62 Pembaca
وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ. يُرِيدُ عَيْنَيْهِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
Dari Anas bin Malik —semoga Allah meridainya— ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: ‘Jika Aku menguji hamba-Ku dengan mengambil dua hal yang paling dicintainya (yaitu kedua matanya), lalu ia bersabar, maka Aku akan mengganti kehilangan itu dengan surga-Ku.'” (Hadits Riwayat Imam Bukhari)
Fawaid Hadis
- Hadits ini secara tersirat menunjukkan betapa berharganya nikmat mata.
- Seseorang yang diuji dengan kehilangan penglihatan (sebelumnya bisa melihat kemudian menjadi buta), lalu ia bersabar dan ihtisab (mengharap pahala) atas musibah tersebut, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantinya dengan surga di akhirat kelak.
- Hadits ini juga menunjukkan bahwa kedua mata merupakan sesuatu yang sangat dicintai manusia, dan orang yang kehilangan penglihatannya akan merasakan betapa beratnya ujian tersebut.
- Surga yang menjadi balasan bagi orang yang bersabar dan berihtisab ketika kehilangan kedua matanya adalah jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya; karena surga bersifat kekal, sedangkan dunia bersifat sementara dan fana.
- Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil sesuatu milik seorang hamba, maka Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Oleh karena itu, hendaknya seseorang bersabar dan ihtisab ketika kehilangan sesuatu tersebut.
- Orang yang diberi ujian buta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sering diberikan kelebihan di sisi lain yang tidak dimiliki oleh orang yang mampu melihat. Bahkan, sering kali orang yang buta bisa pergi ke mana-mana dan mengetahui jalan pulang ke rumahnya.
- Hadits ini juga menunjukkan betapa Maha Adilnya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.
- Meskipun pahala orang yang bersabar dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika kehilangan penglihatannya itu sangat besar – bahkan diganjar dengan surga penuh kenikmatan yang jauh lebih baik daripada kedua matanya tersebut – namun, tidak boleh seseorang yang memiliki penglihatan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mencabut nikmat tersebut. Tidak boleh pula ia melakukan hal-hal yang sengaja mengakibatkan hilangnya penglihatan, atau justru menghilangkannya dengan sengaja. Sebab, bagaimanapun juga, nikmat penglihatan jika digunakan untuk ketaatan akan bernilai pahala yang sangat besar.