Rabbunallah

3 Pembaca


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

‘Ibadallah… jama’ah jum’at rohimani wa rohimakumulahu jami’an…

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka untuk melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan sehat walafiat dan dalam keadaan masih beriman dan berislam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita bersyukur kepada-Nya di dalam al-Quran dalam surat Ibrahim: 7,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).

Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang menegaskan kewajiban kita supaya bersyukur kepada-Nya, dengan menjelaskan bahwa nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sangatlah banyak tidak terhingga,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah jami’an…

Tidak lupa pula selaku khatib pada khutbah Jum’at siang ini saya mengingatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketakwaan ini merupakan bekal terbaik bagi kita di dunia ini maupun di akhirat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).

Selain itu orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang dihadapinya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. الطلاق: 2-3

Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. QS: ath-Thalaq: 2-3.

Kemudian shalawat dan salam kita panjatkan kepada baginda nabi kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah…

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah, salah satu wujud nyata dari ketakwaan kita adalah menjaga konsistensi iman atau yang kita kenal dengan istilah Istiqomah. Pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan mengangkat tema: Tuhanku adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32)

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Mengikhlaskan amal lillahi ta’ala dan mengerjakan amal ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas syari’at yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan kalimat ini (Rabbunallah) hingga akhir kehidupannya (meninggal dunia) berarti ia telah istiqomah di atas kalimat tersebut.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa makna إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا Adalah

هم الذين لم يشركوا بالله شيئًا

Mereka orang-orang tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatupun.

Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu anhu juga menjelaskan bahwa makna Rabbunallahu tummas taqomu adalah

فلم يلتفتوا إلى إله غيره

Mereka tidak berpaling kepada sesembahan selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikian juga Mujahid, Ikrimah dan As-Suddi serta yang lain menafsirkan hal sama dengan penafsiran Abu Bakar radhiyallahu anhu ini.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa Rabbunallah adalah

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا: على شهادة أن لا إله إلا الله

Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu juga menjelaskan bahwa makna Rabbunallah adalah

قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا: على أداء فرائضه

Istiqomah dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Umar bin khothob menafsirkan makan Rabbunallah tsumas taqomu adalah

استقاموا واللهِ لله بطاعته، ولم يروغوا روغان الثعالب

Istiqomah ikhlas karena Allah dalam melaksanakan ketaatan dan tidak berjalan sebagaimana berjalannya srigala.

Diriwayatkan dari Qotadah radhiyallahu anhu dahulu Hasan berdoa:

اللَّهم أنت ربنا فارزقنا الاستقامة

Wahai Tuhanku Engkau adalah Tuha kami maka anugerahkan kepada kami istiqomah.

Abul Aliyah berkata tentang ثُمَّ اسْتَقَامُوا adalah Mengikhlaskan agama dan amal hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad rahimahullah bahwa ada seorang laki-laki yang meminta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar beliau memerintahkan kepadanya sesuatu yang tidak akan ia tanyakan kepada selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian beliau memerintahkan untuk mengucapkan kaliamat:

آمنت بالله ثم استقم” قلت: فما أتقي؟ فأومأ إلى لسانه

Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah (di atas kalimat itu). kemudian orang itu bertanya tentang apa yang harus ia waspadai, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi isyarat ke lidahnya. HR: An-Nasai.

Balasan untuk orang yang telah mengucapkan Rabbunallah kemudian istiqomah di atas kalimat tersebut:

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

Malaikat akan turun kepadanya.

Imam Mujahid, Imam As-Suddi, Zaid bin Aslam dan anaknya menjelaskan bahwa malaikat akan turun kepadanya ketika orang tersebut sakaratul maut, lalu akan menenangkannya dengan mengucapkan,

أَلَّا تَخَافُوا

Jangan kamu merasa takut.

Imam mujahid, Ikrimah dan Zaid bin Aslam menjelaskan maksud dari jangan kamu merasa takut adalah jangan kamu merasa takut dengan apa yang akan kamu hadiapi dari urusan akhirat.

وَلَا تَحْزَنُوا

Dan jangan kamu merasa takut

Jangan kamu merasa takut terhadap apa yang kalian tinggalkan berupa urusan dunia, baik itu anak, keluarga, harta, maupun utang, maka kamilah yang akan mengurusnya (menggantikan posisi kalian) bagi mereka.

وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.

Maka para malaikat memberikan kabar gembira kepada mereka dengan hilangnya keburukan (dan datangnya kebaikan). Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Sesungguhnya malaikat berkata kepada ruh orang mukmin: Keluarlah wahai ruh yang baik, yang berada di dalam jasad yang baik yang dahulu engkau tempati. Keluarlah menuju ketenangan (rauh), wewangian (raihan), dan Rabb yang tidak murka’.”

‌‌نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat

Malaikat mengucapkan kalimat tersebut ketika sakaratul maut

Para malaikat berkata kepada orang-orang mukmin ketika menjelang ajal (sakaratul maut):

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia,

artinya: Kami adalah teman-teman penyertamu selama di dunia; kami senantiasa membimbing, memberi taufik, dan menjagamu atas perintah Allah. Demikian pula kami akan menyertaimu di akhirat; kami akan menghapus rasa kesepianmu di dalam kubur dan saat sangkakala ditiup, kami akan memberikan rasa aman kepadamu pada hari kebangkitan, membawa kalian menyeberangi shiratal mustaqim, hingga mengantarkan kalian ke surga-surga yang penuh kenikmatan.

