السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قال الله تعالى في القرآم الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ
‘Ibadallah, Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka untuk melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan sehat walafiat dan dalam keadaan masih beriman dan berislam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita bersyukur kepada-Nya di dalam al-Quran dalam surat Ibrahim: 7,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).
Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang menegaskan kewajiban kita supaya bersyukur kepada-Nya, dengan menjelaskan bahwa nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sangatlah banyak tidak terhingga,
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,
Tidak lupa pula selaku khatib pada khutbah Jum’at siang ini saya mengingatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketakwaan ini merupakan bekal terbaik bagi kita di dunia ini maupun di akhirat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).
Selain itu orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang dihadapinya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. الطلاق: 2-3
Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. QS: ath-Thalaq: 2-3.
Kemudian shalawat dan salam kita panjatkan kepada baginda nabi kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
‘Ibadallah, Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah…
Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, khatib hendak mengajak kita jama’ah semua untuk merenungkan tiga perkara utama yang menjadi pilar penting akhlak seorang muslim, yaitu senantiasa mengikhlaskan niat hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap amal ibadah agar tidak terselip rasa riya, berpegang teguh pada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penuntun dan tolok ukur kebenaran dalam bersikap, serta menyerahkan segala urusan dan tawakal sepenuhnya kepada Allah setelah kita berikhtiar secara maksimal, sehingga hati senantiasa tenang dan kokoh dalam menghadapi segala ketetapan-Nya
1. Ikhlas dalam ilmu dan amal, serta merasa takut akan terkena riya dalam hal tersebut
Keikhlasan merupakan pilar paling utama dalam tata kelola akhlak seorang mukmin, sebab setiap amalan yang dikerjakan wajib berlandaskan niat yang murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan terbebas dari dorongan selain-Nya. Tujuan tertinggi dari setiap usahanya adalah untuk meraih keridaan serta pahala di sisi-Nya, bukan demi mengejar kepentingan duniawi, mencari perhatian sesama, ataupun mengharapkan pujian manusia, melainkan benar-benar murni hanya mengharapkan balasan terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ. الزُّمَر : ٣
“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar: 3).
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa suatu amalan tidak akan pernah diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan jika dikerjakan dengan penuh keikhlasan murni karena-Nya dan hanya demi mengharapkan wajah-Nya, bukan karena motif duniawi, bukan untuk meraih pujian, dan bukan pula demi mendapatkan sanjungan dari sesama manusia.
Dan Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali amalan yang dilakukan secara ikhlas untuk-Nya dan diraih dengannya wajah-Nya.”
Seorang tabi’in yang mulia dan salah satu ulama besar pernah menjelaskan makna ikhlas dengan begitu mendalam, di mana beliau menjadikan kemampuan seseorang dalam menyembunyikan amalan sebagai tolok ukur utama kejujuran niatnya. Hal ini menjadi standar bagi kita untuk senantiasa mengoreksi diri: apakah kita cenderung memamerkan kebaikan melalui lisan maupun media sosial, ataukah kita sekuat tenaga berusaha menyembunyikannya sebagaimana kita menjaga agar aib dan keburukan kita tidak diketahui orang lain; sebab jika kita lebih memilih menyembunyikannya, insya Allah itu menandakan keikhlasan dalam hati kita, beliau rahimahullah berkata:
الْمُخْلِصُ مَنْ يَكْتُمُ حَسَنَاتِهِ كَمَا يَكْتُمُ سَيِّئَاتِهِ
“Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya.”
