إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قال الله تعالى في القرآم الكريم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ
Salah satu kunci utama yang dapat mengantarkan seseorang menuju keselamatan sejati adalah ketulusan hati untuk tidak merasa bangga diri (ujub) atas segala amal saleh yang telah dikerjakan. menyadari bahwa setiap kebaikan adalah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia tidak akan tertipu oleh ketaatan dirinya sendiri seolah-olah itu adalah hasil kekuatannya semata.
Oleh karena itu, setiap hamba harus berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa waspada dan menjaga hatinya. Sebab, sikap waspada terhadap penyakit hati seperti ini adalah pintu pembuka keselamatan. Sebaliknya, barangsiapa yang lengah, mengabaikan kondisi hatinya, dan membiarkan dirinya tertipu hingga tenggelam dalam perasaan ujub, maka dikhawatirkan ia akan terseret pada kebinasaan yang nyata. Terkait hal ini, Syaikh Hafidz al-Hakami rahimahullah memberikan nasihatnya:
وَالعُجْبَ فَاحْذَرْهُ إِنَّ العُجْبَ مُجْتَرِفُ أَعْمَالَ صَاحِبِهِ فِي سَيْلِهِ العَرِمِ.
“Waspadalah terhadap sifat ujub (bangga pada diri sendiri), sebab ia laksana banjir bandang yang akan menyapu bersih dan menghanyutkan seluruh amal kebaikan pemiliknya tanpa tersisa sedikit pun.”
Terkadang, ada orang yang telah melakukan banyak amal kebajikan dan berbagai bentuk ketaatan, namun tanpa sadar ia terjebak dalam perasaan bangga diri atau merasa hebat dengan amalannya tersebut. Ia mulai bersandar dan merasa aman karena banyaknya ibadah yang ia lakukan, padahal sikap seperti itulah yang justru bisa menghancurkan dan menghapus seluruh pahala yang telah dikumpulkan dengan susah payah.
Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap kita untuk selalu menyadari bahwa diri ini masih penuh dengan kekurangan. Kita perlu menanamkan pemahaman bahwa setinggi atau sebanyak apa pun amal yang telah kita kerjakan, pada hakikatnya semua itu tetap tidak akan pernah sebanding dengan limpahan nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita setiap detiknya. Mengenai hal ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan dalam sabdanya:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لَا، وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَعَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ. (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ (٥٦٧٣)، وَمُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ (٢٨١٦)، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ)
“Amal saleh seseorang tidak akan pernah bisa memasukkannya ke dalam surga.” Para sahabat pun bertanya dengan penuh rasa ingin tahu: “Bahkan tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, tidak juga aku. Kecuali jika Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (Dikeluarkan Bukhari rahimahullah dalam kitab shahihnya: 5673 dan Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya: 2816. lafadz hadis dari Imam Bukhari.).
Sifat rendah hati dan rasa takut akan penyakit hati ini ternyata telah mendarah daging pada orang-orang terbaik di umat ini, yaitu para sahabat Nabi dan generasi yang setia mengikuti jejak mereka. Meskipun mereka dikenal sebagai ahli ibadah, mereka tetap menjaga hati agar tidak merasa paling suci. Salah satu buktinya tersimpan dalam perkataan yang sangat mendalam dari Abdullah bin Abi Mulaikah rahimahullah—seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in yang sempat berjumpa dengan banyak sahabat Nabi:
أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيقًا مَجْزُومًا بِهِ (٤٨)
“Aku telah menjumpai tiga puluh orang sahabat Nabi Shallallahu ‘Slaihi wa Sallam, dan aku mendapati bahwa mereka semua merasa sangat khawatir jika ada sifat kemunafikan yang menyelinap ke dalam diri mereka.” (Dikeluarkan Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya secara muallaq: 48).
Bayangkan, jika sosok sehebat Abu Bakar Ash-Shiddiq —yang merupakan shiddiq umat ini dan manusia terbaik setelah para nabi dan rasul— ketika ia datang dengan penuh ketulusan menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan meminta agar diajarkan sebuah doa khusus yang bisa dipanjatkan kepada Allah dalam shalatnya. Justru Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membimbingnya untuk membaca doa yang berisi pengakuan tulus atas segala dosa dan kekurangan diri, yaitu:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ (٨٣٤)، وَمُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ (٢٧٠٥))
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, dan tidak ada yang (dapat) mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705)
Llau bagaimana dengan orang-orang yang kedudukannya jauh di bawah Abu Bakar Ash-Shiddiq?? Tentu harus lebih memperbanyak istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَظُنَّ اسْتِغْنَاءَهُ عَنْ التَّوْبَةِ إِلَى اللَّهِ وَالِاسْتِغْفَارِ مِنَ الذُّنُوبِ؛ بَلْ كُلُّ أَحَدٍ مُحْتَاجٌ إِلَى ذَلِكَ دَائِمًا. (الْفُرْقَانُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، ص ١٣١)
“Tidak boleh seorang itu menyangka bahwasanya dia tidak butuh taubat kepada Allah subhanahu wa ta‘ala dan permohonan ampun dari dosa-dosa, bahkan setiap orang selalu butuh pada perkara-perkara tersebut.” (Al-Furqon bayna Auliyair Rohman wa Auliyaisy Syaithon).
Kesimpulannya, apabila seorang hamba dianugerahi taufik untuk menunaikan amal saleh yang mulia, maka jangan sekali-kali ia bersandar pada amalannya tersebut. Jangan sampai ia teperdaya atau terjangkit rasa ujub, melainkan hendaknya ia senantiasa merasa khawatir dan takut jika amalannya tidak diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. المؤمنون: ٦٠
Allah Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (al mu’minun : 60)
Ketika Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang makna ayat ini, dan berkata:
أَهُمْ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي الْجَامِع (٣١٧٥)، وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فِي الصَّحِيحَة (١٦٢)
“Apakah mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri?” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, orang-orang yang sholat, orang-orang yang bersedekah, sementara mereka takut jikalau amal mereka tidak diterima.”(HR.Tirmidzi (3175).
Demikian semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang selalu Menjaga diri agar tidak terjatuh dalam sifat ujub dan tertipu dengan amalan-amalan yang kita lakukan, seberapapun amal yang telah kita kerjakan. Semoga apa yang disampaikan di sini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca, Wallahu a’lam bish-shawab.
وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Turahmin, BA. S.Pd, M.H.
Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 30 April 2026.
Rujukan:
عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 36-40.