Fawaid Ta’lim
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah umat yang memiliki peribadahan beraneka ragam. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para nabi serta orang-orang shalih, hingga ada yang menyembah pepohonan, bebatuan, serta matahari dan bulan. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semua tanpa membeda-bedakan satu sama lain.
Penjelasan
Hakikat kesyirikan orang-orang musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syirik dalam masalah Uluhiyah, bukan dalam Tauhid Rububiyah. Sayangnya, kesyirikan serupa masih banyak terjadi di zaman ini, bahkan menimpa sebagian kaum Muslimin.
Ketika orang-orang yang beribadah kepada orang-orang shalih dinasihati agar meninggalkan kesyirikannya itu, mereka menolak dan beralasan: bahwa orang-orang musyrikin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menyembah patung. Berbeda dengan mereka; mereka tidak menyembah orang-orang shalih, tapi hanya menghormati dan memuliakannya.
Kesyirikan yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berbeda-beda dan beraneka ragam.
Ada di antara mereka yang menyembah matahari dan bulan. Ada juga yang menyembah para malaikat, karena mereka menganggap bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah—Maha Suci Allah dari kesyirikan itu.
Ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, seperti Nabi Isa, Lata, Uzza, dan lain-lain. Ada pula yang menyembah pohon-pohonan dan batu-batuan yang besar; pohon dan batu besar tersebut mereka keramatkan (perbuatan ini banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita), di mana batu besar dan pohon besar tersebut dianggap angker dan wingit. Sehingga perlu diberi sajen agar tidak menimbulkan bencana.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semua—yakni orang-orang yang menyekutukan Allah dengan berbagai macam jenis kesyirikannya itu—tanpa terkecuali.
Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَقَاتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهٗ لِلّٰهِۚ. سورة الأنفال: 39
Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah (penganiayaan atau syirik) dan agama seutuhnya hanya bagi Allah. QS: Al-Anfal: 59.
Penjelasan
Ayat ini menjelaskan, bahwa Nabi diperintahkan agar memerangi orang-orang musyrik hingga tidak ada lagi fitnah (kesyirikan).
Fitnah (kesyirikan) lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan; tafsiran tersebut dijelaskan oleh Imam Ahmad rahimahullah.
Tujuan diperintahkannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk memerangi orang-orang musyrik adalah agar agama (ketaatan) itu murni hanya untuk Allah semata. Hal ini sesuai dengan hakikat bahwa ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya.
Dalil tentang matahari dan bulan, firman Allah subhanallah wa ta’ala,
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ. سورة فصلت: 37
Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. QS: Fushilat: 37.
Penjelasan
Ayat ini menjelaskan, bahwa kesyirikan yang dilakukan orang-orang musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu beraneka ragam.
Menyembah atau bersujud kepada matahari dan bulan hukumnya adalah haram.
Ketika Allah melarang sesuatu, pasti sesuatu itu sudah ada, atau setidaknya pasti akan ada.
Sampai saat ini, masih ada saja orang yang bersujud—yakni menyembah matahari.
Sang Pencipta itulah yang seharusnya disembah, bukan sesuatu yang diciptakan oleh-Nya.
Dalil tentang malaikat firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَلا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَاباً. سورة ٱل عمران,: 80
Tidak (sepatutnya) pula dia menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. QS: Ali Imran: 80.
Penjelasan
Kelak di akhirat, manusia, jin, dan malaikat akan dikumpulkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah akan bertanya kepada para malaikat: ‘Apakah mereka menyuruh manusia untuk menyembahnya?’
Malaikat menjawab tidak, dan menjelaskan bahwa yang mereka (manusia) sembah sebenarnya adalah jin; karena sebagian besar dari mereka beriman kepada jin.
Dalil tentang para nabi, firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَاّمُ الْغُيُوبِ. سورة المائدة: 116
(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” QS: Al-maidah: 116.
Penjelasan
Kelak di padang mahsyar, Allah akan bertanya kepada Nabi Isa bin Maryam: ‘Apakah engkau memerintahkan manusia untuk menyembahmu?’ Nabi Isa pun menjawab tidak, dan menjelaskan bahwa tidak pantas baginya memberikan perintah tersebut.
Ayat ini menjelaskan bahwa di antara manusia di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memang ada yang menyembah nabi.
Dalil tentang orang-orang shalih, firman Allah subhanahu wa ta’ala
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ. سورة الإسراء: 57
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka (sendiri) mencari jalan kepada Tuhan (masing-masing berharap) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka juga mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” QS: Al-Isra’: 57.
