Menjadi Permata Terindah di Akhir Zaman

21 Pembaca

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ. وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى نَبِيِّ الْهُدَى، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ

Ibu-Ibu, dan Saudari-saudariku sekalian yang saya muliakan.

Pertama-tama, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Alhamdulillah, siang ini kita masih diberi napas dan umur panjang. Allah masih sayang kepada kita dengan memberikan begitu banyak nikmat: nikmat sehat, nikmat badan yang masih kuat, nikmat keluarga yang rukun, hingga nikmat rezeki yang kita terima sampai hari ini.

Kalau kita mau jujur, kita tidak akan sanggup menghitung satu-persatu apa saja yang sudah Allah kasih buat kita. Bahkan sekadar nikmat bisa melihat dan nikmat bisa menggerakkan tangan atau kaki kita, itu semua adalah pemberian Allah yang luar biasa.

Tapi yang paling utama dari itu semua adalah nikmat Iman dan nikmat Islam. Inilah harta kita yang paling berharga, yang harus kita jaga baik-baiknya sampai kita meninggal dunia nanti.

Kemudian, saya ingin mengajak diri saya sendiri dan juga Ibu-ibu, Saudari-saudari semua, mari kita sama-sama berusaha jadi orang yang lebih bertakwa. Karena jujur saja, di dunia yang sudah banyak ujian seperti sekarang, tidak ada bekal yang paling mantap dan paling menyelamatkan kita selain ketakwaan kita kepada Allah.”

Permata adalah perhiasan yang sangat indah dan mahal. Ia memiliki keistimewaan yang sangat banyak; siapapun yang memilikinya, pasti akan merasa sangat bangga dan bahagia. Permata adalah simbol status dan keindahan, memiliki nilai yang sangat tinggi, memiliki ketahanan yang luar biasa dan langka.

Demikian juga dengan seorang wanita; ia memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam syariat Islam. Mereka dimuliakan, dihormati, dan diberikan hak-hak yang sangat besar. Apalagi jika wanita tersebut adalah sosok wanita yang sholehah—wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tunduk dan patuh kepada suaminya, serta senantiasa menjaga hak-hak suaminya dengan penuh keikhlasan.

Wanita yang senantiasa menjaga lisan dan perbuatannya dalam beribadah kepada Allah SWT adalah ibarat permata yang sangat indah. Keberadaannya bukan sekadar hiasan lahiriah, melainkan cahaya bagi rumah tangga dan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Bahkan, ia merupakan perhiasan terindah yang ada di dunia ini. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, bahwa dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholehah.

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، ‌وَخَيْرُ ‌مَتَاعِ ‌الدُّنْيَا ‌الْمَرْأَةُ ‌الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan (kesenangan), dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholehah.” HR: Muslim: 4/178/1467.

Benar sekali apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa perhiasan dunia terbaik bagi seorang lelaki adalah wanita yang sholehah.

Sebab, ketika seseorang memiliki istri yang sholehah, maka kehidupannya akan menjadi tenang, tentram, indah, dan terasa sangat menyenangkan saat dijalani. Kehadirannya menjadi penyejuk hati dalam setiap keadaan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan seseorang yang memiliki istri yang tidak sholehah; hidupnya akan terasa gersang, hambar, dan tidak menyenangkan untuk dilalui.

Oleh karena itu, setiap wanita hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi wanita yang sholehah. Terlebih di akhir zaman seperti sekarang ini, di mana fitnah begitu dahsyat merajalela di mana-mana. Fitnah ini sangat sulit untuk dibendung, bahkan bisa mengenai siapa saja, terutama kaum wanita yang seringkali memiliki perasaan yang lembut dan mudah sekali tergoda oleh gemerlapnya dunia.

Apalagi jumlah kaum wanita saat ini lebih banyak daripada kaum laki-laki. Tanpa benteng iman dan keshalihan yang kuat, sangat mudah bagi seorang untuk terhanyut dalam arus zaman yang menjauhkannya dari ridha Allah SWT.

