Daurah Bin Baz 16 Desember 2025

53 Pembaca

Fawaid Taklim

  1. Alasan pemahaman para sahabat sebagai dasar untuk memahami al-Quran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah pertama: mereka orang-orang yang terpilih menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam, kedua: mereka orang-orang yang paling paham maksud dari al-Quran dan Sunnah, ketiga mereka orang-orang yang paling paham bahasa Arab setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, keempat mereka orang-orang yang paling sedikit perselisihannya, kelima Rasulullah shalallahu alaihi wa salam telah memerintahkan umatnya untuk berpegang dengan Sunnah khulafaurrasyidin, keenam mereka adalah generasi terbaik setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
  2. Mengikuti jejak para sahabat dalam beribadah merupakan jalan keselamatan. Ikuti dan jangan membuat sesuatu yang baru dalam agama ini (Islam).
  3. Usul Ahlussunnah berpegang teguh dengan Sunnah dengan pemahaman para sahabat, meninggalkan bid’ah dan menghindari permusuhan dan debat kusir tanpa guna.
  4. Berdebat diperbolehkan jika memang tujuannya untuk menampakkan kebenaran atau membantah kesesatan.
  5. Tidak diperbolehkan mengamalkan al-Quran dan As-Sunnah dengan cara pilah pilih yang sesuai dengan hawa nafsunya, jika sesuai dengan hawa nafsunya dilaksanakan dan jika tidak sesuai dengan hawa nafsunya ditinggalkan.
  6. Dalam masalah akidah Ahlussunnah wal jama’ah menetapkan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala sesuai dengan apa yang ditetapkan dalam al-Quran dan As-Sunnah, berbeda dengan kelompok lain yang menolak dan tidak menetapkannya atau menetapkannya tetapi hanya sebagian dan menolak sebagian lainnya karena dianggap tidak sesuai.
  7. Tidak boleh menetapkan masalah akidah dengan akal karena penetapannya harus berdasarkan dalil.
  8. Segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
  9. Alkah mengetahui segala sesuatu baik secara global Maupun secara rinci dan laiking rinci sekali pun.
  10. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, bagaimana terjadinya kalau sesuatu itu terjadi dan bagaimana kalau sesuatu itu tidak terjadi dan apa akibatnya.
  11. Aegala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini terjadi karena kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.
  12. Allah subhanahu wa ta’alai menciptakan kebaikan dan keburukan untuk suatu hikmah yang sangat besar.
  13. Seluruh perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala sama sekali tidak ada yang sia-sia, seluruhnya mengandung manfaat dan hikmah yang besar.
  14. Muktazilah disebut qadariyah karena mereka mengingkari taqdir, mereka mengingkari perbuatan hamba.

Tinggalkan komentar