Fawaid Khutbah Shalat Istisqa

2 Pembaca

Fawaid Taklim

Berikut adalah ringkasan fawaid (faedah dan poin-poin penting) dari Khutbah Shalat Istisqa’ yang berhasil penulis himpun:

1. Hakikat Kekeringan: Musibah Akibat Dosa dan Pentingnya Taubat

Kekeringan, kemarau panjang, dan tertahannya air hujan bukan sekadar fenomena alam belaka, melainkan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosa manusia. Satu-satunya jalan keluar adalah bertaubat dengan taubat nasuha, beristighfar, serta merendahkan diri (tadharru’) di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (nasuha). Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” QS. At-Tahrim: 8.

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” QS. An-Nur: 31

Hadits dari Agharr bin Yasar Al-Muzani Radhilallahu Anhu

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah! Karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” HR. Muslim no. 2702

2. Keagungan Tauhid dan Kekuasaan Allah Menghidupkan Bumi

Allah Subhanahu wa Ta’al adalah satu-satunya Dzat yang menurunkan hujan dan menghidupkan kembali tanah yang telah mati. Peristiwa ditumbuhkannya kembali pepohonan setelah kemarau menjadi bukti kekuasaan Allah bahwa Dia pulalah yang kelak akan membangkitkan manusia dari alam kubur pada hari kiamat.

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka putus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” QS. Ash-Shura: 28

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya, kamu melihat bumi itu kering dan tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dzat yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Fussilat: 39

3. Sebab-Sebab Utama Ditahannya Hujan dan Terjadinya Kemarau

Tertahannya tetesan rahmat dari langit merupakan dampak dari pelanggaran syariat dan terakumulasinya kemaksiatan di tengah masyarakat:

A. Syirik dan Khurafat

Mensekutukan Allah serta meyakini tradisi-tradisi syirik/khurafat adalah dosa paling besar yang menutup pintu keberkahan dari langit dan bumi.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'” QS. Luqman: 13

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكِ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” QS. An-Nisa: 48

Hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau menjadikan sekutu/tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.'” (HR. Bukhari no. 4477 & Muslim no. 86)

B. Kezaliman Penguasa, Menolak Zakat, dan Curang dalam Timbangan

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa kezaliman penguasa, enggan mengeluarkan zakat, dan kecurangan dalam jual-beli berhubungan langsung dengan datangnya kemarau panjang.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu Anhu

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ: لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلاَّ خَشَوْا الطَّاعُونَ وَالأَوْجَاعَ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا، وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا، وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلاَّ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ، إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian diuji dengannya—dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mendapati masa itu:

  1. Tidaklah perbuatan keji (zina) tampak pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya secara terang-terangan, melainkan akan tersebar di tengah mereka penyakit thaun (wabah) dan kelaparan/penyakit yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka.
  2. Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka akan ditimpa kemarau panjang (paceklik), beratnya beban hidup, dan kezaliman penguasa atas mereka.
  3. Dan tidaklah mereka menahan zakat harta-harta mereka, melainkan hujan dari langit akan ditahan bagi mereka. Sekiranya bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.
  4. Dan tidaklah mereka merusak janji Allah dan janji Rasul-Nya, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari luar mereka yang mengambil sebagian dari apa yang ada di tangan mereka.
  5. Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menghukum dengan Kitabullah dan memilih apa yang diturunkan Allah, melainkan Allah akan menjadikan bencana/permusuhan di antara mereka.” (HR. Ibn Majah no. 4019)
C. Kezaliman Antar-Sesama Manusia

Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat yang mencabut rahmat dari kehidupan dunia.

Hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu Anhu

اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” HR. Muslim no. 2578.

D. Maraknya Dosa Besar (Zina, Riba, Liwath) dan Kejahatan

Perbuatan keji yang merajalela mengundang kemurkaan Allah dan menolak turunnya rahmat.

Hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Jika zina dan riba telah merajalela (tampak terang-terangan) di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan azab Allah turun atas diri mereka sendiri.” HR. Al-Hakim no. 2261 & Abu Ya’la, Dishahihkan oleh Al-Hakim.