Dan di dalamnya kamu memperoleh apa yang diinginkan oleh hatimu,

artinya: Di dalam surga tersedia segala sesuatu yang kalian pilih dari apa saja yang diinginkan jiwa dan menyejukkan pandangan mata.

Dan di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu minta,

artinya: Apa pun yang kalian minta, kalian akan mendapatkannya dan hadir di hadapan kalian sesuai pilihan kalian.

Sebagai hidangan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

artinya: Sebagai bentuk jamuan, pemberian, dan anugerah dari Tuhan yang mengampuni dosa-dosa kalian lagi Maha Penyayang kepada kalian, yang sangat santun di mana Dia telah mengampuni, menutupi (aib), mengasihi, serta melembutkan (urusan kalian).

Ibnu Abi Hatim menyebutkan di sini sebuah hadis tentang pasar di surga saat menafsirkan firman Allah Ta’ala:

Dan di dalamnya kamu memperoleh apa yang diinginkan oleh hatimu dan di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu minta (31) Sebagai hidangan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (32).

Beliau berkata: Ayahku menyampaikan kepada kami, (dari) Hisyam bin Ammar, (dari) Abdul Hamid bin Habib bin Abi al-Isyrin Abi Said, (dari) Al-Auza’i, (dari) Hassan bin Athiyyah, dari Said bin al-Musayyab bahwa ia pernah bertemu dengan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku memohon kepada Allah agar mengumpulkan aku dan engkau di pasar surga

Said bertanya: “Apakah di sana (surga) ada pasar?”

Abu Hurairah menjawab: “Ya, Rasulullah SAW telah mengabarkan kepadaku bahwa penduduk surga apabila telah memasukinya, mereka menempati tempat tinggal sesuai dengan keutamaan amal-amal mereka. Kemudian mereka diizinkan (bertemu Allah) dalam kadar waktu hari Jumat di dunia. Mereka pun mengunjungi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu Arsy-Nya diperlihatkan kepada mereka dan Allah menampakkan Diri kepada mereka di salah satu taman dari taman-taman surga.

Diletakkanlah untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya, mimbar-mimbar dari mutiara, mimbar-mimbar dari yaqut (permata merah), mimbar-mimbar dari zabarjad (zamrud), mimbar-mimbar dari emas, dan mimbar-mimbar dari perak. Orang yang paling rendah tingkatannya di antara mereka—dan tidak ada orang yang rendah di sana—duduk di atas tumpukan minyak misk dan kafur. Mereka tidak merasa bahwa orang-orang yang duduk di atas kursi-kursi (mimbar) memiliki tempat duduk yang lebih utama daripada mereka.”

Imam Ahmad berkata: Ibnu Abi ‘Adi menyampaikan kepada kami, dari Humaid, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه

“Barangsiapa yang senang bertemu Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.”

Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, kami semua membenci kematian.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

ليس ذلك كراهية الموت ولكن المؤمن إذا حُضِرَ جاءه البشير من الله تعالى بما هو صائر إليه فليس شيء أحب إليه من أن يكون قد لقي الله تعالى فأحب الله لقاءه، قال: وإن الفاجر -أو الكافر- إذا حُضِر جاءه بما هو صائر إليه من الشر أو ما يلقى من الشر فكره لقاء الله فكره الله لقاءه

“Bukan itu yang dimaksud dengan membenci kematian. Akan tetapi, seorang mukmin apabila maut telah menghampirinya (hudhira), maka datanglah pembawa kabar gembira dari Allah Ta’ala mengenai apa yang akan ia tuju (surga dan keridaan-Nya). Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia cintai daripada bertemu dengan Allah Ta’ala, sehingga Allah pun senang bertemu dengannya.”

Beliau melanjutkan: “Sedangkan orang yang fajir (pendosa) —atau orang kafir— apabila maut telah menghampirinya, maka datanglah kepadanya kabar mengenai keburukan yang akan ia tuju atau keburukan yang akan ia temui. Maka ia pun benci bertemu Allah, sehingga Allah pun benci bertemu dengannya.” Dan ini adalah hadis sahih, dan telah diriwayatkan dalam kitab As-Shahih melalui jalur periwayatan yang lain

Demikian khutbah Jumat pada siang hari ini. Semoga bermanfaat, terutama bagi khatib pribadi dan juga bagi seluruh jamaah sekalian. Mohon maaf atas segala kekhilafan; jika ada kesalahan maka itu murni dari kelemahan diri saya, dan jika ada kebenaran maka itu semata-mata datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah mengampuni kita semua dan membimbing kita untuk mengamalkannya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

بارَك الله لي ولَكم في القرآنِ العظيمِ، ونفَعني وإيّاكم بما فيه من الآياتِ والذّكر الحكيم، أقولُ قولي هذَا، وأستغفِر اللهَ العظيمَ الجليلَ لي ولكم ولِسائر المسلمين مِن كلّ ذنب، فاستَغفروه وتوبوا إِليه، إنّه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ

Jamaah jum’at yang dirahmati Allah… Pada khutbah kedua ini, khatib kembali berwasiat, khususnya bagi diri khatib pribadi dan umumnya bagi jamaah sekalian, agar senantiasa menjaga konsistensi kalimat ‘Rabbunallah’ ini. Pegang teguhlah kalimat tauhid tersebut hingga akhir hayat, agar kita semua layak mendapatkan janji mulia yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gariskan dalam ayat tadi, yakni ketenangan di saat maut menjemput dan kabar gembira berupa surga.


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. الأحزاب: 56

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنِ

Abu Layla Turahmin. BA, S.Pd, M.H.

Sudah disampaikan di masjid:

Tinggalkan komentar