# Syarah Mandhumah Qowaid Fiqih Syaikh As-sa’diSyarah 1 #

437 Pembaca


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلهِ الْعَلِيِّ الْأَرْفَقِ                  وَجَامِعِ الْأَشْيَاءِ وَالْمُفَرِّقِ

الحمد kalimat ini merupakan ungkapan pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Zat yang memiliki sifat sempurna tanpa kekurangan sedikit pun. Dialah yang senantiasa melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada setiap hamba, memiliki kedermawanan tanpa batas, serta memiliki hikmah yang sangat luas. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini berada dalam kehendak-Nya dan pasti menyimpan hikmah yang besar; karena sejatinya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Sang Pemilik nama, sifat, dan perbuatan-perbuatan yang sempurna.

Tidak ada satu pun nama-Nya yang tercela, semua nama-nama-Nya adalah Asmaul Husna demikian juga sifat-sifat-Nya tidak ada cela dan kekurangannya sedikit pun, karena sifat-sifat-Nya merupakan sifat-sifat yang Maha Sempurna.

Seluruh perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Indah, karena setiap perbuatan-Nya senantiasa berporos pada keadilan dan kebaikan. Dialah Zat yang Maha Terpuji dalam setiap perbuatan-perbuatan-Nya.

اللَّه (Allah) adalah Zat yang dipertuhankan dan disembah; Zat yang wajib dipertuhankan serta disembah dengan segala jenis ibadah. Tidak boleh ada sesuatu pun yang disekutukan dengan-Nya, karena hanya milik-Nyalah kesempurnaan pujian.

الأَرْفَقِ (Al-Arfaq) adalah Zat yang Maha Lembut dalam segala perbuatan-Nya. Setiap perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengandung kelembutan yang sempurna, serta sarat akan kemaslahatan dan hikmah.

Bukti kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya—yang menunjukkan kesempurnaan Zat, hikmah, serta sifat santun-Nya—dapat dilihat dari cara Dia menciptakan makhluk. Sebagai contoh:

  • Penciptaan Langit dan Bumi: Dia menciptakan alam semesta beserta isinya dalam waktu enam masa, padahal Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap mata.
  • Makhluk Hidup: Demikian pula dalam penciptaan manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam. Dia menciptakannya secara bertahap, sedikit demi sedikit hingga menjadi sempurna, padahal Dia berkuasa untuk menjadikannya sempurna dalam seketika.

Allah tidak melakukan segalanya secara instan semata-mata karena Dialah Zat yang Maha Lembut lagi Maha Bijaksana, (yang menginginkan setiap proses berjalan sesuai dengan hikmah-Nya yang agung).

Hal tersebut merupakan bukti nyata atas kemahalelembutan-Nya; bahwa Dia benar-benar menciptakan makhluk-makhluk-Nya melalui proses yang bertahap, setahap demi setahap.

Hal ini tidaklah menunjukkan pertentangan antara Qudrah (kekuasaan) dan Hikmah-Nya. Sebagaimana pada hakikatnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkuasa memberikan hidayah kepada orang-orang yang sesat, namun Dia tidak memberikannya dan membiarkan mereka dalam kesesatan karena adanya hikmah yang sangat besar di balik itu semua.

Hal tersebut dilakukan berdasarkan keadilan-Nya, bukan karena kezaliman. Sebab, pemberian iman dan petunjuk adalah murni karunia dari-Nya. Maka, jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberikan petunjuk kepada seseorang, hal itu bukanlah sebuah kezaliman—terlebih jika orang tersebut memang enggan menerima nikmat iman dan petunjuk tersebut.

Seluruh sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala pastilah memiliki pengaruh nyata dalam setiap ciptaan dan perintah-Nya; tidak ada satu pun yang saling bertentangan.

Barang siapa yang mampu memahami kaidah dasar yang agung ini, maka akan sirna segala bentuk musykilah atau kerancuan dalam dirinya saat memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dengan pemahaman ini, ia akan mampu menempatkan setiap Nama dan Sifat tersebut pada kedudukan yang semestinya.

وَجَامِعِ الْأَشْيَاءِ وَالْمُفَرِّقِ Kalimat ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Zat yang mengumpulkan berbagai hal pada sesuatu, sekaligus memisahkan banyak hal dari sesuatu yang satu.

Sebagaimana Dia menyatukan seluruh makhluk-Nya dalam satu ikatan sebagai sesama ciptaan dan sama-sama mendapatkan limpahan rezeki, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala pula yang membedakan bentuk serta jenisnya; Dia membedakan antara tinggi dan pendek, hitam dan putih, baik dan buruk, serta berbagai sifat lainnya.

Semua itu bersumber dari kesempurnaan Qudrah serta hikmah-Nya; Dia senantiasa menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya.

Oke

Abu Layla Turahmin, M.H

Senin 01 Juli 2024, 09.56.

Tinggalkan komentar