Bahaya Zina: Menutup Pintu Rahmat dan Mendatangkan Bencana

Perbuatan zina yang dilakukan secara terbuka merupakan salah satu tanda utama dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai wabah penyakit serta musibah.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” QS. Al-Isra’: 32

Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu Anhu

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلاَّ خَشَوْا الطَّاعُونَ وَالأَوْجَاعَ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah perbuatan keji (zina) tampak pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya (lakukan secara terang-terangan), melainkan akan tersebar di tengah mereka penyakit thun (wabah) dan kelaparan/penyakit yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka.” HR. Ibn Majah no. 4019.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan suburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” QS. Al-Baqarah: 275–27

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُُؤْمِنِينَ. ٢٧٨ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… ٢٧٩

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakannya (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…” QS. Al-Baqarah: 278–279

Bahaya Liwath (Penyimpangan Seksual Homoseksual/LGBT)

Perbuatan keji liwath (hubungan sesama jenis) adalah dosa besar yang melanggar fitrah manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabadikan azab dahsyat berupa dihujani batu dan dibalikkannya tanah bumi bagi kaum Nabi Luth ‘alaihissalam yang melakukannya.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ. ٨٠ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ. ٨١

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.'” QS. Al-A’raf: 80–81.

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ

“Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas balik ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” QS. Hud: 82

Hadits dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu Anhu

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Dari Ibn ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth (liwath), maka bunuhlah orang yang melakukan dan yang diperlakukan (pasangannya).'” (HR. Abu Dawud no. 4462 & Tirmidzi no. 1456, Hasan).

Hukuman ini seperti ini menjadi wewenang pemerintah, bukan person.

E. Durhaka kepada Orang Tua dan Keras Hati

Membangkang kepada orang tua serta memiliki hati yang keras dan enggan bertaubat menjadi penghalang utama terkabulnya doa-doa kita.

Hadits dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits Radhiyallahu Anhu

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟ ثَلاَثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa yang paling besar?’ Beliau mengulanginya tiga kali. Para sahabat menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Mensekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.'” HR. Bukhari no. 2654 dan Muslim no. 87.

F. Meremehkan Shalat Wajib dan Puasa Ramadhan

Meninggalkan rukun Islam—seperti meremehkan shalat lima waktu serta sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadhan tanpa uzur—memutus hubungan kebaikan antara seorang hamba dengan Penciptanya.

Hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu Anhu

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Dari Jabir bin ‘Abdillah RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.'” HR. Muslim no. 82.

4. Amalan Kunci Agar Rahmat Hujan Kembali Turun

Agar Allah mengampuni dosa-dosa dan kembali mencurahkan rahmat-Nya, berikut adalah amalan-amalan yang wajib ditegakkan:

A. Beriman dan Bertaqwa dengan Benar

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” QS. Al-A’raf: 96

B. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Seruan Nabi Nuh ‘Alaihissalam

{فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. ١٠ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا. ١١ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا. ١٢

Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabbmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia melipatgandakan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya sungai-sungai.'” QS. Nuh: 10–12

Seruan Nabi Hud ‘Alaihissalam

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Dan (Nabi Hud berkata), ‘Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.'” QS. Hud: 52

C. Menegakkan Shalat Istisqa’ dan Berdoa di Lapangan

Meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berkumpul bersama umat di lapangan terbuka dengan kerendahan hati untuk mendirikan shalat Istisqa’ serta memohon pertolongan Allah.

Hadits dari ‘Abdullah bin Zaid

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُصَلَّى يَسْتَسْقِي، وَأَنَّهُ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan (tempat shalat) untuk memohon hujan. Ketika beliau hendak berdoa, beliau menghadap ke arah kiblat dan membalikkan selendang/pakaiannya.” HR. Bukhari no. 1024 & Muslim no. 894

D. Menunaikan Zakat Tepat Waktu dan Jujur dalam Timbangan

Mengeluarkan hak-hak fakir miskin dan menjaga keadilan dalam takaran serta timbangan jual-beli.

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) di hari memetik hasilnya (saat panen/tiba waktunya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” QS. Al-An’am: 141.

E. Saling Berlemah Lembut dan Meninggalkan Kezaliman

Mengasihi sesama makhluk bumi agar Penguasa Langit mencurahkan kasih sayang-Nya.

Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr ِRadhiyallahu Anhu

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Dzat Yang Maha Pengasih. Kasihilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya Dzat yang ada di langit akan mengasihi kalian.” HR. Tirmidzi no. 1924, Shahih.

Terdapat penambahan dan pengurangan dari hasil catatan di lapangan.

Lokasi Pelaksanaan: Lapangan Madrasah Aliyah Islamic Centre Bin Baz, Sabtu 26 September 2026, 07.00-07.45.

Tinggalkan komentar