5 Pembaca
Catatan & Faedah Ilmu
1. Kaidah Makna Doa dalam Bahasa Arab
Doa memiliki beberapa makna tergantung penggunaan kata sambungnya:
- Penggunaan kata sambung ‘Ala (على): Bermakna doa kejelekan/keburukan (mendoakan keburukan atas seseorang).
- Penggunaan kata sambung Lam (ل): Bermakna doa kebaikan (mendoakan kebaikan bagi seseorang).
- Tanpa kata sambung: Bermakna memanggil (nida’).
- Diikuti kata Ila (إلى): Bermakna mengajak atau menyeru. Contoh: Du’a-u ila syahadati laa ilaha illallah artinya mengajak kepada persaksian tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.
2. Utusan Rasulullah ﷺ ke Yaman
- Rasulullah ﷺ mengutus para sahabat seperti Mu’adz bin Jabal, Ali bin Abu Thalib, dan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhum ke Yaman.
- Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu tidak pernah kembali lagi ke Madinah (beliau wafat di Syam pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab).
3. Rukun & Metode Dakwah
Rukun dakwah ada tiga, yaitu:
- ‘Ilmu (العلم): Meliputi ilmu tentang materi dakwah, ilmu tentang keadaan mad’u (objek dakwah), dan ilmu tentang metode berdakwah.
- Hilmu (Hilm/Ketenangan & Kesabaran Jiwa – الحلم): Lembut, tidak tergesa-gesa, dan bijaksana.
- Shabr (Kesabaran – الصبر): Sabar dalam menyampaikan dan menghadapi cobaan dakwah.
Catatan: Dakwah hendaknya dilakukan secara berurutan, bertahap, dan terstruktur.
4. Tauhid & Isitilah-Istilah Syar’i vs. Muhdats
Tauhid
- Tauhid paling utama adalah Tauhid Ibadah (Tauhid Uluhiyyah), yaitu Ifroodullah bil ‘Ibadah (mengesakan Allah dalam beribadah).
- Lafadz “Tauhid” merupakan lafadz syar’i (berasal dari dalil/hadis).
- Dalam Al-Qur’an, turunan kata yuwahhidu atau tauhidan secara spesifik tidak disebutkan, melainkan yang ada adalah lafadz Wahdah serta lafadz Iman.
Penggunaan Lafadz Syar’i & Istilah Muhdats (Baru)
- Lafadz Syar’i: Lafadz Sahabat dan Tabi’in termasuk lafadz syar’i.
- Istilah Muhdats (Istilah yang Muncul Kemudian):
- Lafadz Aqidah: Merupakan istilah baru yang tidak dikenal pada zaman Salafus Shalih. Orang yang pertama kali menggunakannya adalah Imam As-Sabuni, kemudian disusul oleh Imam Al-Ghazali.
- Lafadz Ahlussunnah: Bukan lafadz syar’i murni dari Al-Qur’an/Hadis shahih. Riwayat yang menyebutkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebagai orang pertama yang memunculkannya berstatus dha’if (lemah). Orang pertama yang menggunakan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah Muhammad bin Sirin rahimahullah.
- Lafadz Manhaj: Istilah yang sangat muhdats (baru).
- Lafadz Salafi: Termasuk lafadz muhdats yang tidak dikenal pada masa-masa awal Islam.
- Lafadz Mu’jizat: Istilah teknis yang baru dikembangkan oleh para ulama kalam/akidah di kemudian hari (dalam Al-Qur’an dinamakan Ayat atau Bayyinaat).
5. Kedudukan Mahabbah (Cinta) kepada Allah
- Allah itu mencintai dan dicintai: Yuhabbu (يُحَبُّ – dicintai) dan Yuhibbu (يُحِبُّ – mencintai).
- Tingkatan cinta tertinggi kepada Allah adalah ketika seseorang sampai pada tingkatan Allah mencintainya (Yuhabbu/dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).
- Kedudukan Yuhibbu (hamba mencintai Allah) menjadi sebab, sedangkan hasilnya adalah Yuhabbu (dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).
- Yadrukun bermakna diakui/didapatkan/dijangkau.
6. Hakikat Keberkahan (Barakah)
- Keberkahan Rasulullah ﷺ: Memiliki keberkahan Dzat/Fisik (Dzaatiyyah) dan keberkahan Makna (Ma’nawiyyah).
- Contoh keberkahan fisik: Bekas ludah (Bashaqah), rambut, atau keringat Nabi ﷺ.
- Contoh keberkahan maknawi: Doa (Da’a), ajaran, dan petunjuk Nabi ﷺ.
- Keberkahan Para Ulama: Terletak pada sifat dan ilmunya, bukan pada bekas fisiknya (tabarruk dengan bekas fisik selain Nabi ﷺ tidak diperbolehkan).
7. Definisi Islam dalam Kitab Al-Ushul At-Tsalatsah
Definisi Islam menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Al-Ushul At-Tsalatsah:
الإِسْلَامُ هُوَ: الإِسْتِسْلَامُ لِلَّهِ بِالتَّوْحِيدِ، وَالِانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ
Islam adalah: Menyerahkan diri kepada Allah dengan bertauhid, tunduk patuh kepada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya.