68 Pembaca
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan (jazā’) yang pantas di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, tatakala Aku mengambil (mematikan) kekasihnya (orang yang sangat dicintainya) di dunia, kemudian ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah, kecuali ia akan mendapatkan Surga.” (HR. Bukhari)
Fawaid Hadis
- Hadis yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menukil firman Allah Subhanahu wa ta’ala – sebagaimana yang termaktub dalam riwayat ini – disebut sebagai Hadis Qudsi.
- Yang dimaksud dengan shafiyyuhu (صَفِيُّهُ) dalam hadis ini adalah orang yang memiliki hubungan sangat erat dengan seseorang, seperti: anak, saudara laki-laki, paman, ayah, ibu, atau teman dekat.
- Seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya—baik anak, ayah, ibu, paman, saudara laki-laki, saudari perempuan, sahabat dekat, maupun keluarga lainnya—kemudian ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas musibah tersebut, maka ia akan mendapat balasan berupa surga yang dijanjikan-Nya.
- Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan kesabaran ketika tertimpa musibah.
- Hadis ini juga menunjukkan betapa besar karunia dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Meskipun segala sesuatu – termasuk orang-orang yang kita cintai – adalah milik-Nya, namun ketika Dia mengambil mereka, lalu kita bersabar dan mengharap pahala (ihtisab), Allah justru memberikan balasan berupa surga.
- Hadis ini menunjukkan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat fi’liyah (perbuatan). Hal itu tercermin dalam firman-Nya: ‘Jika Aku mengambil orang yang sangat dicintainya.’ Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya.
- Semua perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah baik; tidak ada perbuatan-Nya yang buruk. Meskipun suatu kejadian dipandang buruk dari sisi manusia yang tertimpa musibah, namun pada hakikatnya semua itu baik karena setiap perbuatan-Nya mengandung hikmah yang sangat agung—baik bagi orang yang terkena musibah itu sendiri maupun bagi orang lain secara umum.
- Terkadang musibah itu baik bagi orang yang mengalaminya—terutama jika ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di sisi lain, terkadang kematian seseorang membawa kebaikan bagi masyarakat umum, terutama jika sosok yang meninggal tersebut berperangai buruk dan selalu merugikan orang lain.
- Musibah sering kali membawa kebaikan, terutama untuk mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat diambil-Nya kapan pun Dia berkehendak. Demikian pula bagi mereka yang bergelimang nikmat; musibah hadir sebagai peringatan agar tidak lupa diri, sehingga tidak tertipu oleh gemerlap dunia.
- Musibah juga berfungsi sebagai pengingat bagi manusia, bahwa segala sesuatu akan kembali kepada-Nya, dan sungguh, tidak ada tempat kembali serta tempat berlindung yang hakiki selain kepada-Nya.
- Hadits ini dicantumkan dalam ‘Bab Sabar’ untuk menegaskan betapa pentingnya kedudukan sabar dalam menghadapi ujian. Sabar yang diiringi dengan ihtisab (mengharap pahala semata-mata dari Allah) inilah yang akan membuahkan balasan tertinggi berupa surga.
- Hadis ini hadir sebagai solusi bagi siapa pun yang sedang berduka karena kehilangan orang tercinta, agar ia mampu mengubah luka hatinya menjadi jalan menuju surga.