Terkait hal ini, banyak hadis yang menjelaskan bahwa di akhir zaman jumlah wanita akan jauh lebih banyak daripada jumlah kaum laki-laki. Kenyataan ini bukanlah sekadar perkiraan manusia, melainkan kabar dari baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar kita semua lebih waspada. Berikut ini adalah di antara hadis-hadis yang menjelaskan tentang kondisi tersebut.

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحَوْضِيُّ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يُحَدِّثُكُمْ بِهِ أَحَدٌ غَيْرِي: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ‌إِنَّ ‌مِنْ ‌أَشْرَاطِ ‌السَّاعَةِ ‌أَنْ ‌يُرْفَعَ ‌الْعِلْمُ، ‌وَيَكْثُرَ ‌الْجَهْلُ، ‌وَيَكْثُرَ ‌الزِّنَا، ‌وَيَكْثُرَ ‌شُرْبُ ‌الْخَمْرِ، ‌وَيَقِلَّ ‌الرِّجَالُ، ‌وَيَكْثُرَ ‌النِّسَاءُ، ‌حَتَّى ‌يَكُونَ ‌لِخَمْسِينَ ‌امْرَأَةً ‌الْقَيِّمُ ‌الْوَاحِدُ. رواه البخاري: 5/2005/4933.

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar Al-Haudzi, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Sungguh, aku akan menceritakan kepada kalian sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ, yang tidak akan diceritakan oleh orang lain selain aku. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu (agama), merajalelanya kebodohan, maraknya perzinaan, banyaknya orang minum minuman keras, sedikitnya jumlah laki-laki, dan banyaknya jumlah wanita, sampai-sampai lima puluh orang wanita hanya memiliki satu orang laki-laki sebagai pengurusnya.”

وَعَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” ‌لَا ‌تَقُومُ ‌السَّاعَةُ ‌حَتَّى ‌يُدَبِّرَ ‌الرَّجُلُ ‌أَمْرَ ‌خَمْسِينَ ‌امْرَأَةً» “. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَفِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الرَّمْلِيُّ وَلَمْ أَعْرِفْهُ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ.

Dan dari Ka’ab bin ‘Ujrah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat hingga seorang laki-laki mengurus urusan lima puluh orang wanita.’ (Hadits ini) diriwayatkan oleh At-Thabrani. Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin ‘Isa ar-Ramli yang tidak aku kenali, namun perawi lainnya adalah orang-orang yang terpercaya (tsiqat).”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ (‌لَيَأْتِيَنَّ ‌عَلَى ‌النَّاسِ ‌زَمَانٌ، ‌يَطُوفُ ‌الرَّجُلُ ‌فِيهِ ‌بِالصَّدَقَةِ ‌مِنَ ‌الذَّهَبِ، ‌ثُمَّ ‌لَا ‌يَجِدُ ‌أَحَدًا ‌يَأْخُذُهَا ‌مِنْهُ، ‌وَيُرَى ‌الرَّجُلُ ‌الْوَاحِدُ ‌يَتْبَعُهُ ‌أَرْبَعُونَ ‌امْرَأَةً ‌يَلُذْنَ ‌بِهِ، ‌مِنْ ‌قِلَّةِ ‌الرِّجَالِ ‌وَكَثْرَةِ ‌النِّسَاءِ). رواه البخاري: 2/513/1348.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-‘Ala’: Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Sungguh akan datang suatu zaman kepada manusia, di mana seseorang berkeliling membawa sedekah emasnya, namun ia tidak menemukan seorang pun yang mau menerimanya. Dan terlihat seorang laki-laki diikuti oleh empat puluh wanita yang mencari perlindungan kepadanya, dikarenakan sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya jumlah wanita.’

Mengingat hadis di atas, maka menjadi wanita yang sholehah merupakan sesuatu yang sangat penting—bahkan bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang mendesak.

