AGAR DOAMU TERKABUL

23 Pembaca


بسم الله الرحمن الجحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى ٱله وصحبه ومن والاه. أما بعد

Bagaimana cara agar doa kita terkabulkan?

Doa merupakan sesuatu yang sangat penting bahkan menjadi inti ibadah. dan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri memerintahkan kita supaya berdoa kepada-Nya dan berjanji akan mengabulkan doa kita itu, serta mengancam orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya dengan ancaman yang sangat menakutkan yaitu neraka Jahanam. Allah berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ. غافر: 60

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” Ghafir: 60.

Kita harus selalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan apa pun yang kita butuhkan hendaknya kita berdoa kepada-Nya, karena Allah subhanahu wa ta’ala paling senang dengan orang yang mau berdoa kepada-Nya dan akan lebih senang lagi jika orang tersebut semakin banyak berdoa kepada-Nya. demikian juga sebaliknya Allah subhanahu wa ta’ala membenci orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya, bahkan Allah menganggap orang seperti itu sebagai orang yang sombong dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam.

Bagaimana supaya doa kita dikabulkan?

Berikut ini akan ana sampaikan trik-trik supaya doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, trik-trik ini ana ambilkan dari fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah di https://binbaz.org.sa/fatwas/14880/اسباب-اجابة-الدعاء-وافضل-اوقاته, ana ambilkan poin-poin pentingnya kemudian ana kembangkan sendiri, jadi ini bukan merupakan terjemahan dari fatwa beliau.

Agar doa kita diijabahi oleh ALlah subhanahu wa ta’ala kita hendaknya melakukan hal-hal berikut ini:

Pertama: Ikhlas ketika berdoa

Ikhlas merupakan pokok dasar dalam segala macam ibadah, ibadah apa pun wajib di dasari dengan niat ikhlas hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala bukan karena yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menyampaikan bahwa setiap amalan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai niat yang ada di dalam hatinya, beliau bersabda,

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال، سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول، إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله،  ومن كانت هجرته للدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه. رواه البخاري ومسلم

Dari Amirul mukminin Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niat-niatnya dan setiap orang akan mendapat (pahala) sesuai apa yang menjadi niatnya, barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-nya, namun barangsiapa yang hijrahnya itu kepada dunia atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ia yang ia hijrahi.” HR: Bukhori dan Muslim.

Termasuk dalam berdoa kita wajib mengikhlaskan niat doa tersebut hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala semata bukan karena selainnya. Dengan kita ikhlas dalam berdoa insyaallah doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana janji Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niat yang ada di dalam hatinya.

Kedua: Merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala

Manusia adalah makhluk yang lemah, bahkan sangat lemah, apa yang bisa kita banggakan, kekuatan apa yang kita miliki, kita tidak punya kekuatan apa-apa semua Allah yang memberi, tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala لا حول ولا قوة إلا بالله.

Jadi, ketika kita berdoa agar doa kita dikabulkan oleh Allah subhnahu wa ta’ala kita harus merendahkan diri kita di hadapan-Nya serendah-rendahnya, tunjukkan bahwa kita benar-benar membutuhkan pertolongan dari-Nya, kita membutuhkan-Nya dan kita tidak mampu melakukan apa-apa tanpa pertolongan dari-Nya. jangan sampai kita berdoa kemudian kita nggeleleng (sombong), merasa tidak butuh, merasa kuat, merasa hebat dan merasa tinggi hati. tidak boleh seperti itu, kalau kita sudah memiliki sifat seperti itu jangan harap doa kita akan dikabulkan. Andai kata doa kita dikabulkan pun itu merupakan bentuk istidroj dari Allah subhanahu wa ta’ala. ingatlah selalu ayat berikut ini,

اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Kita tidak boleh merasa tidak butuh, merasa kuat, merasa hebat dan merasa tinggi hati ketika berdoa kita harus merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala ketika berdoa.

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” QS: Al-A’rof: 55.

Ketiga: Menghadirkan hati ketika berdoa kepada-Nya

Poin ketiga ini sangat penting, ketika kita berdoa kita harus menghadirkan hati kita, kita pahami apa yang kita minta dari Allah subhanahu wa ta’ala, jangan sampai kita minta A tapi pikiran kita mengarah ke B, atau justru pikiran kita ke mana-mana, nggak jelas, sama sekali tidak memikirkan apa yang kita minta itu. kalau seperti ini bagaimana doa kita akan dikabulkan.

Coba lihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika berdoa, beliau berdoa dengan khusu’ dan menghadirkan hati, beliau paham betul apa yang beliau minta kata demi kata. Beliau hadirkan betul-betul hatinya ketika itu, hatinya tidak nglambyar ke mana-mana tapi fokus dengan doa yang dipanjatkan hati hadir bersama lantunan doa-doa yang dipanjatkan tersebut.

Ketika berdoa antara hati dan lisan harus sama, tidak boleh berbeda, agar doa kita dikabulkan. Dalam sebuah hadis disebutkan,

 عن أبي هريرة -رضي الله تعالى عنهُ- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم: “ادْعُوا اللَّهَ وَأنْتُمْ موقون بالإِجابَةِ، وَاعْلَمُوا أنَّ اللَّه تَعالى لا يَسْتَجِيبُ دُعاءَ مِنْ قلبٍ غافلٍ لاهٍ” إسنادهُ فيه ضعفٍ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berdoalah kepada Allah dan kamu merasa yakin (doamu) akan dikabulkan dan ketahuilah bahwa Allah ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak fokus.” Sanad hadis ini dhaif.

Keempat: Meninggalkan perbuatan maksiat

Kemaksiatan merupakan penghalang terkabulnya doa, oleh karena itu hendaknya kita meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat agar doa kita dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kelima: Meninggalkan makanan yang haram


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah adalah Zat yang Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik, sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan kepada para Rasul, Allah berfirman, ‘Wahai para rasul makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ QS: Al-Mukminun: 51, dan berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah kalian dari rizki yang baik-baik yang telah Aku rizkikan kepada kalian.’ QS: Albaqarah: 172. kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang telah melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan kotor lalu dia menegadahkan kedua tangannya ke langit. seraya berdoa, Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku.’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haran dan kenyang dengan sesuatu yang haram. lalu bagaimana doanya akan dikabulkan?” HR: Muslim.

Keenam: Memanfaatkan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa

Ini penting untuk diperhatikan, salah satu sebab doa kita dikabulkan adalah memilih waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa, seperti, waktu antara azan dan iqomah, ketika tengah malam, ketika akhir malam, ketika sujud, ketika khatib Jumat didik di antara dua khutbah, Ketika duduk tahiyat akhir sebelum salam, setelah sahalat Asar hingga Maghrib di hari Jumat, Ketika turun hujan ketika safar dll yang merupakan waktu-waktu mustajab untuk berdoa.

Insyaallah dengan kita memanfaatkan waktu-waktu tersebut doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Abu Layla Turahmin, M.H.

Bin Baz Pusat, Ahad, 16 Maret 2025. 14.37.

Telah disampaikan di:

Masjid Al-Ihwan Bantul Pengajian buka bersama.

Masjid Mujahidin Muja Muju, pengajian buka bersama.

Masjid Ar-Royan, Ironayan untuk materi khutbah Jumat.

Tinggalkan komentar