Sepuluh Langkah Menuju Surga #6# Memperbanyak Doa Dan Selalu Kembali Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

3 Pembaca

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ

Kita semua tahu bahwa doa adalah kunci dari segala kebaikan, baik untuk kehidupan kita hari ini maupun di akhirat nanti. Namun, ada satu kesadaran yang perlu kita tanamkan dalam hati: sejatinya tidak ada yang bisa selamat dari kerasnya ujian hidup, kecuali mereka yang memang diselamatkan oleh Allah.

Jika kita menyadari bahwa keselamatan itu sepenuhnya adalah “hak prerogatif” Allah, maka sudah seharusnya kita mengetuk pintu-Nya tanpa henti. Keselamatan bukan datang dari hebatnya rencana kita atau kuatnya perlindungan manusia, melainkan murni di tangan Allah.

Maka, mintalah perlindungan dan keselamatan itu langsung kepada Pemiliknya. Jangan sungkan untuk mengadu, karena Allah sendiri yang berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ.  البقرة: ١٨٦

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Al Baqoroh: 186).

Allah juga berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ. غافر : ٦٠

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya untukmu.” QS: Ghofir: 60.

Siapa pun yang ingin hidupnya selamat dan tenang, kuncinya sederhana: jangan pernah putus komunikasi dengan Allah. Perbanyaklah meminta segala bentuk kebaikan kepada-Nya.

Jangan ragu untuk memohon agar hati kita tetap teguh pada prinsip agama, meminta dijauhkan dari jalan yang membingungkan, hingga memohon agar kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Apapun itu—mau urusan dunia yang sedang pelik atau harapan besar untuk di akhirat nanti—sampaikan saja semuanya.

Nah, dari sekian banyak untaian kata yang bisa kita ucapkan, sebenarnya ada satu doa yang posisinya paling agung dan mencakup segalanya. Doa ini setiap hari kita baca, yaitu inti dari surat Al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ الفاتحة: 6

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” al Fatihah : 6.

Pernahkah Anda merasa bingung saat harus memilih arah di tengah kerumunan atau persimpangan jalan? Di situlah kita menyadari betapa berharganya sebuah petunjuk. Dalam perjalanan hidup pun sama. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menitipkan hidayah atau petunjuk-Nya ke dalam hati seseorang, maka ia tak lagi sekadar berjalan, tapi melangkah dengan kepastian. Ia akan selamat di dunia ini dan di akhirat kelak, di dunia akan mendapat ketenangan meski badai ujian datang, karena kita tahu persis ke mana arah pulang dan akan selamat juga di akhirat kelak.

Singkatnya, siapa pun yang digandeng oleh hidayah-Nya menuju jalan yang lurus, ia tidak hanya akan selamat sampai tujuan, tapi juga akan menikmati indahnya perjalanan.

Pernahkah Anda terpikir, mengapa dalam sehari semalam kita diwajibkan membaca doa yang sama berulang-ulang? Jawabannya sederhana namun mendalam: karena kita sangat membutuhkannya.

Saking pentingnya doa ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai “kebutuhan pokok” bagi jiwa kita. Itu sebabnya doa ini hadir di setiap rakaat shalat wajib kita. Paling tidak doa itu diucapkan sebanyak 17 Kali Sehari Sesuai jumlah rakaat shalat lima waktu, kita terus mengetuk pintu langit dengan permohonan yang sama. ini bukan hanya sekedar rutinitas bacaan shalat melainkan bentuk kasih sayang Allah agar kita tidak tersesat di tengah hiruk-pikuk dunia dan sekaligus merupakan kebutuhan mendesak bagi kita, sebagaimana tubuh yang butuh makan dan minum berkali-kali agar tetap tegak, jiwa kita butuh bimbingan-Nya berkali-kali agar tetap berada di jalan yang lurus.

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim saat membaca surat Al-Fatihah benar-benar meresapi doa yang agung ini. Sadarilah bahwa kita senantiasa membutuhkannya di setiap helaan napas.

Sebab, ketika hidayah sudah digenggam, jalan menuju kebaikan dan keberuntungan besar akan terbuka lebar—bukan hanya untuk kebahagiaan di dunia saat ini, tapi juga untuk keselamatan di akhirat kelak.

Selalu berdoa dan kembali bersimpuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sepenuh hati, betul-betul merengek-rengek adalah kunci utama untuk meraih keselamatan di dunia maupun di akhirat. Itulah mengapa para Nabi senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya. Berkat ketulusan doa tersebut, Allah mengabulkan permintaan mereka dan menyelamatkan mereka dari segala kesulitan yang dihadapi. Sebagai contohnya:

قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ. فَأَفْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Do’a Nabi Nuh ‘alayhis salam, Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antara aku dan mereka, dan selamatkanlah aku serta orang-orang yang mukmin besertaku.”

Maka Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

فَأَنجَيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونَ الشعراء: ١١٧-١١٩

“Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan” (Asy Syu‘ara: 117-119).

Doa Nabi Luth alaihissalam,

رَبِّ نَحْنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ. الشعراء: ١٦٩

Do’a Nabi Luth ‘alayhis salam, Luth berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.”