Tujuannya tidak lain agar para wanita sekalian dapat menempati kedudukan yang mulia sebagai perhiasan terbaik di dunia ini, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah keramaian fitnah akhir zaman dan banyaknya jumlah kaum wanita, hanya mereka yang sholehah-lah yang akan tetap bercahaya dan tidak terombang-ambing oleh keadaan. Menjadi sholehah adalah cara satu-satunya agar seorang wanita tidak hanya menjadi bagian dari statistik angka, tetapi menjadi sosok yang berharga dan dirindukan oleh surga

Menjadi sholehah bukan berarti menjadi sempurna tanpa salah, melainkan terus berusaha memperbaiki diri, menjaga ketaatan kepada Allah, dan memberikan pengabdian terbaik bagi keluarga. Itulah kilauan permata yang sebenarnya, yang keindahannya akan tetap abadi hingga ke jannah-Nya nanti.

Agar seorang wanita bisa menjadi wanita sholehah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang merupakan perhiasan dunia terbaik—maka ia harus mau berusaha untuk belajar. Ia perlu mempelajari apa saja sifat-sifat wanita sholehah, kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, keshalihan itu tidak datang tiba-tiba, tapi lewat ilmu dan pembiasaan. Di antara ciri-ciri utama wanita sholehah adalah sebagai berikut:

1. Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya SHallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Ciri pertama adalah menempatkan cinta kepada Allah di atas segalanya. Artinya, segala sesuatu yang dilakukan—baik itu dalam urusan rumah tangga maupun kehidupan sehari -hari- niatnya adalah untuk mencari ridha Allah. Jika sudah cinta, maka menjalankan perintah-Nya pun tidak akan terasa berat, bahkan akan terasa nikmat dan mudah, cinta ibaratnya pohon yang ada di dalam hati, sebagaimana yang diibaratkan oleh Ibnul Qoyyim Rahimahullahu Ta’ala,

فَالْمَحَبَّةُ شَجَرَةٌ فِي الْقَلْبِ، عُرُوقُهَا الذُّلُّ لِلْمَحْبُوبِ، وَسَاقُهَا مَعْرِفَتُهُ، وَأَغْصَانُهَا خَشْيَتُهُ، وَوَرَقُهَا الْحَيَاءُ مِنْهُ، وَثَمَرَتُهَا طَاعَتُهُ، وَمَادَّتُهَا الَّتِي تَسْقِيهِ ذِكْرُهُ، فَمَتَى خَلَا الْحُبُّ عَنْ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ كَانَ نَاقِصًا. روضة المحبين ونزهة المشتاقين: 409

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata: “Cinta kepada Allah itu ibarat sebuah pohon di dalam hati; akarnya adalah ketundukan kepada yang dicintai-Nya, batangnya adalah mengenal Allah, dahannya adalah rasa takut kepada-Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buahnya adalah ketaatan kepada-Nya, dan air yang menyiramnya adalah dzikir kepada Allah. Sehingga, jika salah satunya saja hilang, maka berkuranglah kesempurnaan cinta tersebut.” Raudhatul Muhibbin: 409.

Cinta ibarat pohon yang ada di dalam hati, wanita sholehah yang telah benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, akan tampak dari perilakunya sehari-hari. Ia akan menjadi pribadi yang semangat dalam beribadah dan menjaga akhlaknya, akan tunduk merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mengenal Tuhannya, Memiliki rasa Khosyah (takut) kepada Allah, memeiliki rasa malu yang besar dan rajin berzikir kepada-Nya. Di antara tanda-tanda nyata dari kecintaan tersebut adalah:

  1. Berpakaian Syar’i sesuai Aturan Allah: Ia teguh memakai pakaian yang telah ditetapkan syariat, meskipun terkadang pakaian tersebut tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya atau tren dunia, karena baginya ridha Allah adalah segalanya.
  2. Semangat Mentadabburi Al-Qur’an: Ia tidak hanya sekadar membaca, tapi berusaha memahami dan meresapi setiap ayat Allah untuk dijadikan pedoman hidup.
  3. Gemar Mengamalkan Ibadah Sunnah: Selain yang wajib, ia juga rajin mengerjakan amalan sunnah seperti puasa, shalat tahajud, sedekah, dan amal kebaikan lainnya sebagai bukti cintanya kepada Allah.
  4. Banyak Berdzikir kepada Allah: Hatinya senantiasa terpaut kepada Allah, dan lisannya selalu basah dengan dzikir, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
  5. Setia Mengikuti Tuntunan Nabi SAW: Dalam segala hal, ia selalu berusaha mencontoh cara hidup dan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Mendahulukan Sabda Rasulullah di Atas Segalanya: Ia tidak mau mendahulukan pendapat atau perkataan siapa pun jika hal itu bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  7. Mencari Lingkungan yang Baik: Ia selalu berusaha untuk berkumpul dan membersamai wanita-wanita sholehah yang ahli dalam beragama, karena ia tahu bahwa teman yang baik akan membawanya semakin dekat kepada Allah.
  8. Sering Mengingat Kematian: Ia sadar bahwa dunia ini hanya sementara, sehingga ia sering mengingat mati dan mampu mengambil pelajaran berharga dari setiap kematian untuk memperbaiki bekal akhiratnya.

