Rahasia di Balik Lapar dan Dahaga: Hikmah Spiritual Puasa Ramadhan

417 Pembaca



بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركات

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ

‘Ibadallah… jama’ah jum’at rohimani wa rohimakumulahu jami’an…

Segala puji serta syukur kita haturkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Pengasih, yang senantiasa mencurahkan limpahan karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua tanpa terputus. Di antara sekian banyak anugerah-Nya, nikmat iman dan Islam merupakan karunia yang paling agung; sebuah pemberian istimewa yang tidak Allah titipkan kecuali kepada hamba-hamba pilihan yang benar-benar dicintai-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita bersyukur dengan sebenar-benarnya syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta bertekad untuk menjaga karunia tersebut dengan sebaik-baiknya. Iman dan Islam adalah dua nikmat terbesar dalam hidup yang tidak boleh ditukar dengan kesenangan duniawi apa pun, hingga tiba saatnya kita menghadap ke hadirat-Nya dengan hati yang tenang.

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah jami’an…

Melalui mimbar yang mulia ini, saya selaku khatib berwasiat kepada diri pribadi serta mengajak jamaah sekalian: marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan, serta harapan agar diberi pahala dan dijauhkan dari azab-Nya yang sangat pedih. sebagaimana Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok teladan yang telah membawa kita dari kegelapan jahiliah menuju cahaya iman yang terang benderang.

Jama’ah Jum’at rahimani wa rahimakumullah jami’an….

Pada kesempatan khutbah Jumat yang penuh barakah ini, khatib akan menyampaikan sebuah khutbah bertajuk “Rahasia di Balik Lapar dan Dahaga: Hikmah Spiritual Puasa Ramadhan“. Sebuah renungan mengenai madrasah spiritual yang mengajarkan kita tentang hakikat kesabaran, pembersihan jiwa, serta peningkatan empati kepada sesama.

Bulan suci Ramadhan yang penuh ampunan sebentar lagi akan hadir menyapa kita, insyaallah. Marilah kita senantiasa memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon agar Dia memberikan kita umur yang berkah dan kesehatan yang afiat, sehingga kita dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia tersebut dalam keadaan iman yang prima.

Di dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah tersebut, kita diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menunaikan ibadah puasa (shiyam) secara wajib. Kewajiban ini bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah sarana bagi kita untuk mendaki derajat takwa di sisi-Nya.

Namun, sebelum khatib menguraikan lebih jauh mengenai mutiara hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa di bulan Ramadhan, perkenankanlah khatib terlebih dahulu memaparkan secara singkat mengenai hakikat puasa (shiyam), baik ditinjau dari segi bahasa maupun istilah syariat, serta kedudukan hukumnya di dalam agama kita.

Secara etimologi atau tinjauan bahasa, kata shiyam berakar dari kata al-imsak, yang memiliki makna menahan diri. Dalam pengertian yang lebih luas, menahan diri di sini mencakup segala bentuk upaya untuk menahan diri dari melakukan sesuatu, baik itu berupa ucapan, perbuatan, maupun keinginan.

Sedangkan secara terminologi syariat, puasa didefinisikan sebagai ibadah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri, serta segala perkara yang dapat membatalkan puasa, yang dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari, dengan disertai niat yang tulus semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun mengenai hukumnya, berpuasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban yang bersifat fardu ain bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Kewajiban yang mulia ini ditetapkan berdasarkan landasan hukum yang amat kuat, yakni firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’anul Karim:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. سورة البقرة: 183

“Wahai orang-orang yang beriman! Telah diwajibkan atas kalian semua berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian semoga kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”

Ibadah puasa (shiyam) di bulan Ramadhan bukanlah sekadar ritual tahunan tanpa makna. Di baliknya, tersimpan mutiara hikmah yang sangat luas dan mendalam bagi kehidupan seorang mukmin, yang di antaranya dapat kita uraikan sebagai berikut:

Hikmah Spiritual:

