Sepuluh Langkah Menuju Surga #7# Selalu Bertaubat dan Beristighfar

24 Pembaca


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ

Ada begitu banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan betapa utamanya taubat dan istigfar. Keduanya bahkan menjadi jalan utama yang akan mengantarkan kita menuju keselamatan di hari kiamat nanti. Karena alasan inilah, sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, pernah berpesan:

عَجِبْتُ لِمَنْ يَهْلِكُ وَالنَّجَاةُ مَعَهُ، قِيلَ: وَمَا هِيَ؟ قَالَ: الِاسْتِغْفَارُ. (أَخْرَجَهُ الدِّينَوْرِيُّ فِي «الْمُجَالَسَةِ وَجَوَاهِرِ الْعِلْمِ» (٤/٤٩))

“Aku merasa heran kepada orang yang membiarkan dirinya binasa, padahal kunci keselamatannya ada bersamanya.” Seseorang lalu bertanya: “Apa kunci keselamatan itu?” Beliau menjawab: “Istigfar (memohon ampun kepada Allah).” Dikeluarkan Ad-Dinauri rahimahullah dalam Al Mujalasah wa Jawahirul Ilmi: 4/49.

Saat Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kunci keselamatan, beliau memberikan jawaban yang sangat ringkas namun mendalam:

امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ. (أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي «جَامِعِهِ، (٢٤٠٦)، وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيحَة» (٨٩٠)).

“Jagalah lisanmu, hendaknya engkau suka menetap di rumahmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (Dikeluarkan Imam Tirmidzi rahimahullah dalam Jami‘: 2406-nya dan dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Ash Shohihah: 890).

Sabda Nabi Shallallahu ‘Slaihi wa Sallam, “Dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu,” sebenarnya adalah ajakan lembut untuk segera bertaubat dan beristigfar. Kata “kesalahan” di sini tidak hanya merujuk pada satu dosa saja, melainkan mencakup seluruh dosa yang pernah dilakukan manusia, baik yang besar maupun yang kecil, secara kaidah bahasa, kata tunggal yang disandarkan (isim mufrad mudhaf) memberikan makna umum (mencakup semua dosa).

Pesan ini mengingatkan kita agar saat beristigfar, kita benar-benar menyadari banyaknya kesalahan yang telah diperbuat, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, serta dosa yang sudah lama berlalu maupun yang baru saja terjadi. Dengan bertaubat dari segalanya, seorang hamba akan meraih keselamatan dan keberuntungan yang besar.

Sebagai bentuk teladan, salah satu doa yang sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat bersujud adalah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ. ( أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ (٤٨٣))

“Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, baik yang kecil maupun yang besar, yang telah lalu maupun yang akan datang, serta yang aku lakukan secara terang-terangan maupun yang tersembunyi.” Dikeluarkan Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya: 483.

Jika seorang hamba kembali kepada Tuhannya dengan taubat yang tulus, yaitu dengan meninggalkan segala dosa, menyesali perbuatannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi, serta senantiasa membasahi lisan dengan istigfar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menyelamatkannya di dunia maupun di akhirat. Hal ini selaras dengan janji-Nya dalam firman berikut:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ. الأنفال: ٣٣

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (Al Anfal: 33),

Dengan demikian, taubat dan istigfar yang sungguh-sungguh adalah jalan pembuka keselamatan, sekaligus perisai yang melindungi seseorang dari kepedihan azab.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا. (أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ فِي سُنَنِهِ (٣٨١٨)، وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فِي صَحِيحِ الْجَامِع (٣٩٣٠)).

 “Sungguh beruntung bagi siapa saja yang mendapati banyak catatan istigfar di dalam buku amalnya kelak.” (Dikeluarkan Ibnu Majah rahimahullah dalam Sunan-nya: 2818, dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Shohihul Jami‘: 2930).

Oleh karena alasan itulah, Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah melewatkan waktu siang maupun malamnya tanpa memperbanyak tobat dan istigfar kepada Allah. Beliau memberikan teladan nyata bahwa lidahnya selalu basah dengan permohonan ampun. Hal ini senada dengan penuturan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang menceritakan pengalamannya saat bersama beliau:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً». (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ (٦٣٠٧)).

Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Demi Allah, aku selalu beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari semalam.” (Dikeluarkan Imam Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya: 6307).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata,

إِنَّا كُنَّا لَنَعُدُّ الرَّسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: (رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. (أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ فِي سُنَنِهِ (١٥١٦) وَاللَّفْظُ لَهُ، وَالتِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ (٣٤٣٤)، وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيحَة (٥٥٦)).

“Dahulu, kami sering menghitung dalam satu majelis saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan istigfar sebanyak seratus kali: ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.'” (Dikeluarkan Abu Dawud rahimahullah dalam Sunan-nya: 1516, TIrmizi dalam kitab Jami’nya: 3434, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani: dalam kitab Silsilah Hadis Shahih: 556.

Demikian semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang selalu bertaubat dan beristighfaar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala hal dan keadaan. Semoga apa yang disampaikan di sini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca, Wallahu a’lam bish-shawab.

وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Turahmin, BA. S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Kamis 30 April 2026.

Rujukan:

عشر موجبات للنجاح، عبد الرزاق بت عبد المحسن البدر, Hal: 35-37.

Tinggalkan komentar