MENUNTUT ILMU DIMUDAHKAN JALAN KE SURGA
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَه فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Ta’ala. Berkat nikmat taufik dan hidayah-Nya, kita dapat berkumpul di rumah Allah ini untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat secara berjamaah dalam keadaan sehat walafiat dan dalam keadaan masih beriman dan berislam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita bersyukur kepada-Nya di dalam al-Quran dalam surat Ibrahim: 7,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).
Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang menegaskan kewajiban kita supaya bersyukur kepada-Nya, dengan menjelaskan bahwa nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sangatlah banyak tidak terhingga,
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,
Tidak lupa pula selaku khatib pada khutbah Jum’at siang ini saya mengingatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketakwaan ini merupakan bekal terbaik bagi kita di dunia ini maupun di akhirat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).
Selain itu orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang dihadapinya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. الطلاق: 2-3
Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. QS: ath-Thalaq: 2-3.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta umatnya yang istiqamah di atas sunnahnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Hari ini kita akan membahas tentang Menuntut Ilmu Akan Dimudahkan Jalan Ke surga, hal ini didasarkan sebuah hadis yang menjadi kunci pembuka surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699).
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini: Maknanya ada dua. Pertama, Allah mudahkan baginya jalan ke surga dengan amal-amal yang ia lakukan karena ilmunya. Kedua, Allah mudahkan jalan ke surga di hari kiamat ketika melewati shirath, karena ilmu adalah cahaya yang akan meneranginya.
Lalu pertanyaannya: Mengapa bisa? Mengapa sekedar berjalan, melangkahkan kaki, duduk di majelis, membuka buku, bisa menjadi sebab dimudahkan jalan ke surga? Karena di dalam ilmu itu terkandung 9 perkara agung yang tidak dimiliki oleh orang yang bodoh.
1. Menuntut Ilmu Mengantarkan Kepada Keikhlasan
Jamaah sekalian, semua amal itu tidak ada nilainya di sisi Allah jika tidak ikhlas. Amal sebesar gunung pun akan menjadi debu yang beterbangan jika niatnya bukan karena Allah.
Dan keikhlasan itu tidak datang dengan sendirinya, ia butuh ilmu. Tanpa ilmu, seseorang akan beramal karena ingin dipuji ustadznya, ingin dilihat orang, ingin dianggap paling shalih.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahkan untuk syahid yang mati di medan perang sekalipun:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 & Muslim no. 1907)
Maka ilmu mengajarkan kita untuk meluruskan niat. Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Bagaimana cara menghisab niat kalau tidak punya ilmu tentang niat?
Tabi’in agung, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, seorang imam besar ahli hadis, beliau berkata dengan jujur:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي، إِنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
“Tidak ada sesuatu yang paling berat aku obati melebihi niatku, karena ia selalu berbolak-balik.”
Dan muridnya, Yusuf bin Al-Husain rahimahullah berkata: “Perkara yang paling berat di dunia ini adalah ikhlas, karena niatku selalu lari dariku.”
Lihatlah, mereka orang berilmu saja merasa berat menjaga ikhlas, apalagi orang yang tidak berilmu? Maka menuntut ilmu adalah jalan untuk terus menerus memperbaiki keikhlasan, dan keikhlasan adalah jalan menuju surga.
2. Menuntut Ilmu Akan Membuka Segala Pintu Macam Bidang Ilmu
Ilmu itu seperti mata rantai, jamaah. Tidak bisa dipisah. Jika Anda belajar ilmu tauhid, Anda akan butuh ilmu bahasa Arab untuk memahami makna Laa Ilaaha Illallah. Jika Anda belajar bahasa Arab, Anda akan butuh ilmu tafsir. Jika Anda belajar tafsir, Anda butuh ilmu hadis. Jika Anda belajar hadis, Anda butuh ilmu fiqih.
Allah berfirman memerintahkan Nabi-Nya untuk tidak pernah puas dengan ilmu:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu, karena Allah tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan sesuatu kecuali tambahan ilmu.”
Karena itu, orang yang menuntut ilmu akan terbuka cakrawalanya. Ia tidak sempit.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
زِدْهُ عِلْمًا، فَمَنْ لَمْ يَزْدَدْ عِلْمًا، ازْدَادَ جَهْلًا
“Tambahlah ilmunya, barangsiapa tidak bertambah ilmunya, maka bertambah kebodohannya.”