  • Puasa merupakan sarana terbesar untuk meraih derajat ketakwaan. Hal ini dikarenakan puasa memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam menjaga anggota badan dari kemaksiatan, serta mampu menguatkan batin seseorang dalam menghadapi berbagai godaan nafsu.
  • Puasa adalah ibadah mulia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara menahan keinginan jiwa. Melalui puasa, tampaklah kejujuran cinta dan pengagungan seorang hamba kepada Allah, karena ia rela meninggalkan kesenangannya demi meraih rida-Nya.
  • Puasa adalah sarana meraih rida Allah, karena dengannya seseorang belajar mendahulukan apa yang dicintai Allah di atas keinginan hawa nafsunya sendiri.
  • Puasa Ramadhan adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui ibadah ini, kita dididik untuk lebih bersyukur, meningkatkan ketaatan, serta memperkokoh fondasi keimanan di dalam dada.
  • Puasa berperan besar dalam meningkatkan kesadaran spiritual melalui latihan kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. Hal ini membantu kita mempererat kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Puasa Ramadhan adalah sarana untuk memurnikan hati dan jiwa, serta membersihkannya dari berbagai penyakit hati dan pengaruh negatif yang merusak diri.
  • Puasa juga bermanfaat meningkatkan kesehatan badan dengan cara mengistirahatkan sistem pencernaan dan membantu proses detoksifikasi, yakni membuang zat-zat yang tidak bermanfaat dari dalam tubuh kita.
  • Pahala ibadah puasa amatlah besar, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam berbagai nash Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Puasa merupakan sarana untuk menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan seseorang, sebagaimana janji Allah melalui lisan Rasul-Nya bahwa ibadah yang dilakukan dengan iman dan ketulusan akan menjadi pelebur bagi kesalahan di masa lalu.

Hikmah Sosial:

  • Puasa Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat ukhuwah islamiyah. Semangat persaudaraan ini tampak nyata dalam indahnya berbagi makanan, buka puasa bersama, serta sikap saling tolong-menolong antar sesama.
  • Puasa Ramadhan mengasah empati dan kepedulian sosial kita. Dengan merasakan rasa lapar, kita diajak menyelami penderitaan sesama yang kurang mampu, sehingga tumbuh semangat untuk lebih peduli dan gemar berbagi.
  • Puasa Ramadhan mendidik kita untuk disiplin dalam mengatur waktu dan menahan diri. Jika nilai kedisiplinan ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan tercipta keteraturan serta ketertiban di tengah masyarakat.

Namun perlu kita sadari, bahwa segala hikmah dan manfaat tersebut hanya dapat diraih jika ibadah puasa kita tunaikan dengan benar, sesuai tuntunan, dan dilandasi dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

Pada kesempatan khutbah kedua ini, khatib kembali mengajak jama’ah sekalian untuk senantiasa menyadari betapa besarnya manfaat puasa Ramadhan. Dengan memahami dan mengingat kembali hikmah-hikmah tersebut, semoga kita dapat menyambut dan menjalankan Ramadhan yang akan datang dengan penuh semangat dan keikhlasan.

Demikianlah khutbah Jumat pada siang hari ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pemberat timbangan amal kita di akhirat kelak. Mohon maaf jika ada kesalahan, karena kesalahan itu tentu datangnya dari kekhilafan saya pribadi sebagai khatib, semoga dimaafkan dan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun jika ada kebenaran, maka itu murni datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan semoga kita diberikan kekuatan untuk mampu mengamalkannya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Abu Layla Turahmin, M.H.
Jum’at, 01 Maret 2024. (oke ✅).

Sudah disampaikan di:

  1. Masjid Abu Bakar Bin Baz, Jum’at, 23 Januari 2026.
  2. Masjid Baitunnasihin Sampangan. Jum’at 30 Januari 2026.
  3. Masjid Baitussalam GSE (dekat jalan wonosari) Jum’at 06 Februari 2026.

Tinggalkan komentar