Penjelasan
Perintah ada yang berarti ancaman, seperri yang terdapat di dalam ayat di atas. Yaitu Allah memerintahkan mereka untuk berdoa kepada sesembahan mereka.
Pada hakikatnya, sesembahan selain Allah tidak bisa mendatangkan mudarat kepada siapa pun, dan tidak pula bisa memindahkan mudarat yang telah dialami seseorang kepada orang lain.
Pada hakikatnya, sesembahan dari kalangan orang-orang shalih itu sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka pun mencari rahmat dari Allah serta takut akan azab-Nya.
Dalil tentang pohon-pohon dan batu-batu, firman Allah subhanahu wa ta’ala,
أَفَرَأَيْتُمُ اللَاّتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى. سورة النجم: 19-20
Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza, serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)? QS: An-Najm: 19-20.
حديث أبي واقد الليثي رضي الله عنه قال: “خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط، كما لهم ذات أنواط”. الحديث
Hadis Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu anhu, “Kami pernah pergi bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke perang hunain, dan pada waktu itu kami baru lepas dari kekafiran, orang-orang musyrik memiliki pohon bidara yang digunakan untuk beriktikaf (berdiam diri di situ sebagai bentuk ibadah) dan untuk menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon itu disebut Zatu Anwath, kemudian kami melewati sebuah pohon bidara, lalu kami pun berkata, ‘Wahai Rasulullah buatkanlah untuk kami Zatu ANwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Zatu Anwath’.” Hadis
Penjelasan
Hadis dan ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang menyembah pohon dan bebatuan. Lata, Uzza, dan Manat adalah sesembahan yang paling masyhur di zaman dahulu; Lata berupa batu, Uzza berupa pohon, dan Manat berupa batu.
Pada masa penaklukan, ada sekitar 2.000 orang yang masuk Islam secara serentak, lalu mereka diajak untuk mengikuti Perang Hunain. Di tengah perjalanan, mereka melihat sebuah pohon bidara besar yang disebut Dzatu Anwath. Pohon ini dikeramatkan oleh orang-orang musyrik dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka agar menjadi sakti dan hebat.
Ketika melewati sebuah pohon besar lainnya, orang-orang yang baru masuk Islam ini meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jadikanlah untuk kami pohon (keramat) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”
Hal ini menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, pohon pun dijadikan sebagai sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mendengar permintaan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung bertakbir sebagai bentuk pengingkaran yang keras.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa permintaan tersebut adalah perbuatan dosa besar, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Bani Israil kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah diselamatkan dari kejaran Fir’aun melalui laut, Bani Israil justru meminta dibuatkan berhala (sesembahan) setelah melihat kaum musyrik lain memiliki sesembahan.
Kaidah Keempat
(Ketahuilah) bahwa kaum musyrik di zaman kita ini memiliki kesyirikan yang lebih parah dibandingkan kaum musyrik di masa terdahulu. (Mengapa demikian?) Karena orang-orang musyrik di zaman dahulu hanya menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala saat dalam keadaan lapang, namun mereka akan memurnikan ibadah kepada-Nya ketika dalam keadaan sulit atau terjepit bahaya. Sementara itu, kaum musyrik di zaman kita melakukan kesyirikan secara terus-menerus, baik dalam keadaan lapang maupun saat sulit sekalipun.
Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,
Penjelasan
Dengan Kaidah Keempat ini, kita menjadi semakin paham tentang hakikat kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang di zaman Rasulullah.
Bahkan, dapat dikatakan bahwa orang-orang musyrik di zaman ini kesyirikannya “lebih tebal” (lebih besar) dibandingkan orang-orang musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Alasannya: Orang-orang musyrik di zaman dahulu menyekutukan Allah hanya ketika dalam keadaan lapang dan aman. Namun, ketika berada dalam keadaan susah, terjepit, atau tertimpa marabahaya, mereka meninggalkan sesembahan mereka dan hanya memurnikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebaliknya, orang-orang musyrik di zaman sekarang justru terus menyekutukan Allah dalam setiap keadaan—baik saat lapang maupun saat susah. Sebagai contoh, di zaman sekarang, ketika ada ancaman tsunami atau gunung meletus, mereka justru membuat aneka ragam sesajen untuk menolak bala.
Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ. سورة العنكبوت: 65
Apabila naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya. Akan tetapi, ketika Dia (Allah) menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). QS: AL-Ankabut: 65.
Oke…
Turahmin, BA, M.H. S.Pd.
Masjid Jamilurrahman, Bantul, 17 Mei 2026, 13.30-14.41