Fawa’id Ta’lim: Kokoh di atas Agama #9#

3 Pembaca

Fawa’id Ta’lim: Kokoh di atas Agama (#9)

Senin, 26 Oktober 2026

I. Urgensi Persatuan Kaum Muslimin

Persatuan hati dan kalimat kaum muslimin merupakan salah satu sebab utama untuk mendapatkan kekokohan dalam beragama.

Sikap saling menyayangi, menghormati, memuliakan, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak akan semakin menguatkan persatuan kaum muslimin. Terdapat banyak nash (dalil) yang menganjurkan agar kaum muslimin merasa terikat, bersaudara, dan bersatu padu, serta melarang perpecahan agar kekuatan umat Islam semakin kokoh dan solid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Makna “Tali Allah”: Para ulama menjelaskan bahwa tali Allah adalah Kitabullah (Al-Qur’an) yang menjadi landasan utama kita dalam beragama Islam. Ayat di atas secara tegas melarang adanya perpecahan di antara sesama kaum muslimin.

II. Cara Agar Kaum Muslimin Bersatu Padu

Persatuan umat Islam tidak bisa dibangun di atas kebatilan. Berikut adalah prinsip-prinsip agar kaum muslimin bersatu padu di atas jalan yang benar:

  1. Menegakkan tauhid dan memerangi syirik. Bersatu bukan berarti meninggalkan atau melarang pembahasan tentang tauhid, syirik, dan bid’ah.
  2. Berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Persatuan harus selalu sejalan dengan ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  3. Memuliakan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum.
  4. Meninggalkan khurafat dan bid’ah.
  5. Menjadikan kebenaran (Al-Haq) sebagai pijakan utama, yaitu Al-Qur’an dan Hadis sesuai pemahaman para sahabat.
  6. Mengenal kebenaran untuk dilaksanakan dan mengetahui keburukan untuk ditinggalkan.

III. Makna Jama’ah dan Sikap Terhadap Kebenaran

  • Kisah Sahabat Huzaifah ibnul Yaman: Sahabat yang mulia, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, pernah bertanya kepada Huzaifah bin Yaman apakah ia termasuk orang yang disebut dalam hadis Nabi (mengenai golongan yang selamat). Subhanallah, padahal Umar adalah seorang sahabat yang sangat mulia dan dijamin surga, namun beliau masih merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya.
  • Fitnah dan Dukhon (Kabut/Asap): Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa umat ini akan mengalami keburukan, kemudian disusul kebaikan, dan hal itu terus terjadi silih berganti. Ketika kaum muslimin berada dalam masa kebaikan, kebaikan tersebut tetap memiliki “dukhon” (kabut/asap). Yang dimaksud dukhon adalah orang-orang yang berjalan di atas selain jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Definisi Jama’ah: Berpegang teguh dengan al-jama’ah adalah berpegang teguh dengan kebenaran. Meskipun kita sendirian, tatkala kita memegang teguh kebenaran tersebut, pada saat itulah kita sedang bersama jama’ah kaum muslimin.
  • Ketaatan kepada Pemimpin: Jama’ah juga bermakna berbaiat (tunduk dan patuh) kepada pemimpin kaum muslimin yang telah disepakati oleh sebuah negeri, baik pemimpin tersebut berlaku adil maupun zalim (selama tidak memerintahkan kemaksiatan).

IV. Bahaya Bid’ah dan Nikmatnya Hidayah

  • Dampak Bid’ah: Bid’ah akan mengakibatkan perpecahan dalam tubuh kaum muslimin, karena masing-masing kelompok akan merasa paling benar sementara yang lain disalahkan. Ahlul bid’ah sejatinya mengajak kepada persatuan di atas keburukan, bukan kebaikan.
  • Dua Nikmat Terbesar: Abul Aliyah berkata: “Ada dua nikmat yang Allah anugerahkan kepadaku dan aku tidak tahu mana yang lebih agung di antara keduanya: yaitu Allah memberikan hidayah-kepadaku masuk ke dalam Islam, dan Allah menyelamatkanku dari (kelompok) Haruriyah (Khowarij).”
  • Keutamaan Hidayah Islam: Hidayah kepada Islam adalah nikmat terbesar karena menjadi modal utama untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat, minimal selamat dari kekalnya azab di dunia.
  • Bahaya Ahlul Bid’ah: Ahlul bid’ah merasa dirinya berada di atas kebenaran, padahal mereka sebenarnya berada di atas kesesatan. Oleh karena itu, terhindar dari pemahaman ahlul bid’ah merupakan nikmat yang sangat agung.

V. Amalan yang Memperkuat Persatuan

Untuk merawat persatuan dan menghindari perpecahan, seorang muslim dianjurkan mengamalkan hal-hal berikut:

  • Tidak melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang sah dan tidak melakukan perbuatan yang memecah belah umat, melainkan berusaha sekuat tenaga memperkuat persatuan kaum muslimin.
  • Tersenyum kepada sesama muslim.
  • Mengucapkan salam ketika bertemu dengan sesama muslim untuk menyatukan hati dan memperkuat kekuatan umat.
  • Menjauhi sifat hasad, iri, dengki, dan akhlak buruk lainnya yang dapat menghancurkan persatuan.
  • Menasihati pemerintah dengan cara yang benar sesuai kemampuan, serta wajib menjaga adab dan kesopanan dalam menyampaikannya.
  • Saling mencintai, bertemu, dan berpisah karena Allah, serta saling menasihati dalam kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada tiga perkara:

  1. Beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
  2. Berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak berpecah-belah.
  3. Menasihati pemimpin (pemerintah) dengan cara yang benar.

VI. Persaudaraan di Jalan Allah (Ukhuwah Islamiyah)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan ikatan persaudaraan yang erat di antara para sahabat, seperti mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi’ radhiyallahu ‘anhum.

Catatan Penutup: Setan selalu bersama orang yang menyendiri (menjauh dari jama’ah kaum muslimin) dan akan lebih jauh dari orang yang bersama-sama dengan orang lain (dalam kebaikan). Orang yang paling banyak berusaha untuk menyatukan kaum muslimin di atas al-hak (kebenaran) adalah orang yang paling banyak mendapatkan rahmat dari Allah Ta’ala.

Tinggalkan komentar