Tiga Landasan Utama 5 (Tsalatsatul Ushul)

115 Pembaca

Landasan Ketiga: Mengenal Nabimu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Landasan ketiga adalah mengenal Nabimu, Nabi Muhaamd shallallahu alaihi wa sallam beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim, dan Hasyim dari Quraisy, Qurais dari bangsa Arab, bangsa Arab dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim al-Khalil atasnya dan atas nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.

Beliau memiliki umur 63 tahun, empat puluh tahun sebelum di angkat menjadi nabi dan 23 tahun setelah diangkat menjadi nabi dan rasul. belia diangkat menjadi nabi dengan (diturunkan kepadanya) surat iqra’ dan diangkat mejadi rasul dengan (diturunkan kepadanya) surat al-Muddatsir. Negerinya adalah Mekah, Allah subhanahu wa ta’ala mengutusnya dengan (tugas) untuk memperingatkan dari kesyirikan dan untuk mengajak kepada tauhid, dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ – قُمْ فَأَنْذِرْ – وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ – وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ – وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ – وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ – وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ. سورة المدثر: 1-7

Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan! Tuhanmu, agungkanlah! Pakaianmu, bersihkanlah! Segala (perbuatan) yang keji, tinggalkanlah! Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! Karena Tuhanmu, bersabarlah! QS: Al-Muddatsir: 1-7.

Makna قُمْ فَأَنْذِرْ adalah Memperingatkan dari kesyirikan dan mengajak kepada tauhid, وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ artinya agungkanlah Tuhanmu dengan tauhid, وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ artinya sucikanlah-amalanmu dari kesyirikan, وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ, rujza adalah berhala, هَجْرُهَا artinya meninggalkan berhala dan para penyembahnya serta berlepas diri dari berhala itu dan para penyembahnya.

Beliau melakukan tugasi ini selama sepuluh tahun mengajak kepada tauhid, setelah sepuluh tahun kemudian beliau di mi’rajkan ke langit lalu diwajibkan shalat lima waktu, beliau menegakkan shalat selama tiga tahun di Mekah, kemudian setelah itu diperintahkan berhijrah ke Madinah.

HIjrah adalah berpindah dari negeri kesyirikan ke negeri islam, hijrah merupakan kewajiban umat ini (dengan) meninggalkan negeri kesyirikan ke negeri Islam, syari’at hijrah tetap berlaku hingga hari kiamat kelak, dalinya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا – إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا – فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا. سورة النساء: 97-99

Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi dirinya, mereka (malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah).” Mereka (malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di sana?” Maka, tempat mereka itu (neraka) Jahanam dan itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali, mereka yang tertindas dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. QS: AN-Nisa: 97-99.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ. سورة العنكبوت: 56

Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku itu luas, maka menyembahlah hanya kepada-Ku. QS: Al-Ankabut: 56.

Al-Baghawai rahimahullah berkata, sebab turunnya ayat ini mengenai orang-orang muslim yang tetap tinggal di Mekah yang tidak berhijrah, Allah subhanahu wa ta’ala menyeru mereka dengan sebutan iman.

Dalil hijrah dari sunnah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

لا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مغربها

“Hijrah tidak akan terputus hingga terputusnya taubat dan taubat tidak akan terputus hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya (barat).”

Setelah beliau menetap di Madinah kemudian diperintahkan kepadanya syari’at Islam yang lain seperti: zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf nahi mungkar, dan lain-lain yang merupakan syari’at Islam, beliau melaksanakan tugas ini selama sepuluh tahun. setelah itu beliau meninggal dunia dan agamanya tetap kekal, ini adalah agamanya, tidak ada kebaikan sedikitpun melainkan beliau menunjukkannya kepada umat ini dan tidak ada sedikitpun keburukan kecuali beliau peringatkan umat ini dari keburukan tersebut, kebaikan yang beliau tunjukkan adalah tauhid dan seluruh perkara yang dicintai dan diridhai Allah subhanahu wa ta’ala dan keburukan yang beliau peringatkan (agar tidak dilakukan) adalah kesyirikan dan semua perkara yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala, beliau diutus untuk seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada dua golongan jin dan manusia supaya taat kepadanya, dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا. سورة الأعراف: 158

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua.” QS: Al-A’raf: 158.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengannya, dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا. سورة: المائدة: 3

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. QS: Al-Maidah: 3.

Dalil yang menunjukkan kematiannya shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ – ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ. سورة الزمر: 30-31

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu.” QS: Az-Zumar: 30-31.

Manusia setelah kematiannya kelak akan dibangkitkan dari alam kuburnya, dalilnya firman ALlah subhanahu wa ta’ala,

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى. سورة طه: 55

Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain. QS: Thaha: 55.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا – ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا. سورة نوح: 17-18

Allah benar-benar menciptakanmu dari tanah. Kemudian, dia akan mengembalikanmu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkanmu (pada hari Kiamat) dengan pasti. QS: Nuh: 17-18.

Setelah dibangkitakan dari alam kuburnya mereka akan dihisab dan diberi ganjaran sesuai dengan amalan-amalan mereka, dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى. سورة النجم: 31

Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian,) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). QS: AN-Najm: 31.

Orang yang mengingkari hari kebangkitan kafir, dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. سورة التغابن: 7

Orang-orang yang kufur mengira bahwa sesungguhnya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti akan diberitakan apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu mudah bagi Allah. QS: At-Taghabun: 7.

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul agar mereka memberikan kabar gembira dan memperingatkan dari kesyirikan, dalilnya fieman Allah subhanahu wa ta’ala,

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ. سورة النساء: 165

(Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus). QS: An-nisa: 165.

Rasul pertama Nabi Nuh ‘alaihissalam dan rasul terakhir Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beliau sebagai penutup para nabi, dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama nabi Nuh ‘alaihissalam adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ. سورة النساء: 163

Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. QS: An-Nisa: 163.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menutus pada setiap umat seorang rasul, dari nabi Nuh ‘alaihissalam sampai Nabi Muhamamd shallallahu ‘alaihi wa sallam semua memerintahkan mereka supaya hanya beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka dari beribadah kepada thaghut. dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ. سورة النحل: 36

Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”

Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan seluruh hamba-Nya agar kafir (mengingkari) thaghut dan hanya beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Makna thaghut adalah apa yang diperlakukan secara melampaui batas oleh seorang hamba baik diibadahi, diikuti, ataupun ditaati, thaghut (jumlahnya), gembongnya ada lima, iblis semoga laknat Allah senantiasa menimpanya, orang yang disembah dan dia rihda, orang yang menyeru orang lain agar beribadah kepadanya, orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib, dan orang yang berhukum dengan hukum selain hukum yang telah diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala, dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. سورة البقرة: 256

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS: Al-baqarah: 256.

Inilah makna laa ilaaha illallah, dalam hadis (disebutkan),

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامِ وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Pokok dari perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”

Wallahu A’lam.

الكتاب: ثلاثة الأصول وأدلتها – وشروط الصلاة – والقواعد الأربع

المؤلف: محمد بن عبد الوهاب بن سليمان التميمي النجدي (ت 1206هـ)

الناشر: وزارة الشئون الإسلامية والأوقاف والدعوة والإرشاد – المملكة العربية السعودية

رقم الطبعة: الأولى، 1421هـ

الصفحات: 48

عدد الصفحات: 47

[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]

تاريخ النشر بالشاملة: 8 ذو الحجة 1431

Selesai alih bahas tsalatsatul Ushul.

Alih Bahasa: Turahmin, BA, S.Pd, M.H.

Bin Baz, Piyungan, Bantul, 26 September 2025. 09.50.

Tinggalkan komentar