Asy-Sya’bi pernah berkata:
مِنْ أَدَبِ الْعُلَمَاءِ إِذَا عَلِمُوا أَنْ يَعْمَلُوا، فَإِذَا عَمِلُوا شُغِلُوا بِذَلِكَ عَنِ النَّاسِ، فَإِذَا شُغِلُوا فُقِدُوا، وَإِذَا فُقِدُوا طُلِبُوا، وَإِذَا طُلِبُوا هَرَبُوا؛ خَوْفًا عَلَى دِينِهِمْ مِنَ الْفِتَنِ
“Di antara adab para ulama adalah apabila mereka mengetahui suatu ilmu, mereka mengamalkannya. Ketika mereka mengamalkannya, mereka sibuk dengannya sehingga lupa akan manusia. Ketika mereka sibuk, mereka menjadi menghilang (jarang terlihat). Ketika mereka menghilang, mereka dicari. Dan ketika mereka dicari, mereka berlari (menjauh); karena takut akan fitnah terhadap agama mereka.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata:
إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ أَوِ الْعَابِدَ يَنْشَرِحُ لِذِكْرِهِ بِالصَّلَاحِ عِنْدَ الْأُمَرَاءِ وَأَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَاعْلَمُوا أَنَّهُ مُرَاءٍ
“Jika kalian melihat seorang alim (orang berilmu) atau seorang ‘abid (ahli ibadah) merasa senang/merasa bangga saat kebaikannya disebut-sebut di hadapan para penguasa dan pecinta dunia, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang yang riya.”
Demikianlah beberapa penjelasan singkat mengenai keikhlasan yang menjadi pilar utama bagi akhlak seorang mukmin. Hendaknya kita senantiasa berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam setiap amal ibadah yang kita kerjakan, agar jangan sampai ibadah yang telah kita lelah-lelah lakukan justru tertolak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya karena tiadanya keikhlasan di dalam hati kita.
2. Berhati-hati (menahan diri) dari setiap perbuatan atau perkataan sampai mengetahui timbangannya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Berpegang teguh pada sunnah serta menimbang setiap ucapan dan perbuatan dengan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan kewajiban yang mendasar bagi setiap muslim, agar kita tidak asal dalam berkata maupun bertindak tanpa pedoman yang jelas. Sebab, amalan yang dikerjakan tanpa standar petunjuk syariat berisiko tidak diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik karena tergolong perkara yang dilarang maupun perkara yang diada-adakan dalam agama; oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tegas memerintahkan kita untuk mengambil dan menjalankan apa pun yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا. الْحَشْر : ٧
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).
Selain memerintahkan kita untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan peringatan keras agar kita tidak menyelisih ataupun menyimpang dari perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Peringatan ini diberikan karena penyelisihan tersebut dapat membawa dampak yang sangat buruk, mulai dari tertimpa fitnah fitnah kesyirikan dan kesesatan di dalam hati, hingga ditimpa azab yang sangat pedih di akhirat kelak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. النُّور : ٦٣
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga secara tegas memperingatkan kita untuk menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama (muhdatsatul umur), karena beliau mengategorikan perkara baru tersebut sebagai bid’ah yang sesat dan tidak boleh diamalkan oleh seorang muslim. Beliau menegaskan bahwa amalan ibadah apa pun yang dikerjakan tanpa adanya landasan atau petunjuk dari beliau dipastikan akan tertolak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala; oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana sabda beliau:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.”
Beliau ﷺ juga bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Ketegasan untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta menjauhi perkara bid’ah ini bukanlah hal baru, melainkan telah menjadi cermin keteladanan dari generasi Salafus Shalih—para sahabat, tabi’in, dan ulama generasi awal Islam. Mereka senantiasa saling mendorong dan berwasiat untuk mengagungkan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, serta bersikap sangat tegas dalam membentengi agama ini dari segala bentuk penyimpangan dan perkara yang diada-adakan. Keteguhan mereka inilah yang menjadi fondasi utama hingga kemurnian ajaran Islam tetap terjaga. Oleh karena itu, hendaknya kita meneladani semangat para generasi terbaik tersebut dalam menjaga kemurnian ikhtiar dan ibadah kita sehari-hari.
Bahkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terkadang bermaksud dan bertekad melakukan suatu hal, lalu sebagian orang berkata kepadanya:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ وَلَمْ يَأْمُرْ بِهِ
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukan hal itu dan tidak pula memerintahkannya,”
Maka beliau pun membatalkan apa yang telah diutarakannya tersebut.
