Meraih Keberkahan Hidup Melalui Kejujuran dan Amanah

4 Pembaca
KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ العَلَاءَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَعَسَى الرَّسُولَ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Ta’ala. Berkat nikmat taufik dan hidayah-Nya, kita dapat berkumpul di rumah Allah ini untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat secara berjamaah dalam keadaan sehat walafiat dan dalam keadaan masih beriman dan berislam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita bersyukur kepada-Nya di dalam al-Quran dalam surat Ibrahim: 7,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).

Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang menegaskan kewajiban kita supaya bersyukur kepada-Nya, dengan menjelaskan bahwa nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sangatlah banyak tidak terhingga,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,

Tidak lupa pula selaku khatib pada khutbah Jum’at siang ini saya mengingatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketakwaan ini merupakan bekal terbaik bagi kita di dunia ini maupun di akhirat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).

Selain itu orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang dihadapinya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. الطلاق: 2-3

Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. QS: ath-Thalaq: 2-3.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta umatnya yang istiqamah di atas sunnahnya hingga akhir zaman.

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Kehidupan yang penuh berkah, tenang, dan mendatangkan keridaan Allah adalah impian setiap mukmin. Di antara pilar utama untuk meraih keberkahan hidup tersebut adalah menghiasi diri dengan sifat kejujuran (shiddiq) dan amanah.

Kedua sifat mulia ini bukan sekadar pelengkap akhlak, melainkan fondasi keimanan seseorang. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 119:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).

Ayat ini memerintahkan kita untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat. Kejujuran adalah cerminan hati yang bersih dari kemunafikan. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagi kamu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” QS. Al-Ahzab ayat 70-71.

قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ ٱلصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” QS. Al-Ma’idah ayat 119.

فَٱجْتَنِبُواْ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَانِ وَٱجْتَنِبُواْ قَوْلَ ٱلزُّورِ

…Maka jauhilah berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. QS. Al-Hajj ayat 30.

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa kejujuran (shidqu) dalam Islam merupakan fondasi utama integritas seorang Muslim, yang tentu kejujuran akan membawa ketenteraman hati sekaligus kedudukan yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan betapa agungnya kedudukan jujur dalam Islam. Beliau bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memilih kejujuran, akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur (ash-shiddīq).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perhatikanlah betapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengaitkan kejujuran langsung dengan jalan menuju surga. Sebaliknya, kebohongan akan membawa kepada keburukan dan mengantarkan ke neraka. dalam hadis lain beliau juga bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Dari Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). Dan sesungguhnya dusta itu membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu membimbing ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” HR. Bukhari dan Muslim.

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْ ما يَرِيبُكَ إلى ما لا يَرِيبُكَ، فإنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وإنَّ الكِذْبَ رِيبَةٌ

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku menghafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan, dan kebohongan itu adalah keraguan.” HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اضْمَنُوا لي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ: اُصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ، وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ، وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ، وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ، وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ، وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

Dari Ubadah bin al-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jaminlah untukku enam perkara dari diri kalian, maka aku akan menjamin surga untuk kalian: Jujurlah jika kalian berbicara, tepatilah jika kalian berjanji, tunaikanlah jika kalian diberi amanat, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian.” HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan dusta meskipun ia sedang bergurau, dan aku menjamin sebuah rumah di bagian surga yang paling tinggi bagi seseorang yang membaguskan akhlaknya.” HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad.

Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa kejujuran tidak hanya sekadar ucapan yang sesuai kenyataan, melainkan prinsip hidup yang mencakup perkataan, janji, amanat, hingga senda gurau sehari-hari.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Selain kejujuran, sifat yang tak kalah penting untuk mendatangkan keberkahan hidup adalah amanah. Amanah adalah segala bentuk titipan atau tanggung jawab yang dibebankan kepada kita, baik yang berkaitan dengan hak Allah (seperti shalat, zakat, puasa) maupun hak sesama manusia (seperti pekerjaan, titipan harta, jabatan, dan amanah keluarga).

Amanah merupakan salah satu sifat mulia yang sangat erat kaitannya dengan kejujuran. Dalam ajaran Islam, amanah berarti menunaikan segala hak kepada pemiliknya dan tidak mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan, baik yang berkaitan dengan hak Allah Swt. maupun hak sesama manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّواْ ٱلْأَمَانَٰتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” QS. An-Nisa’ ayat 58.

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” QS. Al-Anfal ayat 27.

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” QS. Al-Mu’minun ayat 8.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا أُؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَالَ: «لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Tidaklah Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami melainkan beliau bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada amanah baginya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya.” HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” HR. Bukhari dan Muslim.

Hadis-hadis ini menjadi peringatan keras bagi kita agar senantiasa menjaga amanah dalam setiap lini kehidupan. Seorang pegawai yang jujur dalam pekerjaannya, seorang pedagang yang tidak curang dalam timbangannya, seorang pemimpin yang adil kepada rakyatnya, hingga seorang ayah dan ibu yang mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab—mereka semua adalah orang-orang yang menegakkan sifat amanah.

Sifat amanah mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari menjaga harta benda orang lain, menjaga rahasia, melaksanakan tugas pekerjaan dengan profesional, hingga menunaikan tanggung jawab sebagai hamba kepada Allah

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita renungkan bagaimana para pendahulu kita dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam memahami dan mengamalkan prinsip kejujuran serta amanah ini.

Sahabat yang mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, tidak hanya dikenal karena keimanan dan ketulusannya, tetapi juga karena kejujurannya yang luar biasa hingga beliau digelari Ash-Shiddiq. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, beliau menegakkan amanah kepemimpinan dengan penuh keadilan, mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, dan memastikan setiap kebijakan berjalan di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula perkataan yang sangat masyhur dari pemimpin kaum mukminin, Umar bin Al-Khathth radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau menasihati umatnya:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

“Hisablah (introspeksilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Musannaf).

Introspeksi diri ini sangat erat kaitannya dengan kejujuran. Apakah dalam mencari nafkah kita sudah jujur? Apakah dalam interaksi sosial kita sudah menjaga amanah? Ataukah masih ada kecurangan-kecurangan kecil yang kita anggap remeh, padahal hal tersebut menghilangkan keberkahan hidup?

Ingatlah, harta yang banyak tetapi didapat dengan cara yang tidak jujur dan mengkhianati amanah tidak akan membawa ketenangan, melainkan mendatangkan kesengsaraan di dunia dan azab di akhirat. Sebaliknya, rezeki yang sedikit namun didapat dengan cara yang halal, jujur, dan penuh amanah akan diberkahi oleh Allah Ta’ala dan mendatangkan ketenteraman jiwa.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ دُنْيَاكُمْ هذه فانية، وَأَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sebagai penutup khutbah pada siang hari ini, marilah kita senantiasa merenungkan bahwa integritas seorang Muslim diuji di saat sunyi maupun ramai. Kejujuran dan amanah bukanlah pakaian yang hanya dikenakan saat kita berada di hadapan manusia, melainkan keimanan yang bersemi di dalam hati, karena kita sadar bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi gerak-gerik kita. Allah berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19).

Mari kita didik diri kita, keluarga kita, dan lingkungan sekitar kita untuk senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan amanah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing langkah-langkah kita di atas jalan yang lurus, memberkahi rezeki kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. الأحزاب: 56

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنِ

Abu Layla Turahmin. BA, S.Pd, M.H.
Piyungan, Bantul, ICBB. Kamis, 01 Septeber 2026.

Sudah disampaikan di Masjid:

Tinggalkan komentar