Fawaid Ushul Tsalatsah #Pondasi kedua: Mengenal Islam Dengan Dalil-Dalilnya# 16 Mei 2026

30 Pembaca

Fawaid

Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Dengan mengenal Islam kita bisa mengenal tauhid dan juga bisa beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara yang benar.

Pengertian Islam adalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad

Isalam adalah berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya.

Islam berasal dari kata aslama yuslimu islaaman yaitu berserah diri, berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya (hanya menyembah kepada-Nya).

Orang Islam harus menyembah Allah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya.

Seluruh nabi dan rasul membawa agama islam yaitu berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya.

Seluruh rasul inti ajaranya sama yaitu tauhid meskipun syariatnya berbeda.

Orang yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.

Orang yang bertauhid akan pasrah kepada Allah lahir dan batin serta akan mentaati Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang yang bertauhid wajib berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.

Agama Islam memiliki tiga tingkatan yaitu islam, iman dan ihsan

Makna Islam bukan hanya satu, makna islam paling umum adalah seluruh agama para nabi dan rasul, sedangkan islam yang khusus adalah islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan makna yang lebih khusus adalah tingkatan paling dasar dalam agama islam.

Semua tingkatan itu ada rukunnya, rukun adalah sesuatu yang terpenting dari sesuatu.

Rukun Islam ada lima: syahadat tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah (rukun paling utama), mendirikan shalat (shalat lima waktu), membayar zakat (zakat mal) berpuasa di bulan Ramadhan selama satu bulan dan berhaji ke baitullah al haram.

Kelima rukun Islam itu adalah amalan-amalan lahir.

Islam dan iman jika disebutkan dalam satu kalimat maka yang dimaksud Islam adalah amalan-amalan lahir mulai syahadat sampai berhaji, sedangkan iman adalah amalan hati.

Ihsan adalah puncak dari amlan lahir dan batin.

Dalil syahadat adalah firman Allah,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. سورة آل عمران: 18

Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Q: Ali Imran:10.

Allah subhanahu wa ta’ala yang menguasai seluruh alam semesta bahwa tidak ada sesembahan yang berhak selain-Nya, demikian juga seluruh malaikat yang ada mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, begitu juga para ahlul ilmi.

Makna laa ilaha illallah adalah tidak ada sesembahan yang hak (berhak disembah) kecuali hanya Allah saja.

Sesembahan banyak, manusia ada yang menyembah api, matahari dan lain-lain.

Laa ilaaha adalah menafikan, mengingkari atau meniadakan seluruh sesembahan, sedangkan illallah adalah penetapan yaitu menetapkan bahwa sesembahan yang benar (hak) itu hanya Allah subhanahu wa ta’ala.

Disebutkannya kembali laa ilaaha illallah di landasan kedua ini setelah disebutkan dilandasan pertama untuk kenunjukkan betapa pentingnya tauhid uluhiyah ini dan harus sering diulang-ulang.

Allah adalah satu-satunya raja yang hakiki di alam semesta ini maka hanya Dia yang wajib disembah.

Tauhid uluhiyah wajib ada pengingkaran dan penetapan.

Dalil tafsir la ilaha illallah:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ – إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ – وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ. سورة الزحرف: 26-28 

(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku. Sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Dia (Ibrahim) menjadikannya (kalimat tauhid) perkataan yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepadanya). QS: Az-Zuhruf: 26-28.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ. سورة آل عمران: 64

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” QS: ALi Imran: 64.

Kita hanya wajib menyembah Allah dan tidak menjadikan selain Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sesembahan.

Orang Nasrani berlebih-lebihan terhadap para pendeta mereka dengan cara mengikuti apa saja yang mereka lakuakn baik menghalalkan yang haram ataupun mengharamkan yang halal.

Menghalalkan dan mengharamkan sesuatu hanya hak Allah subhanahu wa ta’ala saja.

Jika ada orang yang tidak mau ikut berserah diri kepada Allah dan hanya mentauhidkan Allah semata, maka kita tidak boleh mengikiti mereka dan tetap kokoh di atas keyakinan tersebut

Orang yang bersaksi harus bersaksi di atas ilmu.

Bersaksi itu didasari sumpah.

Dalam syahadat ada ikhbar (pemberitahuan) kepada orang lain itu artinya syahadat wajib diucapkan dengan lisan dan tidak cukup hanya di dalam hati.

Syahadat kedua setelah laa ilaaha illallah adalah syahat bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. سورة التوبة: 128

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. QS: At_taubah: 128

Allah memilih utusannya dari kalangan manusia untuk mendakwahi mereka bukan dari kalangan jin atau malaikat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat sayang kepada umatnya dan ikut merasakan beratnya penderitaan yang dihadapi umatnya, ia sangat menginginkan agar umatnya mendapat hidayah.

