Agar Musibah Menjadi Pahala dan Penghapus Dosa

80 Pembaca


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

‘IbadallahMa’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka untuk melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan sehat walafiat dan dalam keadaan masih beriman dan berislam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita bersyukur kepada-Nya di dalam al-Quran dalam surat Ibrahim: 7,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).

Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang menegaskan kewajiban kita supaya bersyukur kepada-Nya, dengan menjelaskan bahwa nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sangatlah banyak tidak terhingga,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,

Tidak lupa pula selaku khatib pada khutbah Jum’at siang ini saya mengingatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah sekalian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketakwaan ini merupakan bekal terbaik bagi kita di dunia ini maupun di akhirat kelak, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).

Selain itu orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang dihadapinya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. الطلاق: 2-3

Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. QS: ath-Thalaq: 2-3.

Kemudian shalawat dan salam kita panjatkan kepada baginda nabi kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,

Pada kesempatan khotbah Jumat ini, insya Allah, saya akan menyampaikan pembahasan mengenai bagaimana cara mengubah musibah menjadi penghapus dosa dan berbuah pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ujian merupakan suatu kelaziman dalam menjalani kehidupan ini. Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya musibah ataupun ujian yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka. Allah sendiri telah berfirman bahwa Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, yang tujuannya adalah untuk menguji umat manusia: siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini,

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun. QS: Al-Mulk: 2.

Musibah yang dialami oleh masing-masing orang itu berbeda-beda. Ada yang diuji melalui dirinya sendiri—yakni fisiknya—keluarganya, istrinya, anak-anaknya, hartanya, atau musibah yang mengenai hal lain yang berkaitan dengan dirinya. Namun ketahuilah, setiap musibah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ujian bagi umat manusia itu, pada hakikatnya, merupakan kebaikan yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba tersebut.

Mengapa demikian? Karena yang namanya manusia, pasti pernah melakukan kesalahan; bahkan, boleh jadi kita sering terjatuh ke dalam dosa. Hal ini ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa setiap anak Adam itu pasti pernah berbuat dosa. Dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa, adalah mereka yang selalu bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal itu tertuang dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang sering berbuat salah adalah mereka yang paling sering bertobat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Lantas, di manakah letak kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki bagi hamba-Nya melalui ujian atau musibah tersebut?

Jawabannya adalah: karena musibah tersebut bisa menjadi penghapus dosa-dosa dan sekaligus menjadi jalan untuk meningkatkan derajatnya di akhirat kelak, di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia (atas dosa-dosanya). Namun, apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Allah akan menangguhkan hukuman atas dosa-dosanya itu hingga kelak dibalas dengan sempurna di hari kiamat.”

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian yang dihadapi. Dan sungguh, apabila Allah menyayangi suatu kaum, maka Allah akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang ridha (menerima ketetapan itu), maka ia akan mendapatkan keridaan Allah. Namun, barang siapa yang membenci atau tidak terima, maka ia pun akan mendapatkan kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadis ini Hasan).

Hadis pertama menjelaskan kepada kita bahwa apabila Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia atas dosa-dosa yang telah ia perbuat. Tujuannya adalah agar ia kembali menghadap Allah dalam keadaan bersih, karena dosa-dosanya telah ditebus melalui ujian dan musibah selama ia hidup di dunia.

Kemudian, pada hadis kedua dijelaskan bahwa semakin besar musibah yang ditimpakan, maka semakin besar pula bukti cinta Allah kepada hamba tersebut.

Kini, tinggal bagaimana kita menghadapinya. Jika kita menerima musibah itu dengan rasa rela, ridha, dan penuh kesabaran—serta diiringi rasa ihtisab, yaitu semata-mata mengharap pahala dari Allah—maka Allah pun akan ridha kepada kita. Dan ketika Allah sudah ridha kepada hamba-Nya, maka derajatnya di sisi Allah akan ditinggikan, dan ia pun akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah.

Intinya, sidang Jumat yang berbahagia, musibah yang kita hadapi dengan kesabaran, keikhlasan dan ihtisab (mengharapkan pahala) akan membuahkan dua kemuliaan sekaligus: ia akan menjadi penghapus dosa-dosa kita, sekaligus menjadi pengangkat derajat kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan janji khusus bagi orang yang bersabar dalam menghadapi ujian bahwa pahala mereka tidak akan dihitung dengan hitungan biasa:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Pahala yang besar menanti orang-orang yang mampu menghadapi musibah dengan penuh kesabaran.

Hadis berikut ini menjadi bukti yang sangat nyata, bahwa musibah yang kita alami akan menjadi penggugur dosa dan penebus kesalahan-kesalahan kita.

Ketahuilah, sekecil apa pun musibah itu—bahkan seandainya hanya sebatang duri kecil yang tidak sengaja menusuk kulit kita—maka hal itu pun telah dicatat oleh Allah sebagai penghapus dosa-dosa kita. yang penting kita mampu menghadirkan sabar dan ihtisab.

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ تُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا! قَالَ: أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِكَ، مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى؛ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ، وَحُطَّتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

وَالْوَعْكُ: مَغَثُ الْحُمَّى، وَقِيلَ: الْحُمَّى

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita: “Aku menjenguk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sedang demam. Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sepertinya Anda sedang sakit demam yang sangat parah.’ Beliau menjawab: ‘Benar, rasa sakit demam yang kurasakan ini sama beratnya dengan rasa sakit dua orang laki-laki di antara kalian.’ Aku bertanya lagi: ‘Apakah itu karena Anda akan mendapatkan pahala dua kali lipat?’ Beliau menjawab: ‘Benar, memang begitu. Tidaklah seorang Muslim tertimpa gangguan—entah itu tertusuk duri atau yang lebih berat dari itu—melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan merontokkan dosa-dosanya seperti pohon merontokkan daun-daunnya’.” (HR. Bukhari & Muslim).

Demikianlah, jamaah sekalian…

Inilah jalan yang Allah bentangkan bagi kita, agar setiap musibah dan ujian yang terasa berat, dapat berubah menjadi ladang pahala yang melimpah dan penggugur dosa-dosa kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بارَك الله لي ولَكم في القرآنِ العظيمِ، ونفَعني وإيّاكم بما فيه من الآياتِ والذّكر الحكيم، أقولُ قولي هذَا، وأستغفِر اللهَ لي ولكم ولِسائر المسلمين مِن كلّ ذنب، فاستَغفروه وتوبوا إِليه، إنّه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah,

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada khutbah yang kedua ini, khatib kembali berwasiat—khususnya bagi diri khatib pribadi dan umumnya bagi jamaah sekalian. Apabila kita diuji dengan musibah dalam bentuk apa pun, hendaknya kita senantiasa mengingat bahwa musibah tersebut adalah bentuk kebaikan dan bukti cinta Allah kepada kita.

Marilah kita hadapi setiap ketetapan-Nya dengan penuh kesabaran dan ihtisab, yakni dengan senantiasa mengharap rida serta pahala dari-Nya. Semoga dengan demikian, setiap ujian yang kita lalui benar-benar berbuah pahala yang melimpah dan menjadi penggugur bagi dosa-dosa kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. الأحزاب: 56

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنِ

Abu Layla Turahmin. BA, S.Pd, M.H.

Piyungan, Bantul, ICBB. Sabtu, 13 Mei 2026.

Sudah disampaikan di masjid:

Tinggalkan komentar