.

Inti Pesannya:

Seringkali kita lebih suka berteman dengan orang yang selalu memuji kita atau berkata “Tenang saja, Tuhan Maha Pengampun kok,” padahal kita sedang melakukan kesalahan.

Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa teman sejati adalah mereka yang berani menegur dan mengingatkan kita akan konsekuensi di akhirat. Lebih baik kita “takut” sekarang lalu berbenah diri, daripada merasa “aman” sekarang tapi menyesal selamanya di kemudian hari.

Demikian, semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang selalu mengingat akan hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dihisab dan dimintai pertanggungjawaban, sehingga kita menjadi orang-orang yang selalu mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Semoga apa yang disampaikan di sini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca, Wallahu a’lam bish-shawab.

وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Turahmin, BA. S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 30 April 2026.

Rujukan:

عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 41-43.

Tinggalkan komentar