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, yang merupakan tabi’ut tabi’in, berkata dengan syair yang indah:
كُلَّمَا أَدَّبَنِي الدَّهْرُ أَرَانِي نَقْصَ عَقْلِي # وَإِذَا مَا ازْدَدْتُ عِلْمًا زَادَنِي عِلْمًا بِجَهْلِي
“Setiap kali zaman mendidikku, ia memperlihatkan kekuranganku # Dan setiap kali aku bertambah ilmu, bertambah pula pengetahuanku akan kebodohanku.”
Orang berilmu akan merasa bodoh, sehingga ia terus belajar. Orang bodoh akan merasa paling berilmu, sehingga ia berhenti belajar. Dan dengan terus belajar, semakin banyak pintu surga yang terbuka baginya.
3. Menuntut Ilmu Akan Menjadikan Seseorang Mengenal Allah
Jamaah, inilah puncak dari semua ilmu: mengenal Allah. Kita tidak akan bisa mencintai Allah, takut kepada Allah, berharap kepada Allah, jika kita tidak mengenal siapa Allah.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ketahuilah (berilmulah), bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19)
Para ulama memulai kitab tauhid dengan ayat ini. Kenapa? Karena mengenal Allah adalah kewajiban pertama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, barangsiapa yang ahshaha (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 2736 & Muslim no. 2677)
Makna ahshaha kata Imam An-Nawawi bukan sekedar menghafal, tapi memahami maknanya dan beribadah dengan konsekuensi nama tersebut. Jika tahu Allah Ar-Razzaq, maka ia tidak takut miskin. Jika tahu Allah Al-Ghafur, maka ia tidak putus asa dari dosa.
Sahabat ahli tafsir, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Beliau tafsirkan: إِلَّا لِيَعْرِفُونِ “Kecuali agar mereka mengenal-Ku.” Karena ibadah tidak sah tanpa mengenal siapa yang diibadahi.
Tabi’in Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jika engkau mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, maka engkau tidak akan pernah merasa kesepian karena kehilangan manusia.”
4. Menuntut Ilmu Akan Menjadikan Seseorang Mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Setelah mengenal Allah, seorang hamba wajib mengenal Rasul yang menjadi perantara antara dirinya dengan Allah. Bagaimana cara beribadah? Bagaimana cara masuk surga? Semua lewat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قِيلَ: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Sahabat bertanya: Siapa yang enggan wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, maka ia telah enggan (masuk surga).” (HR. Bukhari no. 7280)
Bagaimana mungkin taat jika tidak kenal? Dengan menuntut ilmu sirah, ilmu hadis, ilmu syamail, kita jadi tahu: oh begini cara Nabi wudhu, begini cara Nabi shalat, begini cara Nabi makan, begini akhlak Nabi kepada istrinya. Lalu kita ikuti. Dan ittiba’ (mengikuti Nabi) itulah tiket ke surga.
Imam Az-Zuhri rahimahullah, seorang tabi’in besar berkata:
مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
“Dari Allah datangnya risalah, kewajiban Rasul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita adalah menerimanya dan tunduk.”
Ulama salaf Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki awalnya, yaitu dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya.”
5. Menuntut Ilmu Akan Menjadikan Orang Tahu Perkara Yang Dilarang dan Diperintahkan
Jamaah sekalian, hidup ini adalah pilihan antara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Orang yang tidak berilmu akan terbalik: ia menjalankan yang dilarang dan meninggalkan yang diperintahkan, ia kira itu baik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui banyak manusia.” (HR. Bukhari & Muslim)
Siapa yang mengetahui yang syubhat itu? Orang berilmu.
Sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda tentangnya:
أَعْلَمُ أُمَّتِي بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ
“Orang yang paling tahu tentang halal dan haram di antara umatku adalah Mu’adz bin Jabal.” (HR. Tirmidzi, shahih)
Tabi’in Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, Khalifah yang adil, berkata:
مَنْ عَمِلَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa beramal tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada kebaikan yang ia lakukan.”
Bayangkan orang berdagang tanpa tahu riba, ia kira untung padahal ia sedang menabung api neraka. Orang berilmu akan selamat karena tahu batas halal haram.
