Kunci Kesempurnaan Tauhid

50 Pembaca

Kunci kesempurnaan tauhid adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala.

Mengenal Allah subhanahu wa ta’ala merupakan ilmu yang paling utama dan paling penting dalam syariat Islam.

Alasan mengenal Allah subhanahu wa ta’ala merupakan ilmu teragung dan termulia adalah karena keagungan ilmu tergantung dari objek yang diilmui. Objek ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala adalah Allah itu sendiri sebagai Pencipta, Sesembahan yang berhak disembah, dan Zat Pemilik asmaulhusna.

Allah adalah Zat yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Zat yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Mengenal Allah subhanahu wa ta’ala adalah fondasi dasar untuk menguatkan ibadah dan ketundukan kepada-Nya.

Orang yang paling sempurna ibadah, tauhid, dan penghambaan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang yang paling mengenal Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak mengenal Allah subhanahu wa ta’ala akan mengakibatkan lemahnya tauhid, ibadah, dan penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini karena tauhid, ibadah, dan penghambaan diri bukan sekadar gerakan anggota badan, melainkan meliputi hati yang merupakan pusat pergerakan anggota badan. Inti ibadah adalah apa yang ada di dalam hati, sebagaimana isyarat yang diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa takwa ada di dalam dada (hati). Perjalanan sesungguhnya seorang hamba menuju kepada Allah adalah dengan hatinya.

Ibadah yang sesungguhnya adalah kesempurnaan cinta dan ketundukan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap pujian Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam Al-Qur’an selalu disebutkan dengan ketundukan hamba tersebut dalam beribadah yang disertai rasa cinta, takut, dan harap yang terletak di dalam hati hamba-hamba-Nya.

Bersegera melakukan kebaikan dan berlomba-lomba dalam mengamalkannya—dengan disertai rasa cinta, harap, dan takut kepada Allah, serta rasa khusyuk dan tunduk—merupakan amalan hati. Tauhid yang sempurna adalah tauhid yang diiringi ilmu dan amal.

Orang yang khasy-yah (takut yang disertai ketundukan dan pengagungan) kepada Allah hanyalah para ulama (orang-orang berilmu) yang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi dan Mahamulia. Semakin tinggi dan kuat ilmu seseorang tentang nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala, akan semakin sempurna ketundukan dan penghambaan seorang hamba kepada-Nya.

Kesempurnaan ibadah lahir dan batin seorang hamba seluruhnya kembali kepada pengenalan hamba tersebut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semakin tinggi dan dalam pengenalan tersebut, akan semakin kuat dan hebat ibadah hamba tersebut.

Ruh (nyawa) iman adalah cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang dituntut dari seorang hamba adalah cinta yang melebihi cintanya kepada makhluk. Cinta orang-orang yang beriman kepada Allah lebih tinggi dan sempurna daripada cinta orang-orang musyrik kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini karena cinta mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala sempurna tanpa dibagi dengan kecintaan kepada sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala, berbeda dengan cinta orang-orang musyrik yang terbagi.

Manisnya iman bisa diraih dengan:

  • Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya,
  • Mencintai seseorang hanya karena Allah, dan
  • Benci kembali kepada kekafiran sebagaimana bencinya jika dilemparkan ke dalam api.

Perkara yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an adalah tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan ayat-ayat termulia dan teragung:

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Jika kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dominan dalam hati seorang hamba, hamba tersebut akan rajin dan kuat dalam beribadah kepada-Nya. Bahkan, perkara yang paling disukai oleh mereka adalah ibadah.

Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kebaikan bagi hati seorang hamba kecuali jika hamba tersebut hanya mepertuhankan Allah subhanahu wa ta’ala, serta cintanya kepada-Nya lebih tinggi dan lebih besar daripada cintanya kepada selain-Nya. Orang-orang yang berlebihan dalam mencintai dunia merupakan orang yang paling menderita ketika mereka meninggalkan dunia ini tanpa merasakan cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ikhlas merupakan sesuatu yang tersulit dan terberat untuk dilakukan oleh seorang hamba, kecuali jika hamba itu benar-benar lebih mencintai Allah daripada cinta kepada selain-Nya. Khusyuk dalam beribadah hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang sempurna cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketenangan hati dan kekhusyukan dalam beribadah bersumber pada kuatnya cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semakin kuat dan sempurna cinta tersebut, akan semakin tenang dan khusyuk hatinya ketika beribadah.

Kesimpulan: Penghambaan diri yang sejati kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan mengenal asma dan sifat-Nya.

Masjid Jamilurrahman, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, DIY. Senin, 14 September 2026, bakda Maghrib-Isya.

Tinggalkan komentar