BAB TENTANG TALAK (PERCERAIAN)

37 Pembaca

كِتَابُ الطَّلَاقِ

الطَّلَاقُ لُغَةً: التَّخْلِيَةُ وَالْإِرْسَالُ وَالتَّرْكُ، يُقَالُ: طَلَقَتِ النَّاقَةُ – بِفَتْحِ اللَّامِ – إِذَا سَرَحَتْ حَيْثُ شَاءَتْ، وَطَلَقَتِ الْمَرْأَةُ تَطْلُقُ طَلَاقاً فَهِيَ طَالِقٌ وَطَالِقَةٌ: إِذَا خُلِّيَتْ مِنْ وَثَاقِ النِّكَاحِ

وَجَاءَ فِي شَرْحِ الْفَصِيحِ أَنَّهُ يُقَالُ: طَلُقَتْ – بِضَمِّ اللَّامِ – وَهَذَا إِنْ جَعَلْتَ الْفِعْلَ لَهَا، فَإِنْ جَعَلْتَهُ لِلزَّوْجِ، قُلْتَ: طَلَّقْتُ تَطْلِيقاً، وَإِنْ شِئْتَ طَلَاقاً

وَالطَّلَاقُ شَرْعاً: فِرَاقُ الزَّوْجَةِ بِحَلِّ قَيْدِ النِّكَاحِ أَوْ بَعْضِهِ بِلَفْظٍ مَخْصُوصٍ

وَقَدْ ثَبَتَ تَشْرِيعُ الطَّلَاقِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ

أَمَّا الْكِتَابُ: فَقَدْ شَرَعَ اللهُ الطَّلَاقَ وَبَيَّنَ أَحْكَامَهُ فِي آيَاتٍ كَثِيرَةٍ، قَالَ تَعَالَى: ﴿الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ﴾ [البقرة: ٢٢٩]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ﴾ [البقرة: ٢٢٨]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾ [البقرة: ٢٣٧]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ﴾ [الطلاق: ١].

وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعِبَادِهِ وَتَفَضُّلِهِ عَلَيْهِمْ وَإِحْسَانِهِ بِهِمْ؛ لِأَنَّ الطَّلَاقَ عِنْدَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ مِنْ نِعَمِ اللهِ تَعَالَى، كَمَا سَيَأْتِي

وَأَمَّا السُّنَّةُ: فَأَحَادِيثُ الْبَابِ

وَأَمَّا الْإِجْمَاعُ: فَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَازِ الطَّلَاقِ

وَالْحِكْمَةُ مِنْ مَشْرُوعِيَّتِهِ: إِزَالَةُ الضَّرَرِ وَالْمَفْسَدَةِ إِذَا تَعَذَّرَ الْإِصْلَاحُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَفَسَدَتِ الْحَيَاةُ الزَّوْجِيَّةُ؛ لِأَنَّ الْبَقَاءَ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ إِضْرَارٌ بِالزَّوْجِ بِإِلْزَامِهِ الْإِنْفَاقَ وَالسَّكَنَ، وَحَبْسٌ لِلزَّوْجَةِ مَعَ سُوءِ الْعِشْرَةِ وَالْخُصُومَةِ الدَّائِمَةِ، فَأَجَازَهُ الْإِسْلَامُ بَعْدَ أَنْ نَدَبَ إِلَى الصَّبْرِ وَتَحَمُّلِ مَا قَدْ يَحْصُلُ مِنَ الْمَرْأَةِ، وَلَا يُلْجَأُ إِلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ اسْتِنْفَادِ جَمِيعِ وَسَائِلِ الْعِلَاجِ.

وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ أَحْكَامَ التَّكْلِيفِ الْخَمْسَةَ تَأْتِي عَلَيْهِ

فَيَكُونُ مُبَاحاً: إِذَا احْتَاجَ الزَّوْجُ إِلَيْهِ لِكَرَاهَةِ الْمَرْأَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَلَمْ يَسْتَطِعِ الصَّبْرَ، مَعَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى رَغَّبَ فِي الصَّبْرِ فِي قَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: ﴿فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً﴾ [النساء: ١٩]

وَيَكُونُ مُسْتَحَبّاً: إِذَا احْتَاجَتِ الزَّوْجَةُ إِلَيْهِ لِكَرَاهَةِ الرَّجُلِ وَنَحْوِهَا

وَيَكُونُ حَرَاماً: إِذَا كَانَ لِغَيْرِ الْعِدَّةِ؛ كَالطَّلَاقِ فِي زَمَنِ الْحَيْضِ، أَوْ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدَةٍ

وَيَكُونُ وَاجِباً: إِذَا آلَى الزَّوْجُ مِنْ زَوْجَتِهِ وَمَضَتِ الْمُدَّةُ وَلَمْ يَرْجِعْ

وَيَكُونُ مَكْرُوهاً: فِيمَا عَدَا ذَلِكَ؛ كَحَالِ اسْتِقَامَةِ الزَّوْجَيْنِ

قَالَ الْوَزِيرُ ابْنُ هُبَيْرَةَ: أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الطَّلَاقَ فِي حَالِ اسْتِقَامَةِ الْحَيَاةِ الزَّوْجِيَّةِ مَكْرُوهٌ، إِلَّا أَبَا حَنِيفَةَ قَالَ: هُوَ حَرَامٌ مَعَ اسْتِقَامَةِ الْحَالِ

BAB TENTANG TALAK (PERCERAIAN)

Arti Talak secara Bahasa: Talak berarti melepaskan, membebaskan, atau meninggalkan. Contoh penggunaannya dalam bahasa Arab: “Thalaqat-in-naaqatu” (dengan huruf ‘lam’ dibaca fatah/pendek), artinya: unta betina itu lepas dan bebas pergi ke mana pun ia mau. Begitu juga kalimat “Thalaqat-il-mar’atu” (perempuan itu telah ditalak), yang artinya perempuan tersebut telah lepas dari ikatan pernikahan.