Makna syahadat bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam utusan Allah:

  1. Wajib membenarkan beliau karena beliua merupakan utusan Allah dan utusan pasti membawa misi dari Allah subhanahu wa ta’ala, wajib mentaati perintahnya karena perintahnya adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala, membenarkan apa saja yang diberitakan oleh beliau karena berita apa saja yang beliau bawa baik berupa kisah orang terdahulu maupun berita tentnag hari kiamat itu pasti benar dan pasti berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Menjauhi apa saja yang dilarang oleh beliau, apapun bentuk larangan itu.
  3. Beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara yang beliau syari’atkan.

Shalat

Dalil tentang tafsir tauhid

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ. سورة البينة: 5

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). QS: Al-bayyinah: 5.

Seluruh agama memerintahkan umatnya untuk bertauhid, shalat, puasa dan membayar zakat, meskipun tata cara shalat, puasa dan zakat tidak sama.

Dalil puasa adalah firman-Nya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. سورة البقرة: 183

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. QS: Al-Baqarah: 183.

kutiba artinya uujiba yaitu diwajibkan.

Dalil haji adalah firman-Nya,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ. سورة آل عمران: 97

(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam. QS: Ali Imran: 97.

Haji merupakan salah satu rukun Islam dan hanya wajib dilakukan sekali, lebih dari sekali itu tathowwu’ (sunnah).

Orang yang mampu haji tapi tidak mau melakukannya maka ia berdosa.

Allah tidak butuh dengan ibadah-ibadah kita termasuk ibadah haji kita, bahkan tidak butuh dengan alam semesta ini kita lah yang butuh kepada-Nya.

Iman, yang dimaksud dengan iman adalah amalan batin yang dilakukan seseorang.

Iman dengan makna umum ada tujuh ouluh cabang lebih, paling tinggi adalah laa ilaaha illallah, paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan dan malu sebagian dari iman.

Iman dengan makna umum mencakup tiga perkara yaitu: ucapan (syahadat laa ilaaha illah), amal perbuatan (menyingkirkan gangguan di jalan), dan amalan hati yaitu salah satunya rasa malu.

Rukun iman ada enam: iman kepada Allah, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada para rasul, imam kepada hari akhir dan iman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.

Dalil rukun iman ini firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ. سورة البقرة: 177

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi. QS: AL-Baqarah: 177.

Ayat ini menjelaskan lima rukun iman, untuk iman kepada taqdir disebutkan dalam ayat berikut,

Dalil taqdir firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ. القمر: 49

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran. QS: AL-Qamar: 49.

Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu diciptakan berdasarkan taqdir dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Kita wajib memiliki kadar minimal keimanan terhadap enam rukun iman tersebut.

Kadar minimal atau wajib terhadap rukun iman:

  1. Beriman kepada Allah: minimal beriman kepada wujud Allah, rububiyah Alllah, uluhiyah Allah dan asma wa sifatnya.
  2. Beriman kepada malaikat, kadar minimalnya beriman bahwa mereka termasuk makhluk Allah subhanahu wa ta’ala dan memiliki tugas masing-masing, ada yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul. Orang yang memang tidak tahu sama sekali nama malaikat pembawa wahyu tidak berdosa dan tidak mengurangi keimanan dalam batas minimal ini.
  3. Beriman kepada para rasul batas minimal adalah meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul dan kitab sebelum al-Quran telah dinaskh oleh al-Qur’an
  4. Beriman kepada para rasul baras minimalnya meyakini bahwa para nabi dan rasul telah diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyampaikan risalahnya dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
  5. Beriman kepada hari akhir (kiamat) adalah meyakini bahwa hari kiamat pasti ada dan akan terjadi dan kelak manusia akan menadapat balasan dari amal perbuatannya.
  6. Beriman kepada ataqdir batas minimal adalah meyakini bahwa Allah telah mentakdirkan segala sesuatu, bahwa segala sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi telah ditentukan oleh-Nya.

Tingkatan ketiga ihsan, ihsan adalah al-itqon yaitu memperbaiki dan menyempurnakan, maksudnya adalah ihsan merupakan tingkatan tertinggi dari amalan lahir dan batin secara sebaik mungkin, atau ia melakukan seluruh amal dan selalalu meyakini bahwa Allah melihat dan mengawasinya atau seolah-olah ia melihat-nya.

Orang yang mencapai tingkatan ihsan akan merasa selalu diawasi batinnya oleh Allah, ia akan malu kepada Allah jika beribadah karena riya’ atau sum’ah.

Orang yang ihsan akan beribadah dengan baik dan selalu berusaha agar ibadahnya sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dalilnya Firman ALlah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ. سورة النحل: 128

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan yang berbuat kebaikan. QS; An-Nahl: 128.

Yang dimaksud muhsin dalam ayat ini adalah orang-orang yang mencapai derajat ihsan.

Allah selalu bersama dengan orang yang ihsan dalam setiap ibadahnya, Allah akan menolong, membantu dan menguatkannya.

Firman-Nya,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ – الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ – وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ – إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. سورة الشعراء: 217-220

Bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Dia) yang melihat ketika engkau berdiri (untuk salat). Dan, (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS: Asy-Syu’ara’: 217-220.

