Fawaid At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an, 07 Mei 2026

21 Pembaca

Fawaid Ta’lim

Seorang dai, penghafal Al-Qur’an, maupun penuntut ilmu, hendaknya senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak mulia sesuai ajaran Islam. Sebab, indahnya ilmu dan hafalan akan semakin terpancar saat tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Seorang dai hendaknya senantiasa menjaga sikap zuhud terhadap dunia serta tidak silau oleh apa yang dimiliki orang lain. Tidak menenggelamkan diri dalam kemewahan duniawi, fokus dakwah akan tetap terjaga demi kemaslahatan umat.

Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga diri dari sikap qila wa qal (menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya), serta wajib menjauhi ghibah.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa menjaga kehormatan dirinya (muru’ah), termasuk dalam memilih mata pencaharian. Dahulu, beberapa profesi dianggap kurang sejalan dengan wibawa penuntut ilmu, seperti, menjadi tukang bekam, jagal hewan, tukang sapu dll; namun hal ini tidaklah mutlak, karena pandangan masyarakat terhadap sebuah profesi sangat bergantung pada tuntutan dan keadaan zaman.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa berbicara dengan penuh sopan santun dan rasa hormat kepada sesama. Hindarilah tutur kata yang kasar maupun yang menyakiti hati (nylekit), agar kemuliaan ilmu terpancar dari kelembutan lisan.

Hendaknya penuntut ilmu tidak berlebihan dalam bercanda dan tertawa, karena berlebihan dalam bercanda dan tertawa dapat mematikan hati, sehingga sulit menerima kebenaran.

Seorang pengajar Al-Qur’an maupun penuntut ilmu hendaknya senantiasa menghiasi diri dengan akhlak mulia. Selain menjaga adab, mereka juga seyogianya memiliki sifat dermawan, agar ilmu yang dimiliki semakin berkah dan memberi manfaat nyata bagi sesama.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa bersikap tenang dan tidak terburu-buru (grusa-grusu). (Ketenangan dalam bersikap akan membantu hati lebih mudah menyerap hikmah dan menjaga kemuliaan ilmu yang sedang dipelajari).

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa menjaga kesucian fitrahnya dan tidak mengabaikannya. Hal ini mencakup menjaga kebersihan badan, senantiasa beraroma harum, serta berpakaian rapi. Selain itu, jangan lupakan sunnah-sunnah fitrah lainnya seperti memotong kumis dan kuku, mencabut rambut ketiak dan mencukur rambut kemaluan, hingga menyisir jenggot agar penampilan tetap terlihat bersahaja dan berwibawa.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa memperhatikan batasan dalam berpenampilan. Hal ini termasuk menghindari kebiasaan mengikat jenggot, serta menjauhi penggunaan emas dan kain sutra, agar tetap terjaga dalam kesederhanaan dan ketuntunan syariat bagi laki-laki.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa membersihkan hati dari sifat iri, hasad, dan dengki. Jangan pula membiarkan kesombongan tumbuh di dalam jiwa hingga suka merendahkan orang lain, sekalipun kepada anak kecil.

Hendaknya seorang penuntut ilmu senantiasa berzikir dengan zikir-zikir yang masyru’ sesuai sunah, serta meninggalkan zikir yang tidak ada contohnya. Demikian pula dalam bershalawat, hendaknya selalu menggunakan shalawat yang disyariatkan—yang paling utama adalah Shalawat Ibrahimiyah—serta menjauhi bentuk-bentuk shalawat yang tidak disyariatkan.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa memanjatkan doa-doa yang telah disyariatkan. Dengan mencukupkan diri pada doa yang bersumber dari tuntunan agama.

Hendaknya seorang penuntut ilmu senantiasa menghadirkan perasaan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesadaran akan kehadiran-Nya dalam setiap keadaan akan menjaga hati dan perbuatan agar tetap berada di jalan yang diridai.

Tinggalkan komentar