بسم الله الرحمان الرحيم
Syarat-syarat salat ada sembilan, yaitu: Islam, berakal, tamyiz, menghilangkan hadas, menyucikan najis, menutup aurat, masuknya waktu salat, menghadap kiblat, dan niat.
Syarat pertama adalah Islam, yang lawannya adalah kekafiran. Seorang kafir amalnya tertolak walau ia melakukan amal kebajikan apa pun, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. التوبة: 17
Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka bersaksi bahwa diri mereka kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amal mereka dan di dalam nerakalah mereka kekal. QS: At-Taubah: 17.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا. الفرقان: 23
Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. QS: Al-Furqan: 23.
Syarat kedua adalah berakal, yang lawannya adalah gila. Seorang yang gila dibebaskan dari tanggung jawab hukum (diangkat pena darinya) sampai ia sadar kembali.
Dalilnya adalah hadis:
رفع القلم عن ثلاثة: النائم حتى يستيقظ والمجنون حتى يفيق والصغير حتى يبلغ
‘Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan: orang yang tidur hingga ia terbangun, orang gila hingga ia sadar, dan anak kecil hingga ia balig.’
Syarat ketiga adalah tamyiz, yang lawannya adalah anak kecil (belum balig). Batasan usia tamyiz adalah tujuh tahun, yang mana setelah itu mereka mulai diperintahkan untuk salat berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
‘Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan salat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkan salat) pada usia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.
Syarat keempat adalah mengangkat hadas, yaitu dengan cara berwudu sebagaimana yang telah diketahui, dan hal yang mewajibkannya adalah adanya keadaan hadas.
Syarat-syarat wudu ada sepuluh, yaitu Islam, berakal, tamyiz, dan niat, serta menyertakan hukum niat dengan tidak berniat memutusnya hingga bersuci sempurna. Selain itu, harus berhentinya hal yang mewajibkan wudu, melakukan istinja atau istijmar sebelumnya, menggunakan air yang suci lagi menyucikan serta halal, menghilangkan segala hal yang menghalangi sampainya air ke kulit, dan telah masuknya waktu salat bagi mereka yang memiliki hadas terus-menerus.
Fardu-fardu wudu ada enam, yaitu membasuh wajah—termasuk di dalamnya berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung—dengan batasan panjang dari tempat tumbuhnya rambut kepala hingga dagu dan batasan lebar hingga pangkal telinga; kemudian membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap seluruh kepala termasuk kedua telinga, membasuh kedua kaki sampai mata kaki, serta dilakukan secara tertib dan berurutan (mualah), sebagaimana dalil dalam firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ. المائدة: 6
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. QS: Al-Maidah: 6.
Dalil mengenai kewajiban tertib adalah hadis Nabi yang menyatakan,
ابْدَأُوا بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
“Mulailah dengan apa yang Allah mulai,”
Sedangkan dalil mengenai mualah (berurutan tanpa jeda lama) adalah hadis tentang seseorang yang memiliki bagian di kakinya sebesar dirham yang tidak terkena air, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengulang wudunya. Adapun hal yang wajib dalam wudu adalah membaca basmalah (tasmiyah) bagi mereka yang mengingatnya.
Pembatal wudu ada delapan perkara, yaitu sesuatu yang keluar dari dua jalan (lubang depan dan belakang), keluarnya najis yang banyak dari anggota tubuh lainnya, hilangnya akal (kesadaran), menyentuh lawan jenis dengan syahwat, menyentuh kemaluan dengan tangan baik bagian depan maupun belakang, memakan daging unta, memandikan mayat, serta murtad dari agama Islam—semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.
Syarat kelima adalah menghilangkan najis dari tiga perkara: dari badan, pakaian, dan tempat salat, yang mana dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. المدثر: 4
“Dan pakaianmu, bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 4)
Syarat keenam adalah menutup aurat, di mana para ahli ilmu telah bersepakat atas tidak sahnya salat seseorang yang mengerjakannya dalam keadaan telanjang padahal ia mampu menutupnya. Batasan aurat laki-laki adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula bagi budak perempuan; sedangkan bagi wanita merdeka, seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajahnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍالأعراف: 31
‘Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid’ (QS. Al-A’raf: 31),
Yang maknanya adalah di setiap waktu salat.”
Berikut adalah terjemahan dari teks tersebut yang disusun dalam satu paragraf agar mengalir dan mudah dipahami:
Syarat ketujuh adalah masuknya waktu salat; dalil dari As-Sunnah adalah hadis Jibril ‘alaihissalam saat beliau mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu, lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, salat itu adalah di antara dua waktu ini.’ Adapun dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا. النساء: 103
‘Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman’ (QS. An-Nisa: 103).
Yang maknanya adalah kewajiban yang terikat pada waktu-waktu tertentu. Sedangkan dalil mengenai rincian waktu tersebut adalah firman-Nya:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا. الإسراء: 78]
‘Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) Subuh; sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)’ (QS. Al-Isra: 78).”
Syarat kedelapan adalah menghadap kiblat, berdasarkan dalil firman Allah Ta’ala:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ. البقرة: 144
‘Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam; dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arah itu’ (QS. Al-Baqarah: 144).
Syarat kesembilan adalah niat yang tempatnya berada di dalam hati, sementara melafalkannya (secara lisan) adalah bidah (Pendapat syafi’iyah mustahab). Dalilnya adalah hadis:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
‘Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan’.”
Bin Baz Pusat, Sabtu, 16 Mei 2026
الكتاب: ثلاثة الأصول وأدلتها – وشروط الصلاة – والقواعد الأربع
المؤلف: محمد بن عبد الوهاب بن سليمان التميمي النجدي (ت 1206هـ)
الناشر: وزارة الشئون الإسلامية والأوقاف والدعوة والإرشاد – المملكة العربية السعودية
رقم الطبعة: الأولى، 1421هـ
الصفحات: 48
عدد الصفحات: 47
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
تاريخ النشر بالشاملة: 8 ذو الحجة 1431