Kita wajib bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kita wajib meyakinu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melihat setiap gerak-gerik dan ibadah kita.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ. سورة يونس: 61

Engkau (Nabi Muhammad) tidak berada dalam suatu urusan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. QS: Yunus: 61.

Allah subhanahu wa ta’ala melihat semua amalan yang dilakukan seluruh hamba-hambanya sejak awal sampai selesai.

Dalil dari sunnah hadis Jibril yang masyhur dari Umar bin Khathab radhiyallahu anhu,

قَالَ بينما نحن جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ فَجَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: “يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلامِ.” فَقَالَ: “أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لا اله إِلا اللهُ. وَأَنَّ محمدا صلى الله عليه وسلم رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيمَ الصَّلاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلا.” قَالَ: صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ: “أَخْبِرْنِي عَنِ الإِيمَانِ.” قَالَ: “أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقدر خيره وشره.” قَالَ: “أَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ.” قَالَ: “أَنْ تَعْبُدَ الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فَإِنَّهُ يَرَاكَ.” قَالَ: “أَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ” قَالَ: “مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.” قَالَ: أخبرني عَنْ أَمَارَاتِهَا.” قَالَ: “أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ.” قَالَ: “فَمَضَى فَلَبِثْنَا مَلِيَّا.” فَقَالَ: “يَا عُمَرُ أَتَدْرُونَ مَنِ السَّائِلِ؟” قُلْنَا: “اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.”، قَالَ: هَذَا جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ أَمْرَ دِينِكُم

Pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih bersih dan berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda baru melakukan safar (perjalanan jauh) dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, kemudian orang itu duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menempelkan lututnya pada lutut Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahanya.

kemudian berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beritahukanlah kepadaku tentang Islam.”

Beliau bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya, engkau menegakkan salat, engkau menunaikan zakat, engkau berpuasa pada bulan Ramadhan dan engkau berhaji ke Baitullah jika engkau memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.”

Ia berkata, “Anda benar.”

Kamipun merasa heran, ia bertanya namun ia juga membenarkannya.

Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman.”

Beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada taqdir-Nya yang baik dan yang buruk.”

Ia berkata, “Anda benar.”

Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.”

Beliau bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala seolah-olah engkau melihat-Nya, namun jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu.”

Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.”

Beliau bersabda, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.”

Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya.”

Beliau bersabda, “Jika budak perempuan telah melahirkan tuannya, dan penggembala kambing yang tidak beralaskan kaki dan bertelanjang dada telah berlomba-lomba meninggikan bangunan (itulah tanda-tanda hari kiamat).”

Beliau bersabda, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.”

Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya.”

Beliau bersabda, “Jika budak perempuan telah melahirkan tuannya, dan penggembala kambing yang tidak beralaskan kaki dan bertelanjang dada telah berlomba-lomba meninggikan bangunan (itulah tanda-tanda hari kiamat).”

Kemudian orang itu pergi akupun terdian beberapa saat.

kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Umar, Tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?”

Akupun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya ia adalah Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.”

Ketika kita menuntut ilmu hendaknya memperhatikan penampilan, berpenampilan bersih dan rapi.

Para shabat ketika belajar kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mereka juga memperhatikan orang-orang lain yang ikut belajar kepada beliau.

Seorang penuntut ilmu hendaknya duduk di depan tidak di barisan paling belakang.

Ketika kita menuntut ilmu kita wajib melakukan adab yang baik sebagai penghirmatan kepada ilmu dan ahli ilmu yang kita belajar kepadanya.

Para sahabat sangat beradab dan sangat menghormati Nabi shallallahu alaihi wasallam, salah satu buktinya adalah mereka tidak memanggil beliau hanya dengan menyebut namanya tetapi mereka memanggil dengar gelar dan kedudukannya.

Biasanya orang yang bertanya disebabkan karena ketidaktahuan.

Boleh merasa heran terhadap sesuatu uang memang mengherankan.

Jika ditanya sesuatu dan tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan itu jangan sampai kita sok tahu dan menjawab seenaknya, asal jawab tapi jawablah dengan wallahu a’lam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan malaikat jibril tidak mengetahui kapan pastinya terjadi hari kiamat, apalagi selain mereka berdua.

Disebutkannya tanda-tanda dekatnya hari kiamat agar kita sellau mempersiapkan diri untuk menghadapinya jika sewaktu-waktu kiamat itu tiba.

Tanda-tanda kiamat:

  1. Banyaknya perbudakan.
  2. Banyaknya anak-anak yang durhaka.
  3. Banyaknya orang-orang yang sebelumnya fakir miskin kemudian mampu berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Semua tanda-tanda tersebut sudah terjadi

Soal jawab (bertanya dan menjawab) merupakan salah satu metode pengajaran dalam Islam.

Malaikat bisa menjelma sebagai manusia yang sempurna.

Pemateri Ust Dr. Abdullah Roy.

Turahmin, BA, M.H. S.Pd.

Masjid Jamilurrahman, Bantul 16 Mei 2026.

Tinggalkan komentar