Riyadhus Shalihin 22 #Taubat dari Zina#

68 Pembaca

وَعَنْ أَبِي نُجَيْدٍ -بِضَمِّ النُّونِ وَفَتْحِ الْجِيمِ- عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ الْخُزَاعِيِّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى، فَقَالَتْ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ. فَدَعَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا فَقَالَ: ((أَحْسِنْ إِلَيْهَا، فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي)) فَفَعَلَ. فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشُدَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ، ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ؟ قَالَ: ((لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى؟!)) (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Dari Abu Nujaid, yaitu ‘Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ada seorang wanita dari kabilah Juhainah mendatangi Nabiyullah ﷺ dalam keadaan hamil karena zina.

Wanita itu berkata: ‘Wahai Nabiyullah, aku telah melakukan perbuatan yang mengharuskan hukuman (had), maka tegakkanlah hukuman itu atasku.’ Lalu Nabiyullah ﷺ memanggil wali (keluarga) wanita tersebut dan berpesan: ‘Berbuat baiklah kepadanya. Jika ia telah melahirkan, maka bawalah dia kembali kepadaku.’

Wali itu pun melaksanakannya. (Setelah melahirkan), Nabi ﷺ memerintahkan agar pakaian wanita itu diikat kuat-kuat ke tubuhnya, kemudian beliau memerintahkan agar ia dirajam, lalu beliau menyalatkannya.

Umar bertanya: ‘Engkau menyalatkannya wahai Nabiyullah, padahal ia telah berzina?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Sungguh, ia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya taubat itu mencukupi mereka semua. Adakah engkau temukan taubat yang lebih utama daripada seseorang yang menyerahkan nyawanya demi Allah Ta’ala?!'” (HR. Muslim).

Fawaid Hadis

  1. Zina merupakan dosa besar dan pelakunya jika telah menikah (mukhson) mendapat hukum had rajam.
  2. Hukum rajam dahulu disebutkan dalam Al-Qur’an. Akan tetapi, kemudian ayatnya di-nasakh (dihapus secara teks bacaan), namun hukumnya tetap berlaku hingga sekarang.
  3. Hukum rajam telah dipraktikkan pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, masa Khulafaur Rasyidin, serta pada masa para sahabat lainnya.
  4. Orang yang sudah atau pernah menikah (muhshan) kemudian melakukan zina hukumannya dirajam (dilempari) dengan menggunakan batu yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Hukuman ini dilakukan agar pelaku merasakan pedihnya hukum tersebut pada seluruh tubuhnya, karena saat berzina, seluruh anggota tubuhnya merasakan kenikmatan dari perbuatan haram itu.
  5. Cara melakukan hukum rajam adalah dengan membawa terhukum ke tanah lapang, di mana orang-orang berkumpul untuk melemparinya dengan batu hingga meninggal dunia. Jika terhukum adalah seorang wanita, maka pakaiannya harus diikat kuat terlebih dahulu agar auratnya tetap terjaga dan tidak tersingkap (saat hukuman berlangsung).
  6. Para ulama berpendapat tidak diperbolehkan menegakkan hukum rajam dengan menggunakan batu besar karena akan menyebabkan terhukum terlalu cepat mati, sehingga tidak merasakan pedihnya hukuman sebagai bentuk penebusan dosa tersebut.
  7. Demikian juga tidak boleh menghukum rajam dengan menggunakan batu terlalu kecil, karena akan memperlambat kematian dan akan menyebabkan penderitaan terlalu lama.
  8. Hadis ini menunjukkan bolehnya seseorang mengaku telah melakukan perbuatan zina di hadapan hakim (qadhi) dengan tujuan agar disucikan, bukan dalam rangka membongkar aibnya sendiri.
  9. Hal ini berbeda dengan orang yang mengaku telah berbuat zina di hadapan semua orang. Perbuatan itu dilarang karena termasuk membongkar aib sendiri dan tergolong sebagai orang yang melakukan dosa secara terang-terangan (mujahirin), meskipun sebelumnya dosa tersebut tidak diketahui oleh orang lain.
  10. Orang yang berbuat zina kemudian menyesali perbuatannya dengan taubat nasuha serta yakin tidak akan terjerumus kembali, lebih baik menutup rapat aibnya sendiri dan tidak perlu melapor kepada hakim. Namun, bagi mereka yang bertaubat tetapi khawatir akan terjatuh kembali ke dalam kemaksiatan tersebut, maka diperbolehkan baginya pergi ke hakim untuk diadili demi menyucikan diri.
  11. Taubat dari perbuatan zina kemudian mengaku di hadapan hakim agar disucikan dengan cara dirajam merupakan perbuatan yang sangat mulia dan menunjukkan betapa tulus taubatnya itu.
  12. Tidak diperbolehkan mencela orang lain yang terjatuh ke dalam perbuatan dosa, terlebih jika orang tersebut telah bertaubat dengan taubat nasuha.

Tinggalkan komentar