Sebagian ulama berkata:
إِنَّ طَرِيقَ الْقَوْمِ جُمَّعَهُ مُحَرَّرٌ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ تَحْرِيرَ الذَّهَبِ وَالْجَوْهَرِ
“Sesungguhnya jalan (metode hidup) kelompok orang-orang saleh ini seluruhnya diselaraskan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah secara murni dan teliti, sebagaimana murninya emas dan permata.”
Hal itu disebabkan karena dalam setiap gerak dan diamnya, generasi Salafus Shalih senantiasa mendasarkan segalanya pada niat yang saleh serta timbangan syariat yang lurus; dan sungguh, keagungan serta kehalusan pemahaman mereka dalam menjaga sunnah ini tidak akan dapat dipahami secara mendalam melainkan oleh orang-orang yang telah tabahhur—yakni mereka yang telah mendalami dan menguasai samudra ilmu-ilmu syariat.
3. Berserah diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dalam urusan diri sendiri, anak-anak, dan sahabat-sahabatnya. Dalam masalah hidayah tidak bersandar melainkan hanya kepada-Nya, dan tidak meminta sesuatu pun dengan mengandalkan diri sendiri tanpa bersandar kepada Allah Ta’ala.
Menyerahkan segala sesuatu dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan perintah tegas dalam Al-Qur’an sekaligus teladan utama para pendahulu kita yang saleh, di mana mereka menghadapi setiap tantangan kehidupan dengan kepasrahan yang bulat, mengikatkan hati hanya kepada Allah, serta tidak pernah menisbatkan satu pun keberhasilan kepada kehebatan diri sendiri. Mereka meyakini bahwa dengan berserah diri yang sebenar-benarnya setelah berikhtiar maksimal, pertolongan dan kemenangan besar dari Allah pasti akan datang; sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an tentang perkataan seorang mukmin dari keluarga Firaun yang menyembunyikan keimanannya ketika membela Nabi Musa ‘Alaihissalam
Allah Ta’ala berfirman menceritakan tentang orang tersebut:
وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ. غافر: 44-45
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk.” (QS. Ghafir: 44-45).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengabadikan betapa kokohnya sandaran hati para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada-Nya, bahkan ketika ancaman musuh yang mengepung di hadapan mereka begitu nyata; ancaman tersebut tidak sedikit pun menggoyahkan jiwa mereka, melainkan justru semakin mempertebal keimanan mereka hingga terucap kalimat ketenangan dan kepasrahan bahwa cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong terbaik mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
Dan Allah Ta’ala berfirman menceritakan tentang para sahabat Rasulullah ﷺ dan beliau sendiri:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ. آل عمران: 173-174
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka, ‘Manusia (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ ternyata (ucapan) itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana pun…” (QS. Ali ‘Imran: 173-174).
Berkat kokohnya sandaran hati para sahabat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka pun memetik buah manis berupa pertolongan dan karunia yang sangat besar dari-Nya. Sikap pasrah dan penyerahan seluruh urusan kepada Allah—bukan kepada kekuatan diri sendiri—justru semakin menguatkan pancaran keimanan di dalam dada mereka. Hingga akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kemenangan yang gemilang dan memulangkan mereka dalam keadaan selamat, tanpa tersentuh sedikit pun keburukan dari makar dan kepungan musuh-musuh mereka.
Para ulama pendahulu kita bahkan menegaskan bahwa tidak ada perkara yang jauh lebih bermanfaat bagi anak-anak mereka—maupun keturunan orang-orang saleh—selain panjatan doa kebaikan yang tulus di balik ketidakhadiran mereka. Doa yang dilangitkan secara diam-diam tersebut dipanjatkan dengan penuh kepasrahan dan penyerahan seluruh urusan serta masa depan anak-anak mereka secara mutlak hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagian mereka berkata:
لَيْسَ شَيْءٌ أَنْفَعَ لِأَوْلَادِ الْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ مِنَ الدُّعَاءِ لَهُمْ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، مَعَ تَفْوِيضِ أَمْرِهِمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
“Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi anak-anak para ulama dan orang-orang saleh daripada mendoakan mereka secara sembunyi-sembunyi (tanpa sepengetahuan mereka), disertai dengan menyerahkan urusan mereka kepada Allah Ta’ala.”
