Semua kelompok Islam mengaku mengikuti al-Qur’an dan As-Sunnah tapi dalam masalah istidlal berbeda dengan Ahlussunnah wal jama’ah.
Ahlussunnah wal jama’ah benar-benar bersandar dengan al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman para salafushalih (para sahabat, tabi’in dan tahi’uttabi’in) dalam menetapkan asma dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala, metode ini tidak dimiliki kelompok-kelompok sempalan dalam Islam.
Kelompok-kelompok sempalan dalam Islam mereka menerima sebagian dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menolak sebagian lainnya.
Ahlussunnah wal jama’ah dalam menetapkan akidahnya berdasarkan al-Quran dan As-Sunnah lahir dan batin yaitu masalah ibadah (ta’abudiah) dan masalah keyakinan (i’tiqodi), semua yang ditunjukkan al-Quran dan As-Sunnah diikuti oleh Ahlussunnah wal jama’ah, diterima, diyakini dan didakwahkan, para salaf jika mengetahui sesuatu dari Rasulullah mereka melakukannya dan bersandar kepadanya, mereka mengikuti atsar para salafushalih dan Ushul ketiga memahami al-Quran dan As-Sunnah sesuai pemahaman para salafushalih.
Ahlussunnah wal jama’ah disebut Ahlussunnah wal jama’ah karena mereka mengikuti Sunnah dan bersatu di atasnya.
Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ merupakan landasan hukum yang dipegang Ahlussunnah wal jama’ah.
Ahlussunnah wal jama’ah dalam masalah suluk dan akhlak juga bersandar pada al-Qur’an dan As-Sunnah bukan hanya dalam masalah akidah bahkan dalam semua permasalahan semua bersandar kepada al-Quran dan as-Sunnah.
Al-Quran dan as-Sunnah meliputi akidah, ibadah akhlak dan muamalah baik yang lahir maupun yang batin.
Jangan sampai kita sebagai orang-orang yang mengaku Ahlussunnah waljama’ah hanya berpegang teguh dengan al-Quran dan as-Sunnah dalam masalah akidah tapi kita juga wajib berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah dalam masalah akhlak dan suluk serta dalam masalah muamalah.
Ahlussunnah wal jama’ah jangan sampai berakhlak buruk dalam bermujamalah dengan orang tua, tetangga teman dan lain-lain.
Kita wajib menyeimbangkan antara amalan hati dan amalan lahiriyah.