6. Menuntut Ilmu Menjadikan Seseorang Mengetahui Tingkatan Ibadah Sehingga Mampu Memilih Skala Prioritas
Tidak semua ibadah nilainya sama di sisi Allah. Ada yang wajib, ada yang sunnah muakkad, ada yang mubah. Ada yang fardhu ‘ain, ada yang fardhu kifayah. Orang bodoh akan menyibukkan diri dengan yang sunnah dan meninggalkan yang wajib. Atau sibuk dengan yang khilafiyah dan meninggalkan yang ijma’.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus (istiqomah) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dan dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.” (HR. Bukhari)
Ini namanya fiqih prioritas. Wajib dulu, baru sunnah.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنَّ لِلْقُلُوبِ نَشَاطًا وَإِقْبَالًا، وَلَهَا تَوَلِّيًا وَإِدْبَارًا، فَاغْتَنِمُوهَا عِنْدَ نَشَاطِهَا وَإِقْبَالِهَا، وَدَعُوهَا عِنْدَ تَوَلِّيهَا وَإِدْبَارِهَا
“Sesungguhnya hati itu ada masa semangatnya dan ada masa malasnya. Maka manfaatkanlah ketika ia semangat, dan tinggalkanlah (amalan sunnah yang berat) ketika ia sedang malas.”
Ini fiqih yang dalam. Ketika malas, cukup jaga yang wajib. Ketika semangat, perbanyak yang sunnah.
Tabi’ut tabi’in Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya: Mana yang lebih utama, shalat sunnah semalam suntuk atau menuntut ilmu? Beliau menjawab:
طَلَبُ الْعِلْمِ وَنَشْرُهُ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ
“Menuntut ilmu dan menyebarkannya lebih utama daripada shalat sunnah.” Karena manfaat shalat sunnah untuk diri sendiri, manfaat ilmu untuk diri sendiri dan umat.
Maka orang berilmu tahu kapan harus diam, kapan harus bicara. Kapan harus shalat, kapan harus membantu orang tua. Itu semua adalah skala prioritas.
7. Menuntut Ilmu Menjadikan Seseorang Tahu Jalan Menuju Surga dan Jalan Menuju Neraka
Hidup ini seperti jalan yang banyak simpang. Tanpa peta dan cahaya ilmu, kita akan tersesat.
Allah berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa Rasulullah pernah membuat garis dengan tangannya, lalu bersabda:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا، ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ، ثُمَّ تَلَا: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
“Rasulullah membuat satu garis lurus dengan tangannya, lalu bersabda: Ini adalah jalan Allah. Kemudian beliau membuat garis-garis di kanan dan kirinya, lalu bersabda: Ini adalah jalan-jalan lain. Di setiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat Al-An’am 153.” (HR. Ahmad, hasan)
Jalan-jalan setan itu terkadang berbaju agama, jamaah. Berbaju ibadah, berbaju dzikir, tapi bid’ah, tidak ada contoh dari Nabi. Hanya dengan ilmu kita bisa membedakan.
Tabi’in Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat. Karena pelaku maksiat masih tahu ia salah dan bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah mengira ia di atas kebenaran sehingga tidak bertaubat.”
Maka ilmu adalah cahaya yang membedakan jalan surga dan jalan neraka.
8. Menuntut Ilmu Menjadikan Seseorang Memiliki Rasa Takut Kepada Allah
Inilah buah yang paling manis dari ilmu, yaitu khasyyah.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)
Mengapa? Karena orang berilmu tahu betapa pedihnya azab Allah, betapa luasnya ilmu Allah, betapa Allah Maha Melihat setiap detik perbuatannya. Orang bodoh berani bermaksiat karena ia tidak tahu Allah sedang mengawasinya.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا، وَكَفَى بِالِاغْتِرَارِ بِاللَّهِ جَهْلًا
“Cukuplah rasa takut kepada Allah itu sebagai ilmu, dan cukuplah tertipu dengan ampunan Allah itu sebagai kebodohan.”
Tabi’in Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah membagi ilmu menjadi dua:
الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَتِلْكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ
“Ilmu itu ada dua: ilmu yang berada di dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu yang hanya berada di lisan, maka itu akan menjadi hujjah (pemberat) bagi anak Adam di hari kiamat.”
Ilmu yang di hati pasti melahirkan rasa takut.
Ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah:
كُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ بِاللَّهِ أَعْرَفَ، كَانَ لَهُ أَخْوَفَ
“Setiap kali seorang hamba semakin mengenal Allah, maka ia akan semakin takut kepada-Nya.”
Dan orang yang takut kepada Allah, Allah jamin surga baginya:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46)
POIN 9: Menuntut Ilmu Menjadikan Seseorang Mulia di Dunia dan di Akhirat
Inilah buah terakhir, puncak kemuliaan.
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Imam Ibnu Katsir berkata: Allah meninggikan di dunia dengan wibawa, dan di akhirat dengan tingginya derajat di surga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan sebab Al-Qur’an ini, dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim)
Kisah nyata: Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika di Mina, ia bertanya kepada gubernurnya di Mekah, Nafi’ bin Abdul Harits: Siapa yang kau jadikan pemimpin penduduk lembah (Mekah)? Ia menjawab: Ibnu Abza. Umar bertanya: Siapa Ibnu Abza? Ia menjawab: Mantan budak. Umar heran: Mantan budak kau jadikan pemimpin? Ia menjawab: Wahai Amirul Mukminin, ia sangat paham Kitabullah dan ilmu faraidh (waris). Maka Umar berkata: Sungguh Nabimu telah bersabda: Allah mengangkat suatu kaum dengan Al-Qur’an ini.
Lihatlah, budak bisa menjadi mulia karena ilmu.
Tabi’ut tabi’in Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:
لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَكُونَ إِمَامًا يُقْتَدَى بِهِ حَتَّى يَتَحَلَّى بِالْعِلْمِ
“Tidak pantas seseorang menjadi imam yang diikuti kecuali ia berhias dengan ilmu.”
Dan ulama salaf Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata:
عَجِبْتُ لِمَنْ لَمْ يَطْلُبِ الْعِلْمَ، كَيْفَ تَدْعُوهُ نَفْسُهُ إِلَى مُكَرَّمَةٍ
“Aku heran kepada orang yang tidak mau menuntut ilmu, bagaimana jiwanya bisa mengajak kepada kemuliaan?”
Tidak ada kemuliaan tanpa ilmu.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Setelah kita mendengar 9 perkara besar mengapa penuntut ilmu dimudahkan jalan ke surga, mulai dari ikhlas, terbukanya pintu ilmu, mengenal Allah, mengenal Rasul, tahu halal haram, tahu skala prioritas, tahu jalan surga neraka, memiliki rasa takut, hingga kemuliaan dunia akhirat, maka apa tugas kita?
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, jangan pernah merasa kenyang dari ilmu. Jadilah penuntut ilmu sampai akhir hayat.
Pertama: Luruskan niat. Ingat perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، لِأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ، وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ
“Manusia lebih butuh kepada ilmu daripada butuhnya mereka kepada makan dan minum. Karena seseorang butuh makan minum sehari sekali atau dua kali, sedang kebutuhannya terhadap ilmu sebanyak tarikan nafasnya.”
Kedua: Istiqomah dan sabar. Ilmu tidak didapat dengan santai. Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَبُلْغَةٍ # وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ
“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal (biaya), bimbingan guru, dan waktu yang lama.”
Ketiga: Datangilah taman-taman surga di dunia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ
“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah. Sahabat bertanya: Apa itu taman surga? Beliau menjawab: Halaqah-halaqah dzikir / ilmu.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Masjid kita adalah taman surga. Kajian ba’da Maghrib, kajian Subuh, kajian ahad pagi, itu semua adalah taman surga. Siapa yang betah duduk di taman surga di dunia, Allah akan betahkan dia masuk ke surga yang hakiki di akhirat.
Ajak anak, istri, keluarga kita. Jadikan rumah kita hidup dengan ilmu.
Ingatlah, satu langkah kaki Anda menuju majelis ilmu, Allah catat sebagai satu langkah yang memudahkan jalan Anda menuju surga.
Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang disebutkan dalam hadis: “Sahhalallahu lahu bihi thariqan ilal jannah” – Allah mudahkan jalannya menuju surga.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. الأحزاب: 56
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنِ
Abu Layla Turahmin. BA, S.Pd, M.H.
Piyungan, Bantul, ICBB. Jum’at, 06 November 2026.
Sudah disampaikan di Masjid: