RIYADHUS SHALIHIN 44 #Kesabaran yang Berbuah Kebaikan#

8 Pembaca

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَشْتَكِي، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ، فَقُبِضَ الصَّبِيُّ، فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ: مَا فَعَلَ ابْنِي؟ قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ ـ وَهِيَ أُمُّ الصَّبِيِّ ـ: هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ. فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ: وَارُوا الصَّبِيَّ، فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: أَعَرَّسْتُمُ اللَّيْلَةَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا; فَوَلَدَتْ غُلَامًا، فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ: احْمِلْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَبَعَثَ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ، فَقَالَ: أَمَعَهُ شَيْءٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، تَمَرَاتٌ، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَضَغَهَا، ثُمَّ أَخَذَهَا مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ، ثُمَّ حَنَّكَهُ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللهِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata: “Dahulu ada putra Abu Thalhah radhiyallahu anhu yang sedang sakit. Kemudian Abu Thalhah pergi (keluar rumah), lalu anak itu meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya: ‘Bagaimana keadaan putraku?’ Ummu Sulaim ibu anak tersebut menjawab: ‘Ia sekarang dalam keadaan yang paling tenang dibanding sebelumnya.’ Lalu Ummu Sulaim menghidangkan makan malam kepadanya, maka Abu Thalhah pun makan malam, kemudian ia menggauli istrinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: ‘Makamkanlah anak itu.’ Keesokan harinya, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut. Nabi bertanya: ‘Apakah kalian berhubungan badan semalam?’ Abu Thalhah menjawab: ‘Ya.’ Beliau berdoa: ‘Ya Allah, berkahilah mereka berdua.’ Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas): ‘Bawalah bayi ini kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.’ Ia juga membekali bayi itu dengan beberapa butir kurma. Nabi bertanya: ‘Apakah dia membawa sesuatu?’ Anas menjawab: ‘Ya, beberapa butir kurma.’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengambil kurma tersebut, mengunyahnya, lalu mengambil (kunyahan tadi) dari mulut beliau dan meletakkannya ke dalam mulut si bayi. Kemudian beliau melakukan tahnik (mengolesi langit-langit mulut bayi dengan kurma) dan memberinya nama Abdullah.” (Muttafaq ‘Alaih).

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: فَرَأَيْتُ تِسْعَةَ أَوْلَادٍ كُلُّهُمْ قَدْ قَرَأُوا الْقُرْآنَ، يَعْنِي مِنْ أَوْلَادِ عَبْدِ اللهِ الْمَوْلُودِ

Dan dalam sebuah riwayat milik Al-Bukhari: Ibnu ‘Uyainah berkata: Seorang laki-laki dari kalangan Anshar berkata: ‘Maka aku melihat sembilan orang anak yang semuanya telah menghafal (membaca) Al-Qur’an, yakni mereka semua adalah anak-anak dari Abdullah (bayi) yang dilahirkan tersebut.

وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: مَاتَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ، فَقَالَتْ لِأَهْلِهَا: لَا تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ، فَجَاءَ، فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ، ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ، فَوَقَعَ بِهَا، فَلَمَّا أَنْ رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ: يَا أَبَا طَلْحَةَ، أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ، أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ؟ قَالَ: لَا، فَقَالَتْ: فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ: فَغَضِبَ، ثُمَّ قَالَ: تَرَكْتِنِي حَتَّى إِذَا تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِي بِابْنِي؟! فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: بَارَكَ اللهُ فِي لَيْلَتِكُمَا قَالَ: فَحَمَلَتْ، قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَهِيَ مَعَهُ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرٍ لَا يَطْرُقُهَا طُرُوقًا، فَدَنَوْا مِنَ الْمَدِينَةِ، فَضَرَبَهَا الْمَخَاضُ، فَاحْتَبَسَ عَلَيْهَا أَبُو طَلْحَةَ، وَانْطَلَقَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: يَقُولُ أَبُو طَلْحَةَ: إِنَّكَ لَتَعْلَمُ يَا رَبِّ أَنَّهُ يُعْجِبُنِي أَنْ أَخْرُجَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ، وَأَدْخُلَ مَعَهُ إِذَا دَخَلَ، وَقَدِ احْتَبَسْتُ بِمَا تَرَى. تَقُولُ أُمُّ سُلَيْمٍ: يَا أَبَا طَلْحَةَ، مَا أَجِدُ الَّذِي كُنْتُ أَجِدُ، انْطَلِقْ، فَانْطَلَقَا، وَضَرَبَهَا الْمَخَاضُ حِينَ قَدِمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا، فَقَالَتْ لِي أُمِّي: يَا أَنَسُ، لَا يُرْضِعُهُ أَحَدٌ حَتَّى تَغْدُوَ بِهِ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ احْتَمَلْتُهُ، فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ

Dalam riwayat Muslim disebutkan: Seorang putra Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya: ‘Jangan kalian beritahu Abu Thalhah tentang putranya sampai aku sendiri yang memberitahunya.’ Lalu Abu Thalhah datang, maka Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam, ia pun makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berhias diri (mempercantik diri) dengan penampilan terbaik yang pernah ia lakukan sebelumnya, lalu Abu Thalhah menggaulinya. Setelah Ummu Sulaim melihat suaminya telah kenyang dan telah menggaulinya, ia pun berkata: ‘Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan barang pinjaman kepada sebuah keluarga, lalu mereka meminta kembali barang tersebut, apakah keluarga itu berhak menghalanginya?’ Abu Thalhah menjawab: ‘Tidak.’ Ummu Sulaim berkata: ‘Maka ikhlaskanlah (pahala) putramu.’ Abu Thalhah pun marah dan berkata: ‘Engkau biarkan aku hingga aku berlumuran (setelah berhubungan badan), baru kemudian engkau memberitahuku tentang putraku?!’ Ia pun berangkat menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamم dan melaporkan apa yang terjadi. Rasulullah bersabda: ‘Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.’ Anas berkata: Lalu Ummu Sulaim hamil. Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang dalam perjalanan (safar) dan Ummu Sulaim ikut bersamanya. Kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika pulang ke Madinah dari perjalanan adalah tidak memasukinya pada malam hari. Ketika mereka sudah dekat dengan Madinah, Ummu Sulaim merasa hendak melahirkan, sehingga Abu Thalhah tertahan (menemani istrinya), sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terus melanjutkan perjalanan. Abu Thalhah berdoa: ‘Ya Tuhanku, Engkau sungguh mengetahui bahwa aku sangat senang untuk keluar bersama Rasulullah jika beliau keluar, dan masuk (ke Madinah) bersama beliau jika beliau masuk, namun aku tertahan karena keadaan yang Engkau lihat ini.’ Lalu Ummu Sulaim berkata: ‘Wahai Abu Thalhah, aku tidak merasakan lagi (sakit) yang tadi kurasakan, ayo jalan.’ Maka keduanya pun berangkat. Rasa sakit hendak melahirkan itu datang lagi tepat saat mereka sampai di Madinah, lalu ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Ibuku (Ummu Sulaim) berkata kepadaku: ‘Wahai Anas, jangan ada seorang pun yang menyusuinya sampai engkau membawanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam besok pagi.’ Ketika pagi tiba, aku menggendongnya dan membawanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam” (dan ia menyebutkan kelanjutan hadis tersebut).

Fawaid Ta’lim

  1. Hadis ini menunjukkan betapa kuat kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim, ketika buah hatinya diambil Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Kecerdikan yang dipadu dengan kesabaran dan ketabahan merupakan suatu perpaduan yang sangat luar biasa, yang hendaknya dimiliki oleh setiap Muslim.
  3. Seorang istri hendaknya pandai memahami sifat suaminya, dan selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik kepadanya.
  4. Salah satu teknik yang sangat cerdas untuk menenangkan suami ketika ada berita yang tidak menyenangkan adalah dengan memberikan servis dan kepuasan kepadanya terlebih dahulu, baru kemudian memberitahukan berita tersebut dengan lembut dan hati-hati.
  5. Mempersiapkan mental seseorang sebelum memberitahukan berita buruk dengan cara mengajak untuk mengembalikan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta mengingatkan bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya melalui logika qiyas (perumpamaan), merupakan salah satu cara terbaik untuk menguatkan hati orang tersebut.
  6. Tauriyah untuk suatu kemaslahatan diperbolehkan dalam Islam dan bukan termasuk sebuah kedustaan.
  7. Tauriyah adalah sebuah teknik berbicara di mana seseorang mengucapkan suatu kalimat yang memiliki dua makna; makna dekat dan makna jauh. Makna dekat: makna yang segera tertangkap oleh pendengar namun bukan itu yang dimaksud oleh pembicara. sedangkan makna jauh; Makna yang sebenarnya dimaksudkan oleh pembicara (namun tersembunyi).
  8. Buah kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musibah adalah mendapatkan ganti yang lebih baik daripada musibah yang dialami. Sebagaimana yang didapatkan oleh Ummu Sulaim dan Abu Thalhah; mereka mendapatkan ganti anak yang saleh dan hebat sebagai hasil dari kesabaran serta ketabahan saat ditinggal wafat anaknya.
  9. Pahala musibah akan diperoleh jika musibah tersebut dihadapi dengan sabar dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala).
  10. Tahnik merupakan salah satu ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu sebuah praktik dalam Islam yang dilakukan terhadap bayi yang baru lahir dengan cara mengunyah kurma hingga halus, kemudian mengoleskan sedikit dari kunyahan tersebut ke langit-langit mulut bayi.
  11. Mencari berkah (tabarruk) melalui zat maupun peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hukumnya diperbolehkan, karena para sahabat telah mempraktikkannya. Namun, hal ini bersifat khusus bagi diri beliau saja dan tidak boleh dianalogikan (qiyas) kepada orang lain, siapa pun mereka.
  12. Tahnik diperbolehkan untuk dilakukan oleh selain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika tujuannya adalah untuk mengikuti sunnah Nabi dan mengambil manfaat dari sari kurma yang telah dikunyah halus, lalu dioleskan ke langit-langit mulut bayi; bukan untuk mencari berkah dari zat atau air liur orang yang melakukannya.
  13. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa yang pasti dikabulkan (mustajab).
  14. Disyariatkan bagi seseorang untuk memilih nama yang terbaik untuk anak-anaknya, bukan memberi mereka nama yang buruk.
  15. Karamah benar-benar ada dalam Islam, yang diberikan kepada orang-orang saleh sebagaimana yang didapatkan oleh Abu Thalhah.
  16. Hadis ini menunjukkan bahwa air liur Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah mengandung barokah.
  17. Kurma juga memiliki barokah.

Oke

Turahmin, BA, M.H., S.Pd.
Bin Baz Pusat, Rabu, 07 Mei 2026.

1/260-270.

Tinggalkan komentar