Kunci Kesempurnaan Tauhid

3 Pembaca

Kunci kesempurnaan tauhid adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala.

Mengenal Allah subhanahu wa ta’ala merupakan ilmu yang paling utama dan paling penting dalam syari’at Islam.

Alasan mengenal Allah subhanahu wa ta’ala merupakan ilmu teragung dan termulia karena keagungan ilmu tergantung dari obyek yang diilmui, dan obyek ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala adalah Allah sebagai Pencipta, Sesembahan yang berhak disembah dan Zat pemilik asmaul husna.

Allah adalah Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Zat yang ilmunya juga meliputi segala sesuatu.

Mengenal Allah subhanahu wa ta’ala adalah pondasi dasar untuk menguatkan ibadah dan ketundukan kepada-Nya.

Orang yang paling sempurna ibadah, tauhid, dan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang paling mengenal Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak mengenal Allah subhanahu wa ta’ala akan mengakibatkan lemahnya tauhid, ibadah dan penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena tauhid, ibadah dan penghambaan diri bukan hanya sekedar gerakan anggota badan tapi meliputi hati yang merupakan pusat pergerakan anggota badan.

Inti ibadah adalah apa yang ada di dalam hati, sebagaimana isyarat yang diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa takwa ada di dalam dada (hati).

Perjalanan sesungguhnya seorang hamba menuju kepada Allah adalah dengan hatinya.

Ibadah yang sesungguhnya adalah kesempurnaan cinta dan ketundukan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Setiap pujian Allah kepada hamba-hambanya dalam al-Quran selalu disebutkan dengan ketundukan hamba tersebut dalam beribadah yang disertai rasa cinta, takut dan harap yang terletak dalam hati hamba-hamba-Nya tersebut.

Bersegera melakukan kebaikan dan berlomba-lomba dalam mengamalkannya disertai dengan rasa cinta, harap dan takut kepada Allah, serta rasa khusu’ dan tunduk adalahmerupakan amalan hati.

Tauhid yang sempurna adalah tauhid yang diiringi ilmu dan amal.

Orang yang khosyyah (takut disertai dengan ketundukam dan pengagungan) kepada Allah hanya para ulama (orang-orang yang berilmu) yang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifatnya yang maha tinggi dan maha mulia.

Semakin tinggi dan semakin kuat ilmu seseorang tentang nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala akan semakin sempurna ketundukan dan penghambaan seorang hamba kepada-Nya.

Kesempurnaan ibadah lahir dan batin seorang hamba seluruhnya kembali kepada pengenalan hamba tersebut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semakin tinggi dan dalam pengenalan tersebut akan semakin kuat dan hebat ibadah hamba tersebut.

Ruh (nyawa) iman adalah cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang dituntut dari seorang hamba adalah cinta yang melebihi cintanya kepada makhluk.

Cinta orang-orang yang beriman kepada Alah lebih tinggi dan sempurna daripada cinta orang-orang musyrik kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena cinta mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala sempurna tanpa dibagi dengan kecintaan kepada sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berbeda dengan cinta orang-orang musyrik yang terbagi.

Manisnya iman bisa diraih dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya, mencintai orang hanya karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran sebagaimana bencinya jika dilemparkan ke dalam api.

Perkara yang paling sering disebutkan dalam al-Qur’an adalah tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Ayat-ayat yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan ayat-ayat termulia dan teragung.

أولئك يسارعون في الخيرات وهم لها سابقون

Jika kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dominan dalam hati seorang hamba maka hamba tersebut akan rajin dan kuat dalam beribadah kepada-Nya, bahkan perkara yang paling disukai oleh mereka adalah ibadah.

Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan dan kebaikan bagi hati seorang hamba kecuali jika hamba tersebut hanya mepertuhankan Allah subhanahu wa ta’ala, cinta kepada-nya lebih tinggi dan lebih besar daripada cintanya kepada selain-Nya.

Orang-orang yang berlebihan dalam mencintai dunia merupakan orang yang oaling menderita ketika mereka meninggalkan dunia ini tanpa merasakan cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ikhlas merupakan sesuatu tersulit dan terberat untuk dilakukan oleh seorang hamba kecuali jika hamba itu benar-benar lebih mencintai Allah daripada cinta kepada selain-Nya.

Khusu’ dalam beribadah hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang sempurna cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketenangan hati dan kekhusus’an dalam beribadah bersumber pada kuatnya cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semakin kuat dan sempurna cinta tersebut semakin tenang dan khusus’ hatinya ketika beribadah.

Kesimpulan: Penghambaan diri yang sejati kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan mengenal asma dan sifat-Nya.

Masjid Jamilurrahman, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, DIY. Senin, 14 September 2026, bakda Maghrib-Isya.

Tinggalkan komentar