2. Selalu Merasa Diawasi Allah (Muroqobatullah)

Wanita sholehah itu selalu ingat bahwa Allah melihat apa yang ia kerjakan, baik saat ia sedang di tengah keramaian maupun saat sendirian di dalam rumah. Rasa merasa diawasi ini membuatnya terjaga dari perbuatan yang sia-sia atau dilarang oleh agama.

Berbeda dengan wanita yang tidah shalihah ia cenderung mudah untuk menerjang larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan kadang sering tidak peduli dengan larangan-larangannya yang penting keinginan hawa nafsunya terpenuhi.

Wanita shalihah akan pandai menjadi pandangan matanya dan juga kehormatannya, lahir batin bersih dan suci, tidak terkotori hawa nafsu, sehingga Allah pun mencintainya dan tidak murka kepadanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ تَعَالَى حَقَّ الْحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَلْيَحْفَظِ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْيَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

Malu-lah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu, barangsiapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu, maka hendaknya ia menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta apa yang dikandungnya, senantiasa mengingat kematian dan hancurnya jasad di dalam kubur, serta barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat niscaya ia akan meninggalkan gemerlap perhiasan dunia, sehingga siapa pun yang telah melakukan hal tersebut, maka sungguh ia telah memiliki rasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.

Wanita shalihah akan malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika sampai melakukan perbuatan yang melanggar larangan-larangan-Nya.

3. Bersungguh-sungguh Untuk Mengalahkan Hawa Nafsunya

Hawa nafsu seringkali mengajak kepada kesenangan dunia yang sesaat, seperti rasa malas beribadah atau keinginan untuk pamer (riya). Wanita sholehah adalah ia yang kuat dan berani berkata “tidak” pada nafsunya demi menjaga ketaatannya kepada Allah.

Wanita sholehah akan berjuang untuk menundukkan hawa nafsunya. Dia tidak akan mengikuti apa keinginan hawa nafsu itu; dia akan berusaha sekuat tenaga untuk lebih memilih ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada mengikuti hawa nafsunya.

Dia akan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah, selalu mengoreksi dirinya, dan jika ada kekurangan, dia akan segera memperbaikinya. Dia tidak takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela selama ia berada di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan terus-menerus berjuang dan berusaha melaksanakan ketentuan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ditetapkan untuk dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

(Wahai Dawud,) sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” Shad: 26.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menyambut (tantangan)-mu, maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” QS: Al-Qoshosh: 50.

4. Tidak Mengikuti Langkah-Langkah Setan

Setan seringkali masuk lewat pintu-pintu yang halus, seperti mengajak untuk bergosip (ghibah), iri hati, atau mulai meninggalkan hijabnya. Wanita sholehah selalu waspada dan segera beristighfar jika merasa mulai terbawa oleh godaan-godaan tersebut.

Wanita sholehah tidak akan mengikuti langkah-langkah setan. Dia akan berusaha selalu waspada dari bisikan-bisikan setan, karena dia mengetahui dengan pasti bahwa setan adalah musuh bagi manusia.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa setan tidak mungkin mengajaknya kepada kebaikan. Jika setan membisikkan sesuatu, dia pasti yakin bahwa bisikan itu adalah keburukan, sehingga dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengikutinya. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ. فاطر: 6

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” QS: Fathir: 6.