Di dalam kitab Syarh Al-Fashih disebutkan, bisa juga diucapkan “Thaluqat” (dengan huruf ‘lam’ dibaca dhommah/u). Ini dipakai jika kata kerja tersebut disandarkan kepada si istri. Namun, jika kata kerajanya disandarkan kepada suami, maka kalimatnya menjadi: “Thallaqtu” (aku telah menceraikan), dengan kata kebendaan (masdar) berupa Tathliiqan atau Thalaaqan.

Arti Talak secara Syariat (Agama): Talak adalah perpisahan antara suami dan istri dengan cara memutus ikatan pernikahan (baik putus total atau sebagian), yang diucapkan menggunakan kata-kata tertentu.

Aturan mengenai talak ini sah dan resmi berdasarkan Al-Qur’an (Al-Kitab), Hadis (As-Sunnah), dan kesepakatan para ulama (Ijmak).

Dalil dari Al-Qstrings (Al-Kitab): Allah SWT telah mensyariatkan talak dan menjelaskan aturan-aturannya dalam banyak ayat. Beberapa di antaranya:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ. البقرة: ٢٢٩

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. Setelah itu, (suami) boleh menahan dengan cara yang baik, atau melepaskan (menceraikan) dengan cara yang baik pula.” (QS. Al-Baqarah: 229)

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ. البقرة: ٢٢٨

“Perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (suci atau haid).” (QS. Al-Baqarah: 228)

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ. البقرة: ٢٣٧

“Jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu menyentuh (berhubungan badan) dengan mereka, padahal kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua (setengah) dari apa yang telah kamu tentukan itu.” (QS. Al-Baqarah: 237)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ. الطلاق: ١

“Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka cerai-kanlah mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang suci), dan hitunglah waktu idah itu.” (QS. At-Talaq: 1)

Semua aturan ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, serta wujud kemurahan dan kebaikan-Nya. Sebab, talak—ketika memang benar-benar dibutuhkan—sebenarnya adalah salah satu nikmat dan jalan keluar dari Allah SWT, sebagaimana penjelasannya akan datang kemudian.

Dalil dari As-Sunnah (Hadis): Dasarnya adalah hadis-hadis Nabi yang ada di dalam bab ini (yang akan dibahas setelah ini).

Dalil dari Ijmak (Kesepakatan Ulama): Umat Islam (para ulama) telah sepakat bahwa talak/perceraian itu hukumnya boleh.

Hikmah Disyariatkannya Talak: Tujuan dibolehkannya talak adalah untuk menghilangkan penderitaan dan dampak buruk, terutama ketika hubungan suami-istri sudah rusak dan tidak bisa didamaikan lagi. Jika pernikahan yang toxic ini dipaksakan terus berjalan, hal itu hanya akan merugikan suami karena dia tetap wajib memberi nafkah dan tempat tinggal, sekaligus menyiksa istri karena merasa terkurung dalam hubungan yang penuh pertengkaran abadi.

Oleh karena itu, Islam mengizinkan talak. Namun perlu dicatat, Islam awalnya sangat menganjurkan untuk bersabar menghadapi kekurangan pasangan. Talak adalah jalan pintas terakhir, dan tidak boleh dilakukan sebelum semua cara untuk memperbaiki hubungan sudah dicoba dan gagal.

Hukum Talak Bisa Berubah-ubah: Para ulama menjelaskan bahwa talak bisa masuk ke dalam 5 hukum dasar agama, tergantung situasinya:

Boleh (Mubah): Jika suami memang butuh cerai karena sudah tidak ada kecocokan atau tidak suka dengan istrinya dan ia sudah tidak sanggup bersabar. Meskipun begitu, Allah tetap menyarankan untuk sabar, lewat firman-Nya:

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً. النساء: ١٩

“Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 19).

Dianjurkan (Sunah): Jika istri yang meminta cerai karena sudah tidak tahan atau tidak suka dengan perlakuan suaminya.

Dilarang (Haram): Jika melanggar aturan waktu idah, misalnya menceraikan istri saat sedang haid, atau langsung menjatuhkan talak lebih dari satu (seperti langsung talak tiga sekaligus).

Wajib: Jika suami melakukan Ila’ (bersumpah tidak akan menggauli istrinya), lalu masa tunggu 4 bulan sudah habis dan si suami tetap menolak untuk kembali (rujuk) kepada istrinya.

Makruh (Dibenci): Di luar kondisi-kondisi di atas, contohnya ketika hubungan rumah tangga sebenarnya sedang adem ayem dan baik-baik saja.

Menteri Ibnu Hubairah mengatakan:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الطَّلَاقَ فِي حَالِ اسْتِقَامَةِ الْحَيَاةِ الزَّوْجِيَّةِ مَكْرُوهٌ، إِلَّا أَبَا حَنِيفَةَ قَالَ: هُوَ حَرَامٌ مَعَ اسْتِقَامَةِ الْحَالِ

“Para ulama sepakat bahwa bercerai saat hubungan rumah tangga sedang harmonis hukumnya makruh, kecuali Imam Abu Hanifah yang berpendapat hukumnya haram.”

Tinggalkan komentar