Fawaid Ta’lim
Wajib mentaati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Jin dan manusia wajib beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mendapat beban taklif untuk melaksanakan ajaran syari’at Islam.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan untuk mendakwahi seluruh umat manusia tanpa terkecual, setelah beliau diutus menjadi nabi dan rasul.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga diutus untuk mendakwahi bangsa jin berdasarkan surat al-ahqaf.
Ada juga yang berpendapat bahwa dalil jin termasuk umat yang wajib di dakwahi nabi Muhammad adalah ayat yang menyeru dengan seruan an-nas, an-nas berasal dari kata an-naus yang artinya goncangan/bergerak, jin dan manusia adalah makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang selalu bergerak.
Agama Islam adalah agama yang sempurna berdasarkan ayat yang mengatakan اليوم أكملت لكم دينكم. Ayat ini turun di hari Arafah ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang wukuf di Arafah.
Wukuf Arafah merupah rukun haji barangsiapa yang wukuf di Arafah maka hajinya telah sah.
Turunnya ayat tersebut di hari Arafah ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam wukuf di arafah menunjukkan bahwa Islam telah sempurna.
Sempurnanya agama Islam merupakan nikmat bagi pemeluknya karena apa saja yang dibutuhkan pemeluknya ada di agama tersebut.
Islam sudah sempurna dan semua perkara yang dibutuhkan manusia telah dijelaskan tinggal umat Islam mau mempelajarinya atau tidak.
Orang yang ingin mendapat keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala wajub berpegang teguh dengan syari’at Islam.
Dalil bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga meninggal dunia adalah ayat yang mengatakan,
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ – ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ. سورة الزمر: 30-31
Meskipun ayat tersebut secara gamblang bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah meninggal dunia tetapi masih ada orang yang meyakini bahwa beliau masih hidup dan hadir di majelisnya, tentu itu merupakan keyakinan yang salah besar.
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia perasaan para sahabat pun menjadi goncang dang banyak yang tidak percaya bahkan ada yang sampai mengancam akan membunuh orang yang mengatakan bahwa beliau telah meninggal dunia.
Setelah Abu Bakar radhiyalahu anhu, menenangkan mereka dan menjelaskan bahwa seluruh manusia akan meninggal dunia dan yang kekal hidup hanya Allah baru para sahabat menjadi tenang dan keadaan menjadi stabil.
Kelak di akhirat semua orang akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya untuk mendapat balasan dari seluruh amalannya.
Manusia jika telah meninggal dunia kelak di hari kiamat akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali, jasad dan ruh akan disatukan kemudian mereka akan bangkit dan hidup di kehidupan kedua.
Manusia diciptakan dari tanah akan kembali ke tanah dan akan dibangkitkan kembali dari tanah itu juga yaitu pada hari kebangkitan
Allah benar-benar akan membangkitkan kembali manusia dari kematiannya pada hari kiamat dan ini wajib diyakini betul-betul.
Setelah dibangkitkan manusia akan dihisab (dihitung) seluruh amal perbuatannya kemudian akan dibalas sesuai dengan amalan-amalkan tersebut.
Orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid akan masuk surga dan orang yangeninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik (musyrik) akan masuk neraka.
Dalilnya firman ALlah subhanahu wa ta’ala,
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى. سورة طه: 55
Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain. QS: Thaha: 55.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا – ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا. سورة نوح: 17-18
Allah benar-benar menciptakanmu dari tanah. Kemudian, dia akan mengembalikanmu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkanmu (pada hari Kiamat) dengan pasti. QS: Nuh: 17-18.
Orang yang mengingkari hari kebangkitan kafir, dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. سورة التغابن: 7
Orang-orang yang kufur mengira bahwa sesungguhnya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti akan diberitakan apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu mudah bagi Allah. QS: At-Taghabun: 7.
Orang yang tidak mengimani hari kebangkitan ia telah kafir dan keluar dari agama Islam, kadang ada orang muslim yang mengingkari hari kebangkitan.
Hari kebangkitan merupakan hari kepastian yang pasti akan terjadi, jangan sampai mengingkarinya.
Dengan cara apapun manusia mati, entah dengan cara terbakar, tenggelam, dimakan ikan, dimakan binatang buas dan lain-lain mereka pasti tetap akan dibangkitkan dan diberi balasan dari setiap amalnya.
Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul agar mereka memberikan kabar gembira dan memperingatkan dari kesyirikan, memberikan kabar gembira berupa surga bagi orang yang beriman dan ancaman berupa neraka bagi orang yang kafir.
dalilnya fieman Allah subhanahu wa ta’ala,
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ. سورة النساء: 165
(Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus). QS: An-nisa: 165.
Orang yang beriman adalah orang yang bertauhid dan mereka mendapat kabar gembira berupa surga.