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فقال الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : فَنَجَيْنَهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ الشعراء: ١٧٠

“Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua.” (Asy Syu‘ara: 170).

Doa Nabi Yunus alaihissalam,

فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فقال سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَيْنَهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ تُجِي الْمُؤْمِنِينَ. الأنبياء: ۸۷-۸۸

Do’a Nabi Yunus ‘alayhis salam, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al Anbiya: 87-88)

Allah subahanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam,

وَلَقَدْ مَنَنَا عَلَى مُوسَى وَهَرُونَ. وَنَجَيْنَهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ. الصافات: ١١٤ – ١١٥

“Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.” (Ash Shofat: 114-115).

Begitulah indahnya, siapa pun yang mau membuka dan memperhatikan isi Al-Qur’an akan menemukan betapa banyaknya doa para Nabi yang dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita bisa melihat betapa besarnya rasa pasrah dan ketulusan mereka di hadapan-Nya dalam setiap keadaan.

Hasilnya, Allah pun mengabulkan doa-doa mereka dan memberikan apa pun yang mereka minta dengan penuh kemuliaan.

Begitulah janji Allah bagi setiap hamba yang mau kembali dan bersimpuh kepada-Nya. Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba yang bersungguh-sungguh memohon, dan tidak akan menolak permintaan siapa pun yang datang dengan penuh harapan.

Maka, siapa pun yang merindukan keselamatan di dunia dan akhirat, sudah sepatutnya ia menjadikan doa sebagai teman setia dalam hidupnya.

Hendaknya setiap malam kita merenung dan menyadari, bahwa keselamatan sepenuhnya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, pada akhirnya tidak ada keselamatan yang sejati, kecuali bagi mereka yang dianugerahi perlindungan oleh-Nya.

Kesadaran inilah yang akan menumbuhkan rasa takzim dan harap di dalam hati, serta membuat seseorang selalu merendahkan diri di hadapan Tuhannya. Muncul keinginan yang kuat dari dalam jiwanya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menggolongkannya ke dalam kelompok orang-orang yang selamat dan beruntung.

Mengenai hal ini, dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: (اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ). فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ». (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ (٢٤٧)، وَمُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ (٢٧١٠)، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ)

Dari Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau mendatangi pembaringanmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk sholat, kemudian berbaringlah di atas lambung kanan, kemudian ucapkanlah: ‘Ya Allah, aku pasrahkan wajahku kepada-Mu, aku sandarkan urusanku kepada-Mu, aku letakkan punggungku kepada-Mu, berharap rahmat-Mu dan takut adzab-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan berlindung dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan, dan juga aku beriman kepada Nabi yang telah Engkau utus. Apabila aku mati di malam itu, maka aku mati di atas fitrah, maka jadikanlah ini ucapan terakhir yang aku ucapkan.’” (Dikeluarkan Imam Bukhari rahimahullah dan Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, lafadz ini milik Bukhari).

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

فَهُوَ الَّذِي يُنْجِي مِنْ نَفْسِهِ بِنَفْسِهِ، وَيُعِيذُ مِنْ نَفْسِهِ بِنَفْسِهِ، وَكَذَلِكَ الْفِرَارُ؛ يَفِرُّ عَبْدُهُ مِنْهُ إِلَيْهِ، وَهَذَا كُلُّهُ تَحْقِيقٌ لِلتَّوْحِيدِ وَالْقَدَرِ، وَأَنَّهُ لَا رَبَّ غَيْرُهُ، وَلَا خَالِقَ سِوَاهُ، وَلَا يَمْلِكُ الْمَخْلُوقُ لِنَفْسِهِ وَلَا لِغَيْرِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا، وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا، بَلِ الْأَمْرُ كُلُّهُ لِلَّهِ عزّ وجلّ، لَيْسَ لِأَحَدٍ سِوَاهُ مِنْهُ شَيْءٌ. شِفَاءُ الْعَلِيلِ، ص ٢٧٣.

Dialah Allah, satu-satunya yang mampu menyelamatkan serta melindungi hamba-Nya dari ketetapan-Nya sendiri; sehingga seorang hamba sejatinya sedang berlari dari Allah untuk kembali menuju Allah. Hal ini merupakan perwujudan nyata dari tauhid dan keimanan pada takdir, yang menegaskan bahwa tidak ada Tuhan maupun Pencipta selain Dia. Sadarilah bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu mendatangkan bahaya atau manfaat, bahkan mengatur kematian, kehidupan, hingga kebangkitan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab, segala urusan sepenuhnya berada di tangan Allah Azza wa Jalla, dan tidak ada seorang pun selain-Nya yang memiliki kendali atas itu semua. (Dikutip dari Syifaul Alil, hal. 273).

Demikian semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang selalu berdoa dan kembali kepada-Nya dalam segala hal dan keadaan. Semoga apa yang disampaikan di sini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca, Wallahu a’lam bish-shawab.

وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Turahmin, BA. S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 30 April 2026.

Rujukan:

عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 30-34.

Tinggalkan komentar