Setan kadang-kadang mendatangi wanita muslimah dan memperingatkannya agar jangan sampai mengenakan hijab, serta jangan terlalu kuat dalam memegang teguh agamanya. Namun, wanita sholehah akan menyadari bahwa itu merupakan bisikan setan dan ia tidak akan mengikutinya.

Setan biasanya akan memberikan bisikan-bisikan buruk, terutama kepada wanita-wanita yang mulai konsisten mengenakan hijab. Setan tidak suka melihat wanita berhijab; ia tidak senang melihat wanita mengenakan hijab yang sesuai dengan syariat (hijab syar’i). Setan justru lebih suka jika wanita itu ‘berpakaian tetapi telanjang’.

Nah, untuk menghilangkan bisikan-bisikan setan tersebut, dapat dilakukan dengan beberapa langkah:

  1. Menanamkan rasa hormat dan cinta yang besar terhadap segala aturan dan simbol agama dalam hati dan kehidupan sehari-hari.
  2. Memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
  3. Membaca Ta’awudz setiap kali merasakan bisikan atau godaan yang datang ke dalam hati.
  4. Membaca Ayat Kursi ketika hendak tidur.
  5. Membaca Surat Al-Baqarah: Sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.
  6. Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah: Dilakukan setiap malam, karena siapa pun yang membacanya akan diberi kecukupan dan perlindungan oleh Allah.
  7. Membaca Kalimat Tauhid 100 Kali: Membaca “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir” sebanyak 100 kali dalam sehari. Orang yang membacanya akan dijaga oleh Allah dari setan sejak pagi sampai sore hari.
  8. Memperbanyak Dzikir kepada Allah: Senantiasa membasahi lisan dengan dzikir, karena hati yang sibuk mengingat Allah tidak akan memberi ruang bagi setan untuk masuk.
  9. Berwudhu dan Mengerjakan Shalat: Wudhu dapat memadamkan api amarah dan godaan setan, sementara shalat adalah penghubung terkuat seorang hamba dengan Penciptanya.
  10. Menjaga Pintu Masuk Setan: Tidak mengumbar pandangan, menjaga pembicaraan, mengatur pola makan (tidak berlebihan), serta tidak terlalu banyak bergaul dalam hal yang tidak bermanfaat. Setan biasanya masuk dan menipu manusia melalui pintu-pintu tersebut.
  11. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala: Wanita muslimah yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah. Pengagungan ini akan mengantarkannya kepada ketaatan yang mutlak; ketaatan yang didasari oleh ketundukan, kesucian, dan rasa cinta hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Ia mengagungkan aturan Allah dengan cara menjauhi apa yang dilarang-Nya, tidak melakukan kemaksiatan, jujur dalam berbicara, serta menjunjung tinggi agama Allah yang telah diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia akan senantiasa menjaga shalatnya, menjaga hijabnya, serta menjaga lisan dan auratnya. Itulah bentuk nyata dalam mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.’ (QS. Al-Hajj: 32). Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.’ (QS. Al-Hajj: 32) Menanamkan rasa hormat dan cinta yang besar terhadap segala aturan dan simbol agama dalam hati dan kehidupan sehari-hari. Ia sangat menghargai dan memuliakan segala aturan agama. Mulai dari menghormati waktu shalat, memuliakan Al-Qur’an, hingga menjaga auratnya dengan benar. Baginya, aturan Allah adalah kehormatan yang harus dijaga setinggi-tingginya.

Demikianlah pembahasan kita tentang menjadi permata terindah di akhir zaman. Hendaknya setiap wanita muslimah berusaha untuk menjadi permata tersebut dengan cara menjadi wanita yang sholehah.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya, bahwa dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholehah.

Semoga dengan pembahasan ini, dapat memotivasi Ibu-ibu dan Saudara-saudari sekalian untuk terus berjuang menjadi wanita-wanita sholehah, sehingga kelak bisa mendapatkan derajat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

وَالَسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Turahmin, BA. S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, DIY, Selasa 9 April 2026.

Rujukan : https://www.alukah.net/sharia/0/122057/

Tinggalkan komentar