Fawaid Ta’lim
Hendaknya membaca Al-Qur’an didasari niat ikhlas karena Allah, bukan demi tujuan duniawi. Dengan begitu, ibadah tersebut akan berbuah pahala dan tidak menjadi sia-sia.
Menuntut ilmu wajib didasari niat ikhlas karena Allah. Sebab, menuntut ilmu demi tujuan selain-Nya tidak hanya menghalangi seseorang dari mencium bau surga, tetapi justru dapat menyeretnya ke dalam neraka. Contohnya, jika ilmu dipelajari hanya untuk menyombongkan diri, mendebat orang awam, menyaingi para ulama, atau sekadar ajang gaya-gayaan.
Menuntut ilmu yang hanya bertujuan untuk mencari massa, serta adanya rasa tidak rela jika murid-muridnya belajar kepada guru lain, akan membawa kecelakaan bagi pelakunya di akhirat kelak.”
Merasa sombong karena banyaknya murid atau pengikut yang belajar kepadanya merupakan salah satu perkara yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hendaknya seorang penuntut ilmu maupun ahli ilmu senantiasa mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya, agar ilmu tersebut menjadi cahaya dan keberkahan.
Munculnya rasa marah atau tidak suka saat melihat murid dan pengikutnya belajar kepada orang lain adalah tanda adanya ketidakikhlasan dalam hati.
Kalimat ini mengandung pesan sejarah dan spiritual yang sangat indah. Agar terdengar lebih berwibawa, puitis, dan mengalir, berikut adalah beberapa pilihan perbaikannya:
Dalam menulis kitab, hendaknya niat dikukuhkan hanya demi mengharap rida Allah Subhanahu wa Ta’ala. Telah banyak contoh para ulama yang karyanya tetap kekal dan dipelajari dari generasi ke generasi, semata-mata karena keberkahan keikhlasan mereka.
Turahmin, BA, M.H., S.Pd.
Masjid Bin Baz Pusat, Piyungan, 06 Mei 2026.