RIYADHUS SHALIHIN 31 # Sabar Ketika Pertama Kali Tertimpa Musibah #

15 Pembaca

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ، فَقَالَ: اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي، فَقَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي، وَلَمْ تَعْرِفْهُ، فَقِيلَ لَهَا: إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ، فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفْكَ، فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita: Suatu hari Nabi Muhammad ﷺ berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu di sebuah kuburan. Melihat hal itu, Nabi memberi nasihat lembut: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Karena sedang sangat sedih dan tidak menoleh, wanita itu menjawab dengan ketus: “Pergilah dariku! Kamu tidak merasakan musibah yang aku alami!” Ia tidak menyadari bahwa yang menegurnya adalah Rasulullah. Beberapa saat kemudian, ada orang yang memberi tahu wanita itu: “Tadi itu adalah Nabi ﷺ.” Wanita itu pun terkejut dan merasa bersalah. Ia segera mendatangi rumah Nabi ﷺ dan ternyata di sana tidak ada penjaga pintu sama sekali (siapa pun boleh masuk). Ia berkata kepada Nabi: “Maafkan aku, tadi aku tidak mengenalmu.” Nabi ﷺ kemudian memberikan pelajaran berharga: “Sesungguhnya sabar yang sebenarnya adalah yang dilakukan saat pertama kali musibah itu datang.” (HR. Bukhari & Muslim).

Fawaid Hadis

  1. Hadits ini menunjukkan betapa besarnya perhatian dan kepedulian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada setiap orang, bahkan kepada orang asing yang sedang mengalami kesedihan mendalam sekalipun.
  2. Nasihat yang paling utama bagi setiap orang adalah nasihat takwa, sebagaimana yang disampaikan Nabi ﷺ kepada wanita yang tengah mengalami kesedihan mendalam tersebut. Sebab, takwa adalah pondasi utama agar seseorang mampu bersabar.
  3. Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya kesabaran saat ditimpa musibah. Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ memberikan nasihat kesabaran kepada wanita tersebut, karena sabar adalah kunci kekuatan bagi siapa pun yang sedang diuji dengan kesedihan.
  4. Terkadang, orang yang sedang mengalami kesedihan mendalam lupa untuk bersabar. Bahkan saat dinasihati untuk bertakwa dan bersabar, mereka tidak menghiraukannya. Mereka sering menganggap si pemberi nasihat bisa berbicara seperti itu hanya karena tidak merasakan betapa beratnya musibah yang sedang mereka alami.
  5. Terkadang, musibah yang dialami seseorang terasa begitu berat hingga ia seolah kehilangan pegangan hidup. Pada saat kritis itulah, ia sangat membutuhkan dukungan dan penguat dari orang lain untuk membantunya berdiri kembali.
  6. Ketika seseorang memberikan nasihat kepada orang lain yang sedang tertimpa musibah, lalu nasihat itu tidak dihiraukan, hendaknya ia tidak merasa tersinggung dan tetap memaklumi kondisi tersebut. Hal yang paling utama adalah ia telah menunaikan kewajibannya untuk peduli dan memberikan nasihat.
  7. Sesungguhnya kesabaran yang bernilai tinggi di sisi Allah Subhanahu Ta’ala dan dijanjikan pahala besar adalah kesabaran pada saat pertama kali musibah itu datang. Hal ini sebagaimana penjelasan Rasulullah ﷺ kepada wanita tersebut, yang akhirnya datang meminta maaf setelah sebelumnya sempat menolak nasihat Beliau.
  8. Kesabaran yang dijanjikan pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kesabaran yang disertai ihtisab (mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala).
  9. Hadis ini menunjukkan betapa mulianya ahlak Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan metode dakwah yang dilakukannya: beliau tetap peduli, tidak lekas tersinggung, dan memberikan nasihat dengan cara yang sangat manusiawi.
  10. Hadits ini juga menunjukkan adanya prinsip uzur bil jahli, yaitu pemberian uzur atau pemakluman bagi seseorang karena ketidaktahuannya. Hal ini terlihat ketika Nabi ﷺ tidak menghukum atau memarahi wanita tersebut meskipun ia telah bersikap kurang sopan kepada beliau.
  11. Hadits ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin hendaknya bersikap terbuka, mudah ditemui, dan peka terhadap kebutuhan masyarakatnya. Seorang pemimpin tidak boleh membangun sekat yang membuat dirinya sulit dijangkau oleh rakyat yang membutuhkan bantuannya.
  12. Kesabaran yang paling terpuji dan bernilai di sisi Allah adalah kesabaran yang dilakukan tepat saat pertama kali musibah menimpa. Di saat itulah seseorang bersabar dengan mengharap pahala (ihtisab) dan meyakini bahwa segala yang diambil maupun yang diberikan adalah milik Allah semata. Itulah momen di mana iman seseorang benar-benar diuji.
  13. Menangis secara berlebihan hingga meratap di sisi kuburan dapat menghilangkan esensi kesabaran. Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ menasihati wanita tersebut agar bertakwa dan bersabar, karena kesedihannya saat itu telah melampaui batas yang wajar dan mengarah pada sikap tidak rida terhadap takdir Allah.
  14. Hendaknya orang yang tertimpa musibah, dalam bentuk apa pun, senantiasa bersabar serta menerima ketetapan tersebut dengan ridha dan lapang dada. Sebab, di balik setiap ujian, Allah selalu menyertakan hikmah dan pahala bagi mereka yang tetap teguh hatinya.
  15. Cara untuk memberikan manfaat kepada mayit bukan dengan cara meratapi kepergiannya, melainkan dengan mendoakannya. Doa yang tulus adalah hadiah yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang telah tiada, jauh lebih bermanfaat daripada sekadar tetesan air mata kesedihan.

Tinggalkan komentar