RIYADHUS SHALIHIN 43 #Menyelami Faedah Hadis: Antara Ujian Dunia dan Pahala Akhirat#

15 Pembaca

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia (atas dosa-dosanya). Namun, apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Allah akan menangguhkan hukuman atas dosa-dosanya itu hingga kelak dibalas dengan sempurna di hari kiamat.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian yang dihadapi. Dan sungguh, apabila Allah menyayangi suatu kaum, maka Allah akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang ridha (menerima ketetapan itu), maka ia akan mendapatkan keridaan Allah. Namun, barang siapa yang membenci atau tidak terima, maka ia pun akan mendapatkan kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadis ini Hasan).

Fawaid Hadis

  1. Penentu segala peristiwa di jagat raya ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satu pun perkara yang terjadi melainkan melalui kehendak serta iradah-Nya.
  2. Manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan dan dosa; setiap orang pasti pernah melakukannya.
  3. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan menyegerakan balasan dosanya di dunia agar kelak di akhirat ia dalam keadaan bersih. Balasan tersebut bisa berupa ujian yang mengenai harta, keluarga, jiwa, maupun segala hal yang berkaitan dengan dirinya.
  4. Jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia akan membiarkan hamba tersebut terus bergelimang dosa namun tetap melimpahinya dengan berbagai kenikmatan. Akibatnya, si hamba menjadi semakin lalai dan tenggelam dalam kemaksiatan karena merasa tidak ada dampak buruk yang menimpanya di dunia. Seolah-olah, semakin banyak dosa yang dilakukan, justru hidupnya terasa semakin jaya. Padahal, itu adalah bentuk penangguhan, di mana balasan dan hukuman atas segala dosanya akan ditimpakan secara penuh di akhirat kelak.
  5. Semakin berat ujian yang menimpa seorang hamba, maka semakin besar pula pahala yang disediakan baginya—asalkan hamba tersebut mampu menerimanya dengan penuh kesabaran dan ihtisab (mengharap rida serta pahala dari Allah). Sebab, besarnya balasan selalu sebanding dengan besarnya pengorbanan dan ujian yang dilalui. ujian yang dilalui.
  6. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya. Jika hamba tersebut rida dengan ujian itu, maka Allah pun akan rida kepadanya. Namun, jika ia murka (tidak terima), maka Allah pun akan murka kepadanya.
  7. Hadis ini merupakan busyro (kabar gembira) bagi kaum muslimin, khususnya saat sedang tertimpa musibah.
  8. Tidak boleh berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagaimanapun beratnya ujian yang sedang kita hadapi.
  9. Hadis ini menjadi motivasi bagi kaum muslimin agar senantiasa bersabar saat tertimpa musibah, dalam bentuk apa pun itu.

Oke.

Turahmin, BA, M.H., S.Pd.
Bin Baz Pusat, Rabu, 08 Mei 2026.

1/258-259.

Tinggalkan komentar