Riyadhus Shalihin 13 #Taubat#

71 Pembaca

وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. سورة النور: 31

Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. QS: An-Nur: 31.

وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ. سورة هود: 3

Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. QS: Hud: 3.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ. سورة التحريم: 8

Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. QS: Hud: 8.

Fawaid Tentang Taubat

  1. Tobat wajib dilakukan atas setiap dosa yang dilakukan seseorang.
  2. Syarat tobat atas setiap dosa yang hanya berkaitan dengan hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada tiga: pertama, berhenti dari perbuatan maksiat tersebut, kedua, menyesali dosa yang telah dilakukan, dan ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi dosa itu selamanya. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka tobatnya tidak sah.
  3. Jika tobat itu atas dosa yang berkaitan dengan hak manusia (orang lain), maka ditambah satu syarat lagi, yaitu mengembalikan hak orang yang terzalimi itu. Rinciannya adalah: Jika berkaitan dengan harta, maka wajib mengembalikan harta yang diambil. Jika berkaitan dengan tuduhan dusta (atau ghibah), maka wajib meminta maaf secara langsung atau, jika tidak mampu, paling tidak kemudian menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang terzalimi tersebut di hadapan orang yang pernah mendengar tuduhan/ghibah itu.
  4. Tobat adalah kembali melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala setelah melakukan kemaksiatan.
  5. Tobat yang paling agung dan paling wajib adalah tobat dari kekafiran dan kembali kepada keimanan.
  6. Tingkatan tobat kedua adalah tobat dari dosa-dosa besar, dan tingkatan ketiga adalah tobat dari dosa-dosa kecil.
  7. Tobat wajib dilakukan dengan ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  8. Setiap umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mendapat peluang untuk diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan. Contohnya adalah orang yang berbuat dosa di malam hari, lalu keesokan harinya menceritakan dosa tersebut kepada orang lain, apalagi jika disertai rasa bangga ketika menceritakannya.
  9. Orang yang melakukan dosa yang memiliki hukum had diperbolehkan mendatangi hakim agar ditegakkan had atasnya. Namun, yang lebih utama adalah bertaubat dan merahasiakannya.
  10. Hukuman hadd (hukum pidana syariat) berfungsi sebagai kafarah (penghapus) dosa.
  11. Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Zat yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat.
  12. Taubat wajib dilakukan di waktu taubat itu masih diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika dilakukan di luar waktu tersebut, taubat tidak akan diterima, seperti ketika nyawa telah sampai di tenggorokan atau ketika matahari telah terbit dari barat.
  13. Perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang status taubat seseorang yang kembali melakukan dosa yang sama: Pendapat Pertama: Taubatnya diterima dari dosa yang telah dilakukan sebelumnya, dan ia mendapat dosa baru dari perbuatan dosa yang dilakukan kembali. Pendapat Kedua: Taubat tidak diterima jika yang bersangkutan masih mengulang-ulang dosa tersebut. Pendapat Ketiga (Dirinci): Taubat tidak diterima jika dosa yang dilakukan setelah taubat merupakan dosa yang sama. Namun, jika dosa yang dilakukan setelah taubat bukan merupakan dosa yang sama, maka taubatnya diterima.
  14. Wajib bertaubat dari seluruh dosa yang dilakukan, termasuk dosa tidak menundukkan pandangan.

Tinggalkan komentar