Mabni/Tetap

4 Pembaca

Dan lawan kata dari I’rab adalah Al-Bina’ (Ketetapan/Permanen). Masing-masing dari keduanya (baik I’rab maupun Bina’) akan menjadi sangat jelas sejelas-jelasnya jika salah satunya dijelaskan (secara berlawanan).

Penulis matan (Ibnu Ajurrum) memang sengaja melewatkan penjelasan tentang Al-Bina’. Oleh karena itu, kami (Syekh Muhammad Muhyiddin) akan menjelaskannya kepada Anda dengan metode yang sama seperti saat kami menjelaskan I’rab tadi. Maka kami katakan:

Al-Bina’ (Ketetapan/Permanen) itu memiliki dua makna: pertama makna secara bahasa (etimologi), dan kedua makna secara istilah (terminologi).

Adapun maknanya secara bahasa adalah: Ungkapan tentang meletakkan sesuatu di atas sesuatu yang lain dengan cara yang menghendaki ketetapan dan sifatnya permanen (seperti membangun pondasi rumah).*

Adapun maknanya secara istilah adalah: Ketetapan akhir/ujung suatu kata pada satu kondisi saja, bukan karena adanya pengaruh faktor pengubah (amil) dan bukan pula karena adanya penyakit huruf (i’tlal / cacat kata).*

Contohnya adalah seperti tetapnya kata “Kam” (كَمْ) dan “Man” (مَنْ) pada harakat Sukun. Seperti tetapnya kata “Haa-ulaa-i” (هَؤُلَاءِ), “Hadzhaami” (حَذَامِ), dan “Amsi” (أَمْسِ) pada harakat Kasrah. Seperti tetapnya kata “Mundzu” (مُنْذُ) dan “Haisu” (حَيْثُ) pada harakat Dhammah. Dan seperti tetapnya kata “Ayna” (أَيْنَ) dan “Kayfa” (كَيْفَ) pada harakat Fathah.

Dari penjelasan ini, Anda dapat mengetahui bahwa julukan (istilah) untuk Al-Bina’ itu ada empat macam, yaitu: As-Sukun (السكون), Al-Kasr (الكسر), Adh-Dhamm (الضم), dan Al-Fath (الفتح).

Setelah semua hal ini dijelaskan, maka tidak akan sulit lagi bagi Anda untuk membedakan mana kata yang Mu’rab (bisa berubah) dan mana kata yang Mabni (permanen). Kesimpulannya:

Al-Mu’rab adalah: Kata yang kondisi akhir/ujungnya bisa berubah, baik secara terucap (lafdzan) maupun dikira-kira (taqdiran), disebabkan karena perbedaan amil yang masuk.*

Al-Mabni adalah: Kata yang kondisi ujungnya selalu tetap pada satu keadaan saja, bukan karena pengaruh amil dan bukan pula karena penyakit huruf.*

Poin Penting untuk Pelajar & Santri:

Perbedaan Istilah Harakat: Syekh Muhyiddin sengaja menggunakan istilah yang berbeda antara I’rab dan Bina’ agar kita tidak tertukar saat melakukan I’rab (analisis kalimat):

  • Untuk kata yang Mu’rab (bisa berubah), nama harakatnya adalah: Rafa’, Nashab, Jar/Khafadh, Jazm.
  • Untuk kata yang Mabni (permanen), nama harakatnya adalah: Dhamm, Fath, Kasr, Sukun.
  • Contoh Praktis: Kata أَيْنَ (Ayna) tidak boleh diucapkan “Mabni ‘ala Fathah”, yang benar adalah “Mabni ‘alal Fath”.

Tabel Golongan Kata Mabni (Permanen):

    Nama HarakatContoh Kata dari KitabSifat Akhir Kata
    As-Sukun (السكون)كَمْ (Berapa) , مَنْ (Siapa)Selalu mati/sukun di ujungnya.
    Al-Fath (الفتح)أَيْنَ (Di mana) , كَيْفَ (Bagaimana)Selalu berbunyi “A” di ujungnya.
    Al-Kasr (الكسر)هَؤُلَاءِ (Mereka ini) , أَمْسِ (Kemarin)Selalu berbunyi “I” di ujungnya.
    Adh-Dhamm (الضم)حَيْثُ (Sekiranya/Di mana) , مُنْذُ (Sejak)Selalu berbunyi “U” di ujungnya.

    Tinggalkan komentar