Dan di antara hal yang menunjukkan keutamaan tafwidh (pasrah) kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
إِنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ سَأَلَ بَعْضَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائْتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ، فَقَالَ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا، قَالَ: فَأْتِنِي بِالْكَفِيلِ، قَالَ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلًا، قَالَ: صَدَقْتَ، فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَخَرَجَ فِي الْبَحْرِ فَقَضَى حَاجَتَهُ، ثُمَّ الْتَمَسَ مَرْكِبًا يَرْكَبُهَا يَقْدُمُ عَلَيْهِ لِلْأَجَلِ الَّذِي أَجَّلَهُ فَلَمْ يَجِدْ مَرْكِبًا، فَأَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا، فَأَدْخَلَ فِيهَا أَلْفَ دِينَارٍ وَصَحِيفَةً مِنْهُ إِلَى صَاحِبِهِ، ثُمَّ زَجَّ مَوْضِعَهَا، ثُمَّ أَتَى بِهَا إِلَى الْبَحْرِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي كُنْتُ تَسَلَّفْتُ فُلَانًا أَلْفَ دِينَارٍ، فَسَأَلَنِي كَفِيلًا فَقُلْتُ: كَفَى بِاللَّهِ كَفِيلًا، فَرَضِيَ بِكَ، وَسَأَلَنِي شَهِيدًا فَقُلْتُ: كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا، فَرَضِيَ بِكَ، وَإِنِّي جَهَدْتُ أَنْ أَجِدَ مَرْكِبًا أَبْعَثُ إِلَيْهِ الَّذِي لَهُ فَلَمْ أَجِدْ، وَإِنِّي أَسْتَوْدِعُكَهَا، فَرَمَى بِهَا فِي الْبَحْرِ حَتَّى وَلَجَتْ فِيهِ، ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُوَ فِي ذَلِكَ يَلْتَمِسُ مَرْكِبًا يَخْرُجُ إِلَى بَلَدِهِ
فَخَرَجَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ يَنْظُرُ لَعَلَّ مَرْكِبًا قَدْ جَاءَ بِمَالِهِ، فَإِذَا بِالْخَشَبَةِ الَّتِي فِيهَا الْمَالُ، فَأَخَذَهَا لِأَهْلِهِ حَطَبًا، فَلَمَّا نَشَرَهَا وَجَدَ الْمَالَ وَالصَّحِيفَةَ
ثُمَّ قَدِمَ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ، فَأَتَى بِالْأَلْفِ دِينَارٍ فَقَالَ: وَاللَّهِ مَا زِلْتُ جَاهِدًا فِي طَلَبِ مَرْكِبٍ لِآتِيَكَ بِمَالِكَ فَمَا وَجَدْتُ مَرْكِبًا قَبْلَ الَّذِي أَتَيْتُ فِيهِ، قَالَ: هَلْ كُنْتَ بَعَثْتَ إِلَيَّ بِشَيْءٍ؟ قَالَ: أُخْبِرُكَ أَنِّي لَمْ أَجِدْ مَرْكِبًا قَبْلَ الَّذِي جِئْتُ فِيهِ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَدَّى عَنْكَ الَّذِي بَعَثْتَ فِي الْخَشَبَةِ، فَانْصَرِفْ بِالْأَلْفِ دِينَارٍ رَاشِدًا
“Bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Israil meminta kepada salah seorang Bani Israil lainnya untuk meminjamkan uang sebesar 1.000 dinar.
Orang yang dipinjami berkata: ‘Datangkanlah saksi-saksi yang akan aku persaksikan.’
Peminjam menjawab: ‘Cukuplah Allah sebagai saksi.’
Orang itu berkata: ‘Maka datangkanlah seorang penjamin (penanggung jawab).’
Peminjam menjawab: ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin.’