Orang kafir kekal di neraka jahannam selama-lamanya tanpa batas waktu
Salah satu fungsi rasul adalah agar manusia kelak tidak memiliki hujjah atau sanggahan kenapa mereka diazab.
Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beliau sebagai penutup para nabi, tidak ada nabi dan rasul setelah beliau shallallahu alaihi wa sallam.
Nabi lebih umum daripada rasul, jika nabi sudah ditutup, tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan juga tidak ada rasul lagi setelahnya.
Dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama nabi Nuh ‘alaihissalam adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ. سورة النساء: 163
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. QS: An-Nisa: 163.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, bukanlah bapak salah seorang laki-laki dewasa di antara kalian tapi beliau adalah penutup para nabi dan rasul.
Khatamunnabiyyin artinya penutup para nabi bukan diartikan cincin atau hiasan para nabi dan rasul.
Wahyu ada dua yaitu wahyu kenabian dan wahyu kerasulan.
Nabi Adam adalah bapak kita dan seorang nabi, yang turun kepadanya adalah wahyu kenabian bukan wahyu kerasulan.
Nabi Nuh ‘alaihisaalam adalah rasul yang pertama.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang diberi keutamaan memiliksyafa’at udhma.
Allah telah mengutus rasul pada setiap umat, yang mereka mengajak kepada tauhid.
Jumlah nabi dan rasul ada sekitar 124.000 orang.
Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ. سورة النحل: 36
Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”
Seluruh nabi dan rasul memerintahkan agar mentauhidkan Allah dan menjauhi thaghut.
Asal perintah adalah untuk kewajiban jia tidak ada dalil lain yang membawa kepada hukum sunah.
Kewajiban kita mengingkari thaghut.
Tauhid adalah bagian dari beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa thaghut adalah segala sesuatu yang seorang hamba dengannya melewati batas, berupa sesembahan, sesuatu yang diikuti atau sesuatu yang ditaati.
Thaghut berupa sesembahan adalah seorang hamba menjadikan selain Allah sebagai sesembahan.
Orang yang menjadikan sesuatu sebagia sesembahan berarti ia telah melampaui batas.
Thaghut berupa sesuatu yang diikuti seperti mentaati ulama dalam perkara yang dilarang dalam Islam secara membabi buta. Tetapi jika perkara itu perkara yang benar maka mengikutinya bukan termasuk berlebihan kepadanya.
Jika ulama yang yang fatwanya salah dan diikuti orang lain secara berlebihan lalu ia ridha maka ulama tersebut termasuk thaghut tetapi jika ia tidak ridha ia tidak masuk dalam kategori thaghut.
Kita wajib mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan tidak ta’ashub dengan pendapat ulama tertentu yang berlawanan dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Thaghut yang ditaati adalah para penguasa, orang-orang yang mentaati penguasa secara berlebihan sampai dalam perkara yang haram maka ia telah menjadikan penguasa itu sebagai thaghut ,jika penguasa itu ridha dengannperlakuan tersebut maka ia benar-benar jadi thaghut, tetapi jika ia tidak ridha maka ia tidak termasuk thaghut.
Gembong thaghut ada lima: pertama iblis, orang yang disembah dan ridha dengan itu, orang yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya baik akhirnya ia disembah atau tidak, orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib (yamg mutlak yang tidak diketahui kecuali oleh Allah saja) seperti mengaku mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.
Kadang Allah menampakkan sebagian ilmu ghaib kepada msebagian manusia yaitu para nabi dan rasul.
Selain rasul tidak diberi ilmu ghaib oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Selain rasul jika ada yang mengaku mengetahui ilmu ghaib maka ia termasuk thaghut, seperti para dukun dan tukang ramal.
Orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan meyakini hukumnitu lebih utama atau sama dengan hukum Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi jika ia berhukum dengan hukum selain hukum Allah dan masih meyakini hukum Allah subhanahu wa ta’ala lebih utama orang itu tidak disebut thaghut.
Dalil wajib kufur kepada thaghut dan hnaya beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. سورة البقرة: 256
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS: Al-baqarah: 256.
Orang yang berakal dan mampu menggunakan akalnya dengan baik seharusnya ia akan masuk Islam meskipun tidak ada yang memaksa sama sekali.
Orang yang kufur kepada thaghut dan bertauhid kepada Allah ia telah berpegang teguh dengan tali yang paling kuat dan tidak akan outus sama sekali.
Dengan tali itulah ia akan sampai kepada Allah dan akan masuk surga-Nya.
Inilah makna laa ilaaha illallah, dalam hadis (disebutkan),
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامِ وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Pokok dari perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”
Ra’su artinya kepala dan kepala merupakan sesuatu yang paling penting bagi seseoranag, Islam adalah kepala yang merupakan sesuatu yang paling utama bagi suatu perkara, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad fisabilillah.
Turahmin, BA, M.H, S.Pd.