Orang itu berkata: ‘Engkau benar.’ Maka ia pun menyerahkan uang 1.000 dinar itu kepadanya hingga tenggat waktu tertentu.
Lalu peminjam itu berlayar ke laut untuk menunaikan hajatnya. Setelah selesai, ia mencari kapal untuk dinaiki agar dapat kembali tepat pada waktu yang telah ditentukan, namun ia tidak menemukan satu kapal pun.
Maka ia mengambil sepotong kayu, melubanginya, lalu memasukkan uang 1.000 dinar beserta surat dari dirinya untuk sahabatnya itu ke dalamnya. Kemudian ia menutup rapat lubang tersebut, membawanya ke tepi laut, dan berdoa:
‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjam uang 1.000 dinar dari Fulan. Ia memintaku seorang penjamin, maka aku katakan: Cukuplah Allah sebagai penjamin, dan ia pun ridha dengan-Mu. Ia memintaku seorang saksi, maka aku katakan: Cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun ridha dengan-Mu. Dan sesungguhnya aku telah berusaha keras mencari kapal untuk mengirimkan haknya kepadanya, namun aku tidak menemukannya. Dan sesungguhnya aku menitipkan uang ini kepada-Mu.’
Lalu ia melemparkan kayu itu ke laut hingga tenggelam ke dalamnya. Setelah itu ia pergi sambil tetap berusaha mencari kapal untuk kembali ke negerinya.
Sementara itu, orang yang meminjamkan uang keluar melihat ke arah laut, berharap ada kapal yang datang membawa uangnya. Tiba-tiba ia melihat sepotong kayu yang di dalamnya terdapat uang tersebut. Ia mengambilnya untuk dijadikan kayu bakar bagi keluarganya. Ketika ia membelahnya, ia menemukan uang beserta surat tersebut.
Tak lama kemudian, si peminjam datang membawa uang 1.000 dinar (yang baru) seraya berkata: ‘Demi Allah, aku terus berusaha keras mencari kapal untuk membawakan uangmu, tetapi aku tidak menemukan kapal sebelum kapal yang aku tumpangi sekarang ini.’
Orang yang meminjamkan bertanya: ‘Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?’
Peminjam menjawab: ‘Aku beritahukan kepadamu bahwa aku tidak menemukan kapal sebelum kapal yang aku tumpangi ini.’
Orang itu berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah menunaikan pembayaranmu melalui kayu yang engkau kirimkan. Maka bawalah kembali uang 1.000 dinarmu ini dengan petunjuk dan keselamatan.’“
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ النِّعْمَةَ تَزُولُ بِالْمَعَاصِي وَتَدُومُ بِالشُّكْرِ
‘Ibadallah, Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,
Sebagai penutup khutbah pada siang hari ini, khatib kembali mengingatkan diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa mengamalkan tiga pilar akhlak yang mendasar ini, yakni mengikhlaskan niat dalam berilmu dan beramal hanya demi mengharap rida Allah Subhanahu wa Ta’ala, berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, serta pasrah dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah atas segala urusan hidup kita; semoga apa yang khatib sampaikan bermanfaat bagi kita semua, di mana segala kebenaran murni berasal dari petunjuk Allah dan setiap kekurangan maupun kesalahan murni dari kekhilafan khatib pribadi yang memohon ampunan-Nya, serta kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan keberadaan kita di masjid ini dan ibadah khutbah yang kita simak sebagai amal soleh yang ikhlas dan menjadi pemberat timbangan kebaikan kita kelak di akhirat.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنِ
Rujukan: Kitab Akhlak untuk kelas XII Madrasah Aliyah MA ICBB
Abu Layla Turahmin. BA, S.Pd, M.H.
Piyungan, Bantul, ICBB. Sabtu, 27 Juni 2026.
Sudah disampaikan di masjid:
- Pengajian bulanan di Moga Pemalang di Rumah Kyai Ghozi, Ahad, 23 Agustus 2026, 14,00-Asar.
- Darussalam, Walik Angin Gunung kidul (pengajian selapanan bakda Isya) Senin 25 Agustus 2026.